Indira benar-benar tak menduga akan menerima kejutan. Apakah Dewi sengaja menyuruh Meta datang sekaligus ingin mengujinya? Tapi sepertinya itu tak mungkin, karena beberapa menit kemudian Dewi datang dengan wajah sama bingungnya.
Dia sudah di sini. Tak ada waktu untuk mengalah atau bahkan mundur. Mau tak mau dia harus menghadapi Meta.
Indira sempat melirik Yasa yang terpaku. Lelaki itu seperti tengah terperangkap, padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Kentara sekali lelaki itu tak nyaman melihat mantan dan calon istrinya berada di ruangan yang sama. Berbeda dengan beberapa waktu lalu, yang terang-terangan lebih melindungi Meta. Indira tersenyum dalam hati, rupanya Yasa sudah mulai masuk perangkap.
“Sayang….”
Telinga Indira terasa gatal mendengar nada mengalun sok lembut itu. Suara halus yang berganti setajam pisau jika berbicara padanya. Benar-benar berlidah dua.
“Wah, ada Meta juga.” Suara Dewi memecah perhatian Meta dan Indira. “Kebetulan kamu ada di sini. Kita makan siang bareng, yuk?”
Dewi berjalan pelan menuju dapur, tak menggubris wajah Meta yang menekuk. Indira hanya menatap calon ibu dan anak itu bergantian. Menimbang-nimbang langkah apa yang akan dia ambil setelah ini.
“Indi bantu ya, Bu?” Indira memutuskan menjauh sementara, sambil menyiapkan amunisi. Mendekat ke Dewi dan mengambil hati mantan ibu mertuanya. Lagi pula, dia tak sudi menjadi obat nyamuk.
“Oh, kamu bawa panci itu ke meja. Biar Ibu lihat dulu nasinya.”
Indira membawa panci ke meja sesuai instruksi Dewi. Dia sempat melirik Meta yang hanya menatapnya dan tak beranjak dari tempatnya berdiri sejak tadi.
“Nasinya sudah siap. Ayo makan siang dulu. Yasa, Meta!”
Meta tersenyum membalas ajakan Dewi. Dia mendekat ke Yasa dan meraih lengan lelaki itu.
“Jadi ini, alasanmu tidak masuk kerja?” bisik Meta tepat ketika dia mendaratkan bibirnya ke pipi Yasa.
“Aku tak tahu dia datang.” Yasa berdiri tanpa melepas tangan Meta. Mereka berjalan menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur.
“Oh, iya, Bu. Meta bawa ikan bakar kesukaan Yasa. Mau dimakan sekalian?” Meta meletakkan bingkisan persegi di atas meja. Tangannya yang sedari tadi mengamit lengan Yasa dia lepaskan untuk membuka makanan yang dia bawa. “Aku belinya di langganan yang Ibu bilang waktu itu.”
Dewi tak dapat menutupi raut bahagia, sekilas dia menatap Meta dan mengucapkan terima kasih. Mereka duduk saling menghadap. Dengan Indira di sebelah Dewi dan Yasa bersebelahan dengan Meta. Dewi yang duduk tepat di hadapan Yasa, menatap anak lelakinya penuh selidik. Tapi tak menemukan apa pun.
“Aroma sotonya segar sekali. Hmmm…” Dewi menghidu aroma soto yang mengepul dari mangkoknya. Dia menaburkan daun bawang dan bawang goreng yang semakin membuat perutnya meronta. Tak lupa dia memberi perasan jeruk nipis yang seketika membuat liurnya menetes.
“Ayo makan. Ibu sudah lapar sekali.”
Indira tak segera mengambil nasi, dia hanya meneguk air putih dan mengangguk pelan. Sedangkan Meta mulai mengambil nasi dan ikan bakar untuk Yasa. Melihat bagaimana perempuan itu melayani Yasa membuat dadanya berdesir. Ada yang sakit tapi tak terluka.
“Mau pakai tangan atau sendok, Sayang?”
Yasa hanya menatap makanan di depannya, dia mengambil sendok dan menyantapnya dalam diam.
“Sotonya enak sekali.”
Indira mengambil sedikit nasi setelah Meta. Tentu dia tak akan memilih ikan bakar yang katanya enak. Soto buatannya memang hanya menu biasa tapi jelas lebih menggoda. Mereka makan dalam hening, seperti sangat menikmati. Yasa dan Dewi menyelesaikan makanannya terlebih dahulu. Berbeda dengan Dewi yang segera membalik sendoknya. Yasa justru mengambil mangkuk dan mengisinya dengan soto.
“Kamu lapar, Sayang? Tumben nambah?” Meta menyingkirkan piring bekas Yasa. Dan membantu mengambilkan kerupuk.
