“Apa aku terlambat?”
Langkah Yasa terhenti di depan pintu, ketika menyadari gulungan karpet yang menumpuk di sebelah pintu. Keraguan mulai melanda meski sebelumnya dia yakin ingin datang. Tak jauh darinya, Indira duduk di sofa dengan tubuh bersandar. Perempuan itu pasti sangat lelah menyiapkan acara ini sendirian.
“Masuk lah.” Indira berdiri dengan canggung. Dia hanya menatap dalam keterkejutannya langkah Yasa yang semakin mendekat. “Mau minum sesuatu?”
Sebagai tuan rumah yang baik, Indira tetap menyambut Yasa sebagaimana tamu-tamu lainnya.
Yasa memang tamunya. Tamu yang dia undang kemarin tapi kehadirannya hari ini tak sungguh-sungguh dia harapkan.
“Kopi.”
“Sebentar.”
Indira bergegas ke dapur membuat kopi. Begitu membuka lemari kabinet, dia mendesah pelan. Sudah lama dia tidak membeli kopi. Indira kembali ke depan dengan secangkir teh hangat.
“Aku lupa belum membeli kopi. Adanya teh.” Indira menjelaskan tanpa menawari tamunya mau atau tidak.
Yasa diam-diam mendesah kecewa. Sudah lama dia tidak merasakan kopi buatan Indira. Pupus sudah harapan terselubungnya.
“Tidak apa-apa.”
Keduanya duduk dalam diam. Sudah lama mereka tak melakukan hal ini. Rasanya aneh. Seperti orang asing tapi sama-sama tahu tentang masing-masing.
Yasa menatap rumah yang dulu pernah dia tinggali. Dinding-dindingnya bersih tak menyisakan satu pun foto. Padahal dulu Indira yang paling rajin mencetak foto-foto kebersamaan mereka dan memasangnya menjadi hiasan dinding. Waktu telah merubah semuanya. Termasuk mantan istrinya.
“Kapan acaranya dimulai?” Pertanyaan basa-basi yang sengaja Yasa katakan karena tidak tahu lagi harus membicarakan apa. Dia seperti terdampar di rumah ini. Hanya saja dia tak asing dengan tempat ini. Tentu saja dia tak asing, ini rumahnya.
Yasa menyeruput teh buatan Indira. Ternyata soal selera, perempuan itu masih sama. Teh melati masih menjadi favoritnya.
“Tadi sore.” Jawab Indira terlalu singkat.
“Oh,” Yasa mengangguk pelan. Hening tak dapat terelak. Desau angin yang biasanya tak bersuara kini serupa bisikan.
Setelah lama terdiam, Yasa kembali bersuara. “Aku datang terlambat.” Dia masih kehabisan topik pembicaraan. Tapi sia-sia jika dia tak bisa membangun obrolan. Dia sudah di sini. Duduk berdua berama mantan istrinya.
“Memangnya kapan kamu bisa tepat waktu?” Tanya Indira balik. Yasa seperti mendapat sayatan di dadanya. Indira ternyata masih belum memaafkannya.
“Ndi, aku minta maaf untuk semuanya,” kata Yasa pada akhirnya. Dia harus berani memulai, jika ingin tahu apakah keinginannya bisa terwujud. Berdamai dengan mantan istrinya.
Indira menyandarkan punggung, dia menatap lekat kedua manik Yasa dengan sorot tak terbaca.
“Apa kamu tidak bosan selalu meminta maaf?”
Ini lah Indira, yang selalu memberikan pertanyaan dari pertanyaannya. Lalu bagaimana sebuah jawaban akan menemukan titik akhir?
“Lebih baik meminta maaf dari pada meminta izin. Lagi pula, kamu belum memaafkanku. Kita sama-sama tahu kejadian itu bermula dari kesalahan kita berdua. Aku juga minta maaf sudah membuatmu trauma.”
Yasa benar-benar tidak tahu trauma Indira, andai dia tak menemukan ketakutan perempuan itu saat mengantarnya beberapa waktu yang lalu. Pantas saja dia sulit memaafkannya dan masih memelihara dendam.
“Jujur, aku ingin berhenti berlari dari luka dan kenangan yang membayangiku, Mas. Tapi kenapa itu sulit? Sedangkan kamu? Kamu bisa melupakan kehilangan begitu cepat. Kenapa aku tidak? Kita sama-sama kehilangan Janu. Tapi aku tak melihat kamu benar-benar merasa kehilangan. Kamu seperti tak menganggap Janu ada walau sekarang tinggallah sebuah nama. Bagaimana aku bisa mentolerir permintaan maafmu kalau demikian?”
