Happy Reading ✨
Sepulang kuliah, Nesyi memutuskan untuk tidak ikut bersama kedua kakaknya, karena dirinya harus mengahadiri sebuah acara ulang tahun salah satu teman kampusnya.
Nesyi pergi bersama kedua sahabatnya, berjalan beriringan dengan segala canda dan tawanya. Tanpa sadar ternyata mereka tengah di awasi.
"Eh, guys! Habis pesta kita mampir ke mall dulu, yuk. Gue mau shopping..." Saran Angel
Nesyi mengangguk. "Hm. Boleh juga saran dan ide, lo." ucapnya dengan kekehan di akhir.
Ghina menggulum bibirnya dan berucap ragu. "Emmm gue enggak ikut, ya..."
"Kenapa?"
Ghina gelagapan, apa yang harus dia jawab? Gadis itu tidak bisa mengatakan jika saat ini dia mengambil kerja paruh waktu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Jika Ghina mengatakan pada Nesyi dan Angel yang sebenarnya, mereka pasti akan marah kemudian melarang Ghina untuk bekerja lagi.
"Gue—Gue—emmm harus—bantuin ibu buat kue, ya! Bantuin ibu buat kue." Ucapnya berbohong.
"Buat apa? Dan kenapa lo gugup kaya, gitu?"
Ghina tersekak. Entahlah, ketika berhadapan dengan orang lain, mulutnya sangat lincah mengeluarkan segala kata-kata rayuan dan alasan. Tetapi, jika sudah menyangkut Nesyi dan Angel, entah kenapa rasanya sangat sulit untuk mencari alasan.
"Ehehe... Enggak kok! Perasaan kalian aja kali. Yaudah yok kita pergi, entar telat lagi." Ajaknya kemudian berjalan lebih dahulu.
"Kenapa tuh, bocah?"
Angel menggidikkan bahunya tanda tak tahu, mereka pun lantas kembali berjalan menyusul Ghina yang telah pergi lebih dahulu.
Krek.
Nesyi berhenti berjalan karena indra pendengarannya tak sengaja menangkap sebuah suara. Seperti... Kayu yang patah?
"Apaan tuh?"
"Mampus gue." Gumam seseorang yang tengah mengintai.
"Kenapa, Nes?" Tanya Ghina.
"Gue Kaya denger suara kayu patah."
"Ah masa, sih? Perasaan lo aja, kali."
"Hmmm mungkin, sih."
Ketiga sahabat itu lantas melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti, tanpa mempedulikan suara yang terdengar beberapa menit lalu.
"Hampir aja."
(*^_^*)…°♡
Lion saat ini tengah berada di depan salah satu gadung yang berdiri dengan kokohnya, terdapat beberapa lantai yang menjulang tinggi serta ada beberapa karyawan yang terus keluar masuk gedung. Lion melangkahkan kakinya masuk menuju lift yang tersedia di ujung lorong, menekan tombol lantai nomor 5.
Pintu lift terbuka, Lion lantas kembali melangkahkan kaki membawa dirinya pergi menuju ruangan apartemen dengan desain pintu yang mewah, dan berbeda dengan yang lainnya.
Ting Tong.
Bel pintu terus saja di bunyikan oleh Lion, karena sang empu tak kunjung keluar dari ruangan. Lantaran kesal, Lion hendak mendobrak pintu yang berdiri kokoh itu sebelum sebuah suara menghentikan aksinya.
"Woy! Ngapain, lo?"
Lion berbalik. "Kurang ajar!" Kesalnya.
"Loh? Elo bang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita Berbeda [Ending]
Teen Fiction⚠️DILARANG KERAS UNTUK MENJIPLAK! INGAT LEBIH BAIK BURUK TAPI HASIL KARYA SENDIRI. DARI PADA BAGUS TAPI HASILKARYA ORANG LAIN!⚠️ BELUM REVISI, harap bijak dalam membaca
![Kita Berbeda [Ending]](https://img.wattpad.com/cover/311478637-64-k90094.jpg)