Indira menahan kakinya yang bergetar. Tubuhnya bagai mengambang di udara. Kata demi kata yang berirama dari bibir Yasa menyentil jantungnya. Menarik pembuluh darah, menguras napasnya. Sebuah kenyataan yang baru dia ketahui malam ini seperti menariknya dari kubangan luka. Semuanya menjadi berbeda di matanya.
Lelaki di hadapannya itu juga bahagia saat tahu Janu ada di dalam rahimnya. Selama ini dia berpikir jika Yasa tak menginginkan anaknya tumbuh. Karena Janu hadir di saat mereka sedang menghadapi api masalah. Percikan amarah seakan tak henti mengobarkan pertengkaran.
"Demi kesehatanmu, aku mengalah. Sebisa mungkin tak membuat emosi menaungi kepalamu. Bahkan aku menekan hasratku untuk merasakan tendangan anak kita." Yasa mengambil sebuah baju bayi berlengan panjang berwarna abu-abu. Dulu dia tak memikirkan apa jenis kelamin anaknya, dia hanya mengikuti kata hatinya. Memilih apa yang dia suka pada pandangan pertama.
Masih terasa bagaimana dia menahan rindu untuk merasakan apa yang calon ayah lain rasakan. Mengusap perut besar sang istri dan merasakan gerakan lembut bahkan terkadang kuat. Semua itu hanyalah menyisakan rindu yang tak pernah selesai. Tak ada dalam angannya kehilangan momen yang paling dia nantikan. Dan kini dia sudah kehilangan itu semua.
Yasa menarik udara memenuhi dadanya. Ada ruang yang awalnya sesak kini menjadi sedikit lapang. Segala yang dia pendam telah dia keluarkan. Meski di saat yang tak tepat, tapi dia tahu, tidak ada yang terlambat. Setidaknya, dia bisa melangkah tanpa beban di dadanya.
"Kamu tahu, Ndi? Betapa aku ingin merasakan, menyentuhnya saat dia masih bergerak." Suara Yasa bergetar. Bayangan wajah Janu yang terpejam tanpa gerakan di dadanya, menarik air matanya keluar.
Begitu pun Indira. Mata bening itu berkaca, tak sanggup menegakkan kepala. Beberapa helai rambut yang keluar dari ikatan terjuntai menyentuh pipi. Deru napasnya terdengar lirih, tubuh ringkih itu terlihat goyah.
"Tapi semua yang kulakukan, selalu salah di matamu. Apa yang keluar dari bibirku selalu menyulut emosimu. Lalu bagaimana aku bisa leluasa memberikan semua ini? Kamu bahkan tak pernah melihat dari sisiku."
Yasa mengembalikan baju bayi yang dia genggam ke dalam lemari. Menatap penuh rindu tumpukan pakaian yang dia beli belasan bulan yang lalu. Pakaian yang dia harapkan bisa dipakai oleh Janu, kini hanyalah sebuah harapan usang.
Dada Indira semakin bertalu, seiring dentuman yang menciptakan nyeri yang berdenyut cepat. Napasnya sesak, seperti ada gumpalan yang tak bisa dikeluarkan. Raganya sakit begitu pula jiwanya.
Di kepalanya terbayang bagaimana Yasa melihatnya dari jauh. Memendam rindu yang sama tapi tak pernah saling menautkan rindu pada ikatan yang sama. Memiliki asa yang sama, tapi tak pernah berjalan beriringan meraihnya. Indira terpejam ketika bayangan Yasa yang sedang mencumbu Meta melesak begitu saja. Membuat segala hal yang menjadi beban rasa bersalahnya buyar sudah.
"Tapi kamu... selalu mendahulukan dia daripada aku. Bagaimana aku tak kecewa?" Indira menatap Yasa yang terduduk lemah di ranjang yang berada di depan lemari. Lelaki itu sama kusutnya dengannya. Mereka seperti sedang menghadapi hukuman bersama.
Yasa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah bosan mendengar alasan Indira yang sama berulang kali.
"Situasinya berbeda, Ndi. Coba sesekali kamu melihat dari sudut pandangku. Mengerti bagaimana posisiku. Aku hanya membantu Meta keluar dari siksaan Bram. Apa itu salah?"
Indira menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.