Yasa menatap Indira lekat.
“Kamu salah, Ndi. Bukan cuma kamu. Aku kehilangan Janu juga. Bagimanapun aku adalah ayahnya. Mana ada ayah yang tak sedih kehilangan anak? Apalagi ini anak pertama.”
Meski masih belum bisa melupakan kenangan itu. Dalam hati Indira bersyukur, Yasa mengalami kesedihan yang sama. Tapi Indira belum puas. Sebelum benar-benar melihat mantan suaminya menyesal seumur hidup.
Terkadang dia heran. Kenapa laki-laki lebih cepat move on. Sedangkan perempuan selalu butuh waktu untuk menyembuhkan, melupakan dan menatap hidup. Bahkan terkadang sampai seumur hidupnya. Seperti mantan suaminya contohnya. Lelaki itu bahkan tak perlu menunggu setahun untuk menikah lagi.
Mengingat pernikahan lelaki itu yang tak lama lagi, denyut di dada Indira semakin nyeri.
Mungkin jika Yasa menikah dengan perempuan lain, dia tak akan sekecewa ini. Tapi dengan Meta? Tak ada kah, perempuan lain selain dia? Bahkan dalam riwayat hidupnya, Indira ingin menghapus nama wanita itu.
“Aku masih ingat saat kamu datang ke rumah sakit. Kamu hanya diam. Seperti tidak terjadi apa-apa.”
Yasa menatap Indira tak percaya. Bagaimana bisa perempuan itu mengukur kesedihannya secara kasat mata begitu saja? Hanya melihat satu kali dan sudah memutuskan kesimpulan. Yasa tak mengerti, mantan istrinya benar-benar bodoh atau tidak tahu.
“Seorang lelaki bisa menyembunyikan kesedihannya dengan baik, Ndi. Bahkan bisa menutupinya sangat rapat. Berbeda dengan perempuan yang lebih mudah mengekspresikan diri. Karena lelaki selalu menggunakan kepala untuk memutuskan sesuatu, bukan hanya dengan hati.”
“Dan masih sempat-sempatnya datang bersama selingkuhanmu. Apakah itu juga termasuk untuk menutupi kesedihan? Padahal saat itu kamu tahu aku harus melahirkan mendadak karena pendarahan.”
Indira tak akan pernah bisa melupakan begitu saja, satu peristiwa terkelam di hidupnya. Bagaimana dunianya runtuh begitu saja tak tersisa. Tak hanya kehilangan suami, dia juga kehilangan anak.
“Aku sudah berkali-kali bilang padamu kalau waktu itu aku sedang menemani Meta yang diteror Bram. Harus berapa kali kukatan, Ndi. Aku juga sama terpukul sepertimu. Kepergian Janu membawa separuh hidupku. Aku boleh bersedih, aku boleh kecewa. Tapi tak boleh terus-terusan. Buat apa? Semakin aku meratapi nasib, semakin aku hancur. Dan Janu tak akan kembali begitu saja.”
Dada Indira semakin nyeri, apa yang Yasa ucapkan menusuk tepat di jantungnya. Lelaki itu benar, buat apa meratapi hidup. Toh, Janu tak akan hidup lagi. Tapi perselingkuhan Yasa tak bisa begitu saja dia maafkan. Apalagi melupakan apa yang Meta lakukan padanya.
“Hanya untuk menemani perempuan lain keluar dari kerumitan rumah tangganya. Kamu justru membuat rumah tanggamu sendiri hancur.”
Yasa tak lagi menjawab. Dia tahu Indira sejak dulu selalu menggunakan jurus ini. Iya, dia akui dia memang sedikit keterlaluan pada Indira di masa lampau. Waktu itu yang Yasa butuhkan saat pulang ke rumah adalah ketenangan. Syukur-syukur kalau Indira mau menjadi tempatnya berkeluh kesah. Tapi bukannya rumah yang dia dapati di rumahnya sendiri. Yasa justru menemukan rumah lain yang lebih menerima dan mengerti dirinya.
Jodohnya bersama Indira mungkin sudah habis. Dia sendiri tak pernah mengira akan sampai di sini kisah mereka. Dulu Yasa pikir dia akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama Indira. Tapi Tuhan sepertinya tak mengizinkan.
“Aku tidak tahu ini terlambat atau bukan. Sebelum kamu menempuh kisah yang baru, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
-o0o-
12 Juli 2022
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansaPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