“Soto buatan Indira tak bisa ditolak, Ta. Coba kamu cicipi juga. Makan soto di siang hari saat cuaca cerah begini sangat pas sekali.”
Tangan Meta berhenti di udara ketika hendak menyuap nasi. Dia melirik Yasa yang masih lahap menyantap soto. Padahal ini piring kedua dan lelaki itu seperti masih kelaparan.
“Meta sudah kenyang.”
Apa pengaruh Indira masih begitu kuat? Meta bertanya dalam hati. Dia menatap Indira yang makan perlahan sambil menunduk. Sama sekali tak terlihat cemburu melihat dia bermesraan dengan Yasa. Meta penasaran, apa tujuan Indira kemari.
Setelah selesai makan Dewi membereskan meja dibantu Indira dan Meta. Saat akan mencuci bekas makan mereka, Indira menyuruhnya duduk saja.
“Ibu tadi sudah menyiapkan, biar Indi yang sekarang membereskan.”
Dewi memberikan senyumnya lalu mengangguk. “Kamu memang pengertian.”
“Ibu mau teh hijau? Biar Meta buatkan.”
Dewi menggeleng pelan. “Perut Ibu sudah penuh. Sepertinya duduk sebentar di depan televisi sangat cocok. Ibu tinggal dulu, ya?”
Indira tetap meneruskan mencuci gelas dan mangkuknya, tak menganggap kehadiran Meta. Sedangkan perempuan itu hilir-mudik membereskan meja dan menumpuk piring kotor di sebelah Indira.
“Ada nyali juga kamu ke sini.”
Sudah Indira duga, Meta akan mengeluarkan sosok aslinya jika hanya berdua dengannya. Perempuan itu seperti memilik dendam terselubung yang Indira sendiri tak tahu salahnya di mana. Bahkan dari dulu hingga detik ini, Meta masih membencinya. Maka tak salah jika Indira juga memelihara dendam dan benci yang sama.
“Bukan urusanmu.”
“Tentu jadi urusanku. Ini rumah Yasa, calon suamiku. Kamu berniat menggodanya lagi? Jangan mimpi! Dia tak akan sudi kembali padamu.”
“Kamu yakin sekali?” Indira mengusap tangannya yang basah dengan tisu.
“Sepertinya perlu kuingatkan, bagaimana malam-malam panas kami selama ini.”
“Oh, ya?”
Meta menggigit giginya kuat, melihat Indira masih santai mendengar segala bualannya. Tapi bukan Meta Cantika namanya, jika dia tak bisa membuat lawannya mundur. Meta mendekat hendak mencuci tangan.
“Yasa pernah bilang, dia tak puas tidur denganmu.” Bisik Meta tepat di telinga Indira.
Dada Indira bergemuruh, dia paling benci jika dibanding-bandingkan. Tapi Indira harus tetap terlihat tenang. Harga dirinya tak ingin terjual murah lagi.
“Benar, kah?”
Meta mengerjap, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Indira masih bisa menanggapinya dengan sesantai ini. Meta menyipitkan mata, menatap Indira dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Tak ada yang berubah dari perempuan yang menjadi mantan calon suaminya. Masih tampak kurus dan menyedihkan.
“Apa selama menjadi istrinya kamu tak merasakan?”
Indira seperti terlempar ke masa lalu. Dipaksa mengingat kenangan yang dia buang. Malam-malam panjangnya bersama Yasa terasa indah, sebelum kehadiran Meta. Ah, Indira tak lagi bisa mengingat setelahnya. Terlalu baik mengangkat kenangan buruk ke permukaan. Dia tak sudi.
“Kupikir kamu lebih mengenalnya.” Indira melihat tumpukan piring dan gelas bersih. “Pekerjaanku sudah selesai, apakah yang ingin kamu bicarakan juga sudah selesai?”
“Wah, kalian sudah selesai rupanya.” Dewi berseru sambil mendekati mantan dan calon menantunya yang berdiri sangat dekat. Dia tak tahu apa yang terjadi di antara mereka.
“Bu, terima kasih sudah mengajakku makan siang. Senang bisa bertemu dengan Ibu tapi aku harus pulang.”
“Indira, Ibu bahkan belum sempat mengobrol banyak hal denganmu.” Dewi mendekat dan mengusap bahu Indira.
“Tidak apa-apa, bisa lain waktu.” Indira memeluk Dewi dan mencium pipinya.
“Kamu benar. Kalau begitu datang lah kalau kamu ada waktu. Ngomong-ngomong, Ibu juga masih kangen dengan masakanmu.”
Kedua pupil Meta melebar dengan bibirnya yang nyaris terbuka. Indira menatapnya dengan mengedipkan sebelah mata.
“Tentu, Bu.”
***
Rabu, 17 Agustus 2022
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
