"Bila ku tahu kehilangan itu sesakit ini akan ku terima apapun dulu yang terjadi, ini begitu menyakitiku seperti hidup tapi mati dan seperti mati tapi masih bernyawa" Raditya
Radit pulang dengan tampilan yang kacau, lalu berlalu masuk ke dalam kamar nya dan Arabella. Kamar ini memiliki banyak kenangan dan bau Arabella masih tercium di hidungnya apakah ini hukuman atas dosanya, apa Radit sanggup menjalani hari tanpa Arabella sementara senyum wanita itu selalu hadir setiap kali Radit memejamkan matanya. Radit merasa rumah ini sepi kemana perginya mommy, daddy, helena dan Kaila apa ini hanya perasaannya saja atau mereka benar-benar pergi.
"Bi ... bibi" panggilnya lalu wanita paruh baya itu langsung berlari dan menemui Radit
"Iya den ... kenapa ?" Tanya wanita itu ragu sekaligus seperti takut, apa sekarang Radit benar-benar menyeramkan.
"Kemana semua orang bi kenapa sepi?"
"Anu den .... Aduh gimana ya den, mommy aden bawa semua untuk pulang ke London den setelah pemakaman" cicit wanita tua itu ketakutan.
"APA!!!! Jadi mommy bawa Kaila ikut ?"bentak Radit mengetahui kerjaan mommynya yang memisahkan dirinya dari Kaila, apa lagi semua ini Tuhan apa belum cukup.
Radit mengambil kunci mobil lalu berlalu keluar menuju garasi dan mengeluarkan mobil menuju ke Arah Bandung ya Radit harus menjempur anaknya dan Wenny pulang ke rumah, karena tidak mungkin Radit akan pulang pergi Bandung Jakarta setiap hari. Sesampainya di sana ia melihat bayinya tidur pulas di box bayi dan Radit menyadari sesuatu yaitu wajah bayinya begitu bak duplikat mendiang istrinya Arabella, mungkin Tuhan masih ingin menghukum Radit dengan Rasa bersalah.
"Kapan kamu balik bee ... bagaimana pemakamannya?" Tanya Wenny yang terbangun dari tidurnya menyadari kehadiran Radit dikamar ini.
"Begitulah .... Kita akan kembali pindah ke New York besok, apa kamu keberatan ?"Titah Radit yang sudah mengambil keputusan, Radit harus menjauhi semua kenangannya dengan Arabella agar rasa tersika di hatinya bisa berakhir. Lagi pula Radit ingin Wenny mendapatkan pengobatan terbaik dan disana Radit bisa mengolah perusahaannya sambil menjaga anaknya ini, bayi ini belum ada namanya.
"Rayyan ... ya nama bayi ini Rayyan" ucap Radit dengan penuh keyakinan sambil tersenyum membelai pipi bayi lelaki ini.
"Nama yang bagus bee ... aku janji akan menjadi mama yang baik untuknya" cicit Wenny ragu dengan reaksi pria yang ada di depannya.
"Ku harap kamu bisa membantuku mengurus Rayyan... terimakasih wen sudah mau menemaniku" jelas Radit yang kini sudah berada di dalam pelukan Wenny dan menenggelamkan wajahnya di pelukan Wenny. Tanpa Radit sadari Wenny memberikan senyuman aneh seakan merasa menjadi pemenangnya, ya kini Wenny sendiri tanpa ada saingan lagi untuk mendapatkan kasih sayang Radit.
New York, As
Hari-hari berikutnya Radit mengurus Rayyan sendiri tanpa bantuan Wenny karena Radit memang ingin menebus rasa bersalahnya, wenny hanya akan membantu Radit ketika pria itu inginkan karena Raditpun ingin Wenny fokus pada terapinya. Radit juga membawa babysitter dari indonesia yang profesional untuk membantunya mengurus Rayyan ketika Radit sibuk bekerja nanti.
"Kamu akan jadi pria hebat sayang... papa akan selalu ada di sampingmu" lirih Radit pada bayi yang ada di dekapannya saat ini, semenjak hari dimana Arabella dimakamkan Radit banyak berubah drastis 380 derajat. Radit lebih banyak diam dan bicara seperlunya, Radit banyak menenggelamkan diri dalam kesibukan mengurus perusahaannya dan Rayyan.
Raditya PoV
Aku sadar sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk bekerja dan untuk mengurus bayiku Rayyan, wenny tetap ku layani selayaknya istri namun aku belum ingin tidur dikamar yang sama dengan wenny karena alasanku kesehatan wenny atau lebih tepatnya aku belum melepaskan bayangan Arabella. Setiap malam aku merintih dihatiku membayangkan senyum Arabella namun diakhiri dengan tangisannya saat memohon padaku, kalian tahu itu benar-benar menyiksa batinku dan membuat benteng tinggi di hatiku.
"Bee malam ini aku menginginkanmu" bisik wenny yang sudah ada disini memelukku dari belakang yang sedang menatap kosong kota ini dari balkon penthouse ku. Wenny sudah banyak kemajuan semenjak menjalani 2 bulan di kota ini, wenny mampu berjalan namun belum mampu berlari itu penjelasan yang ku dapat dari terapisnya.
"Maaf wen ... aku masih ingin begini, izinkan aku menyembuhkan luka ini dulu" cicitku sambil melepas peluka Wenny dengan lembut karena takut menyakitinya, sekarang aku bener-benar seperti pria yang tak memiliki sahwat pada wanita bahkan pernah wenny tanpa busana masuk ke kamar mandi saat aku mandipun benda keramatku tidak mampu bangkit atau ku rasa aku sudah impoten sekarang. Wenny merengek memintaku untuk berobat atau terapi karena menurutnya itu karena efek rasa bersalahku pada Arabella yang begitu dalam hingga memgganggu psikisku.

KAMU SEDANG MEMBACA
mas duren
RomantikCinta itu seperti sebuah permainan, ya permainan labirin bila kau berada di jalan yang salah maka itu akan menyesatkanmu. Namun ketika kamu berada di jalan yang benar kamu akan dibawa menuju tempat terindah. Mampukah Arabella dan Raditya menemukan j...