"Kamu enggak salah. Tapi caramu yang salah." Indira menatap Yasa dengan kobaran api di matanya. "Kamu tak bisa membagi waktu dan memilih mana yang harus kamu utamakan. Coba tanya ke semua perempuan di luar sana, apakah aku salah? Enggak ada yang mau diduakan oleh suaminya sendiri, bahkan dengan seseorang yang hanya menyandang kata sahabat."
Yasa menatap Indira tak mengerti. Bagaimana bisa perempuan itu memandang pertolongannya tak lebih penting?
"Kamu tak memiliki empati sesama wanita? Kamu tahu bagaimana rumitnya masalah Meta, kan? Dia mendapat kekerasan, diteror suaminya sendiri, bahkan dihalangi bertemu anaknya. Apakah kamu tidak belajar memahaminya walau sedikit?"
Kedua manik legam Indira mulai bercermin. Buru-buru dia memejam dan menarik napas panjang lagi.
"Apa pun itu. Tak seharusnya dia merebut semua perhatianmu. Dia harusnya sadar diri, kamu sudah menikah. Bukan lagi pria lajang yang bisa sesuka hatinya kesana-kemari. Ada hati yang harus dijaga. Ada rumah untuknya pulang."
Yasa tak lagi menyahut. Semua yang dikatakan Indira benar, tapi dia juga tak sepenuhnya benar. Jika saja saat itu Indira mau mengerti, setidaknya mau mendengar keluh kesahnya, mungkin jalan ceritanya akan lain.
"Kalau rumah tak lagi bisa menjadi tempat meletakkan hati, apakah masih pantas aku pulang ke sana?"
Indira mengernyit mencoba memahami maksud Yasa. Tapi di kepalanya tak menemukan apa pun.
"Apa maksudmu?" Tanya Indira tak mengerti. Dia mundur beberapa langkah dan duduk di pinggir ranjang.
Yasa masih bertahan dengan duduknya. Berdekatan dengan Indira membuat hatinya tak bisa tenang. Tangannya meraba-raba ranjang di sebelahnya. Dia menemukan sebuah topi bayi di bawah bantal dan menggenggamnya erat. Keningnya mengernyit saat menggali sebuah kenangan.
Dia akhirnya ingat selalu memeluk topi itu dalam tidurnya. Topi mungil yang menemani malamnya dalam menggenggam rindu yang tak sampai. Dia mengusap permukaan topi yang terbuat dari benang wol dengan pelan seperti menikmati setiap tekstur yang terjalin indah. Warna cokelat muda mendominasi bagian atas topi.
Malam semakin larut, tapi keduanya belum menyadari jika waktu telah banyak berlalu. Mereka sibuk mengurai masa lalu, membuka jalinan kisah yang rumit. Tapi belum menemukan cara untuk menyudahi jalinan yang tak akan bisa terurai.
Yasa meraup udara memenuhi dadanya yang sesak. "Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku hanya ingin menemukan ketenangan di rumah ini. Sayangnya rumah yang dulu kukenal sudah berubah. Tak bisa lagi menjadi penenang saat aku gelisah. Tak ada ketenangan yang ditawarkan. Semuanya hilang begitu saja, berganti pengap yang menyiksa. Aku hanya ingin menganggapmu rumah, tapi kamu justru mengunci pintunya. Bahkan tak ada celah untukku mengintip."
Kepala Indira terangkat, wajahnya tersentak menatap Yasa tak percaya. Lelaki di hadapannya melimpahkan semua kesalahan padanya. Indira tak terima. Membuat Yasa menyadari kesalahannya ternyata jauh lebih sulit daripada membuatnya menyesal.
"Apa hanya itu yang ada di kepalamu? Kamu bahkan tak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Meta sungguh telah membuatmu berubah." Indira bangkit dan meraih pintu, tapi tubuhnya tertahan oleh genggaman Yasa di tangan kirinya.
"Ada apa lagi? Mau menyalahkanku lagi?" tantang Indira penuh amarah. Awalnya dia tersentuh karena ternyata Yasa juga menginginkan Janu. Tapi mendengar alasan lelaki itu yang berujung menyakiti hatinya, membuat Indira tak lagi menaruh simpati.
"Kapan rasa cemburumu berakhir? Bahkan saat kamu tak lagi menjadi istriku pun, perasaan itu masih ada. Kamu masih mencintaiku, Indira?"
-o0o-
Menurut kalian, Indira masih cinta, nggak sih?
Senin 17 Oktober 2022
Luv
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
Roman d'amourPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
