Meta berjalan mondar-mandir di kamarnya. Setelah pamit pada Dewi sekitar satu jam kepergian Indira, Meta pulang ke rumahnya. Dia tak lagi bisa berkonsentrasi bekerja. Terlebih Yasa juga mendiamkannya selama ada Indira bersama mereka.
Perempuan itu, Meta mengingat wajah polos Indira yang memendam amarah tapi tak bisa melakukan apa-apa. Sungguh enak digoda. Tapi sekarang perempuan itu sudah berubah. Meta tahu, mempermainkan Indira tak segampang dulu. Kini dia harus memikirkan cara lain. Indira sepertinya tak mempan dengan gertakan.
Bukan salahnya menyuruh perempuan itu menjauh dari Yasa. Meta hanya tidak suka perhatian Yasa direbut Indira. Yasa adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, seiring perasaan yang berubah. Meta tahu Yasa remaja, sudah tak memandangnya sebagai gadis kecil yang butuh perlindungan. Perasaannya juga berkata demikian, tapi dia tak pernah menanggapi hatinya. Meta terlalu fokus dengan pacar-pacarnya yang silih berganti. Dan menjadikan Yasa hanya sebagai teman.
Setelah bertemu Bram, Meta semakin menjauhi Yasa karena lelaki itu tak begitu menyukai Bram. Katanya, Bram memiliki tempramen buruk. Meta tak peduli, Bram jauh lebih tampan dan kaya, juga begitu memanjakannya. Dan Meta baru bisa mempercayai ucapan Yasa setelah bertahun-tahun menikah dengan Bram.
Sebenarnya Meta tak berniat merebut Yasa. Tapi melihat bagaimana lelaki itu memuja Indira, perasaan cemburu tiba-tiba menyelinap. Dia baru kembali ke kota ini setelah jiwa raganya lelah menerima perlakuan kasar Bram. Tak sengaja bertemu di sebuah kedai mi yang ternyata adalah milik lelaki itu. Pertemuan demi pertemuan selanjutnya terjadi. Dari pertemuan itu lah dia bisa tahu bagaimana Yasa memperlakukan istrinya, membuat jiwa cemburu Meta tersentil.
Dia pernah mendapat kasih sayang Yasa bertahun-tahun lamanya. Yang selalu dia abaikan. Kini dia tak bisa melihat Yasa memberikannya pada perempuan lain, terlebih dengan kondisinya yang sekarang jauh dari kata bahagia. Meta menceburkan diri menyelami lautan Yasa dan Indira. Dengan menaruh harga dirinya yang paling rendah, Meta mengemis belas kasihan Yasa. Menggunakan Bram sebagai alasan sekaligus agar terlepas dari jerat luka lelaki itu.
“Yasa sebentar lagi akan jadi milikku. Tak peduli seberapa keras usahamu untuk merebutnya, kamu tak akan berhasil, Indira. Karena aku lah satu-satunya perempuan yang ada di masa lalu dan masa depannya.”
-o0o-
Februari sudah mengintip. Disambut guyuran hujan yang belum pergi seakan tak ingin melepas kenangan bersama Januari. Sudah dua hari Indira hanya mengurung diri di rumah. Dia tak ingin ke mana-mana dan tak tahu akan ke mana. Belum genap sepuluh hari tinggal di sini, dia sudah dilanda bosan.
Pertemuan dengan Yasa di rumah Dewi tak membawa apa-apa. Indira masih belum bisa memastikan apa yang akan dia lakukan. Dia benar-benar bingung, bagaimana caranya agar bisa bertemu kembali.
Indira meraih ponsel dan membuka akun sosial media yang jarang dia aktifkan. Tak ada berita atau kabar yang menarik perhatiannya, dia menutup ponselnya kembali. Iseng dia mencoba mengetik nomor seseorang yang sudah lama dia hapus.
Terhubung.
Indira mengerjap memastikan matanya tak salah memindai. Nomor ponsel Yasa masih sama. Bahkan tak memblokirnya. Sebuah tamparan keras terasa nyeri di dada. Dia sendiri demi melupakan kenangan, menghapus semua yang berhubungan dengan lelaki itu.
“Halo, ada apa, Ndi?”
Indira gelagapan ketika suara Yasa lembut menyapa. Dia menggigit bibir, tak tahu harus berkata apa. Keisengannya sudah menjerumuskan dalam masalah baru. Mau tak mau kini Indira harus menyelami masalah yang dia ciptakan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya mengingatkan, kapan baju-bajumu diambil? Atau perlu aku yang membawa ke rumah Ibu?”
Hanya helan napas yang Indira dengar.
