25. Cueknya seorang Vivian

5K 780 249
                                        

Play : I Hate You, I Love You - Gnash

Playlist gue tuh kebanyakan yang mellow-mellow. Jadi lagu backsound tariannya Vivian, itu lagu mellow fav gue semua.

Karena gue tuh mengarah ke kepribadian yang melankolis.

Jangan lupa untuk share cerita Vivian ke teman-teman kalian atau sosmed ya 💓

Saya akan berterimakasih banget jika kalian mau mengembangkan cerita Vivian agar dikenal banyak orang.

Dilarang salah lapak/ menyebutkan karakter tokoh cerita lain di cerita Vivian!!!

Akun sosmed :

IG : @icha_a.a
@venomgangs_

Tiktok : ichasthetic

Happy Reading💕


________________________

"Lagi mimpiin apa? Tidurnya nyenyak banget." Gray sudah beberapa menit yang lalu tiba di ruang rawat Vivian. Kini ia duduk di bangku yang berdekatan dengan bangsal gadis itu. Kedua tangannya menggenggam lembut telapak tangan Vivian yang bebas infus. Tatapan melemahnya mengarah pada gadis kesayangannya yang terbaring lemah, dengan wajah dan bibir memucat. "Cepet bangun, ya? Soalnya gue gak bisa lama-lama dicuekin sama lo, Vivian."

Lalu Gray memajukan wajahnya, membisikkan sesuatu ke telinga Vivian, agar tak didengar oleh keempat orang yang berada di dalam ruangan.

"Semalaman gue susah tidur karena lo gak balas chat gue. Terus paginya, gue buru-buru ke sekolah, demi liat lo, Vivian. Gue datang jam setengah enam pagi ke sekolah. Cuma karena lo. Bayangin," bisik Gray. "Gue yang biasanya sering terlambat, tiba-tiba suka datang pagi demi liat cantiknya gue jalan di lapangan, sambil pegang tali tasnya ke kelasnya."

Violet--- Bundanya Gray tersenyum sendu melihat Vivian yang terus-menerus memejamkan mata, bak putri tidur. Tetapi dari kejadian ini, ia dapat menangkap ketulusan di mata Gray yang benar-benar mencintai Vivian. Violet berjanji, akan terus mendukung putranya agar tetap bersama Vivian.

"Vivian jatuh sakit karena penyakit eating disordernya kambuh. Tapi apa boleh saya tahu, kenapa kedua telapak kaki Vivian diperban, Tuan Marco?" Silver--- Papanya Gray memancing Marco yang sedari tadi diam, duduk di sofa. Pria berdarah Italia itu bahkan secara terang-terangan menampakkan raut ketidaksukaannya melihat kehadiran Silver beserta keluarganya. Sebenarnya Silver sudah tahu perihal apa yang menimpa Vivian, namun dirinya ingin mendengar kalimat-kalimat omong kosong yang terlontar dari mulut Marco.

Awalnya Marco terkejut melihat kedatangan Silver beserta istri dan anaknya. Ia tak menyangka akan berhadapan langsung dengan Silver, pebisnis yang ingin sekali dikalahkannya. Bahkan kalau perlu, dihancurkan.

Tetapi Marco nampaknya mempunyai pengendalian diri yang cukup baik, sehingga tak mudah terpancing begitu saja atas ucapan Silver. "Mungkin kau sudah tau dari putra mu mengenai Vivian yang merupakan seorang dancer. Vivian suka sekali menari, sampai terkadang lupa waktu. Jadi kemarin malam, gadis itu mengalami cidera di kakinya karena berlatih cukup lama. Namun ternyata penyakitnya juga kambuh, karena pola makannya yang tidak teratur, akibat latihannya," jawabnya tenang, tanpa menatap lawan bicaranya. Netra tajam Marco terus mengarah pada Vivian di atas bangsal.

Silver mendecih sinis dalam hati. Namun kepalanya mengangguk. "Aku juga mendapatkan kabar, kalau Tuan Marco sebenarnya disibukkan dengan tender di Melbourne, tapi langsung terbang ke Indonesia, karena Vivian, begitu?"

VIVIAN (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang