“Ngapain tadi dia ke sini?”
Uti sempat melihat mobil hitam pergi dari rumah ini. Dia tidak tahu siapa pemiliknya, tapi melihat wajah Indira yang tak seramah sebelum dia tinggal pergi, Uti mulai menduga.
“Dia benar-benar tidak tahu malu datang ke rumah mantannya pacar. Pakai ngancem segala. Benar-benar ular betina dia.” Uti mengomel sambil mengunyah martabak keju. Gara-gara pergi mencari martabak lah, dia ketinggalan drama. Andai saja dia di sini saat itu. Mungkin mulut perempuan itu sudah dia robek.
“Ra?”
“Hmmm...”
“Kenapa diam saja? Kamu, kepikiran?”
“Lagi makan, enggak boleh ngomong.”
Bohong kalau dia baik-baik saja. Gertakan Meta tak bisa disebut main-main. Dia sudah mengalaminya di waktu dulu. Dan Indira tahu rasanya sakit sekali.
Selama ini dia yang mengalah dan memilih menjauh. Menghindari segala akses yang berhubungan dengan mantan suami dan sahabat suaminya. Dia lelah berlari. Dia ingin berjalan meneruskan hidup. Tidak bisa kah dia berdamai dengan hidupnya sendiri?
Keputusannya untuk kembali ke kota ini adalah hal terakhir yang dia inginkan. Hanya ada satu nama yang menariknya kembali, Janu Pratama. Ada darah dagingnya yang dikubur di sini. Ada saat-saat berdua menikmati tendangan Janu di rumah ini.
Mana bisa dia meninggalkan satu-satunya makhluk yang di dalam tubuhnya mengalir darahnya?
Indira dan kenangan adalah paket lengkap. Dibungkus dengan rindu yang semakin menebal, dan tak pernah tau kapan berakhir.
“Menurutmu, apa dia benar-benar ingin melakukannya?” Kali ini wajah Uti terlihat serius. Mulutnya sibuk membersihkan sisa makanan di jari. Kebiasaan Uti yang pantang berhenti mengunyah sebelum makanan bersih. Pengalaman hidup yang mengajarinya.
“Mana aku tahu. Bisa iya, bisa juga tidak.”
“Menurutmu, apa alasan dia melakukan itu?”
“Uti, aku bukan pakar pembaca ekspresi. Jadi aku enggak tahu apa isi hatinya.”
Indira berdiri menuju wastafel. Setelah mencuci tangan dia mengambil segelas air dan meneguknya hingga tandas. Sejak tadi, hanya dua potong martabak keju yang bisa masuk ke perutnya. Padahal itu adalah makanan kesukaannya, tapi tubuhnya lebih memilih air putih.
Sepertinya setelah ini dia harus mandi. Siapa tahu ada sisa aura negatif yang menyembur dari tubuh Meta dan menempel padanya.
“Aku heran sama yang namanya pelakor. Kenapa dia selalu terobsesi dengan apa yang dimiliki dan dilakukan istri sah, ya? Enggak pinter dikit, gitu. Minimal nyari yang beda, lah. Bikin inovasi baru kalau bisa.”
“Kamu enggak akan pernah tahu kalau belum merasakannya, Ti.” Indira menatap lekat wajah Uti yang tanpa olesan make up.
Dia sebenarnya cantik, justru terlihat manis dengan lesung pipi dan kulit sawo matangnya. Tubuhnya lebih tinggi dari Indira sekitar sepuluh senti. Tak terlalu kurus, juga tidak terlalu tambun. Aktivitas berat telah membantu tubuhnya tetap proposional.
Tak lama lagi mereka menyentuh usia tiga puluh. Mereka memang memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama, hanya berbeda tahun saja. Saat Indira tahu Uti lebih tua setahun darinya, dia sempat bertanya kenapa mereka dulu satu kelas. Uti hanya tertawa sambil memukul pelan bahu Indira. Katanya, dulu di sekolahnya yang lama, dia sempat tidak naik kelas karena belum lancar membaca.
“Atau kamu mau nyoba jadi pelakor?” Uti terbatuk dengan pertanyaan Indira.
“Meski aku jomlo, bukan berati aku harus merampas jodoh orang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOG
RomansPertemuan tak terduga dengan mantan suami tiba-tiba membuat Indira meragukan keputusannya berpisah dengan Yasa. Terlebih sang mantan membawa perempuan yang menjadi penyebab perpisahan mereka sebagai calon istri. Hati Indira membara. Seperti dendam...