“Akan segera kuambil.”
“Baiklah. Sampai jumpa.”
Mata Indira merapat ketika dia mengembuskan udara melalui bibir. Dulu, dia tak akan mau menjadi ikan asin untuk mengundang kucing mendekatinya. Tapi kini?
Sudah tak ada lagi selamat tinggal.
Indira menekuk lehernya ke kanan dan ke kiri, tubuhnya yang kaku dia rentangkan. Masih siang tapi hujan membuatnya bermalas-malasan. Dia segera meninggalkan kasur dan mulai menggerakkan tubuh.
“Kebersihan rumah dimulai dari kamar.” Serunya sambil melipat selimut. Tak ada yang akan menilai, tapi seruan Yasa di telepon seperti sebuah vitamin. Dia memang tak akan menjual diri, tapi dia juga tak ingin Yasa menilainya cukup buruk.
Seluruh rumah sudah bersih tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Yasa. Hingga matahari benar-benar kehabisan waktu pun lelaki itu masih belum muncul. Sepertinya dia terlalu berharap. Atau terlalu yakin? Memangnya sekarang apa arti dia bagi Yasa? Sama sepertinya, Yasa sudah bukan siapa-siapanya.
Sepertinya Indira lupa akan hal itu.
Selepas makan malam yang dia beli di abang jualan keliling, Indira segera mengunci pintu gerbang. Kilat memecah gelapnya malam diiringi hentakan angin yang menusuk tulang. Tepat ketika Indira tiba di teras, hujan turun sangat lebat. Indira terpaku menatap tirai hujan yang meliuk tertiup angin.
Suara klakson mobil membuat Indira menajamkan matanya.
Tak mungkin dia, kan?
Apa pun pertanyaan yang ada di kepalanya, tak membuat Indira segera mencari tahu.
“Indira!” samar suara teriakan Yasa membaur dengan rinai hujan. Bergegas Indira mencari payung di dapur.
“Kamu … kenapa hujan-hujan ke sini?” Indira membuka pintu gerbang dan menemukan Yasa yang duduk di dalam mobil tengah menatapnya.
“Buka dulu gerbangnya.”
Indira segera membuka lebar gerbang rumahnya agar mobil Yasa dapat leluasa masuk. Juga menutupnya kembali demi keamanan. Hujan masih deras, dia tak ingin ada pencuri yang tiba-tiba menyelinap.
Mereka berdiri di teras dengan pakaian yang sedikit basah. Indira tak sempat berbagi payung karena Yasa segera berlari menuju teras begitu dia memarkirkan mobil.
“Aku buatkan teh. Masuk lah.”
Yasa mengikuti langkah Indira lalu berdiri di ruang tamu dengan canggung. Menunggu perempuan itu yang sibuk di dapur. Sekitar lima menit kmudian, Indira kembali dengan segelas teh.
“Kenapa masih berdiri? Oh, mau langsung packing?”
Yasa tak menjawab, dia mengambil teh dari tangan Indira dan menyesapnya.
“Pakaianku basah.”
“Mau kuambilkan handuk?”
“Boleh.”
Indira pergi mengambil handuk ke lantai dua. Dia sudah menaiki beberapa anak tangga, lalu berhenti dan menoleh padanya.
“Handukmu yang lama ada di kamar atas begitu juga baju gantimu. Kenapa tidak sekalian kamu naik?”
“Aku tak perlu mengganti bajuku. Masih cukup kering, kok.”
Indira menghela napas, kedua bahunya terkulai lemah.
“Kalau kamu masuk angin, atau mungkin pilek, nanti malah repot.”
Yasa berpikir sejenak, lalu menyusul langkah Indira. Kali ini dia mengalah, karena Indira benar. Mantan istrinya ternyata masih mengingat kelemahannya.
“Silakan, kamu masih ingat di mana letaknya, kan?”
“Kamu tidak masuk?”
Langkah Indira memangkas jarak, dia menyentuh pipi Yasa lembut.
“Pipimu dingin, Mas. Apa perlu dihangatkan?”
Wajah Yasa memerah. Matanya tajam menjelajahi wajah Indira yang entah mengapa malam ini begitu cantik.
“Segeralah mandi air hangat dan ganti bajumu. Kalau perlu sesuatu panggil aku. Aku akan menunggu di kamarnya Janu.”
Indira tersenyum dan menepuk pelan pipi Yasa, lalu pergi memasuki pintu di sampingnya. Dalam hati Indira bertanya, apakah yang diharapkan lelaki itu darinya?
o0o
Jum'at, 26 Agustus 2022
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomancePertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
