typo ignore.
anw, jempol niniss kena staples wkwkwk berdarah deh. agak nyeri tpi gpp niniss seterong dan ttp ngetik buat para lovers.
coba putar di playlist kalian lagunya mahalini yg kisah sempurna. myb, feel nya bakalan lebih dapat. dan kalau lagunya abis, putar terus lagu itu sampe selesai bacanya hahahahaha maksa nih.
****
"Na."
"Huum?"
Vandra tatap Sabrina. Posisi mereka sekarang tiduran di kamar pria itu sembari tonton tayangan film yang di pilih Sabrina, genrenya romance, bosan sebenernya karena Sabrina pilih genre itu. Tapi gak apa-apa, Vandra tetep terima.
"Saya ngantuk, pengen tidur, usap-usap ya?" pinta Vandra.
"Terus aku nonton sendiri?"
"Eum, gimana ya."
"Ya udah, bobo. Aku usap-usap."
"Beneran ya? Tapi pengen tidur di paha kamu, boleh?"
"Kok manja?"
Vandra tatap Sabrina melas. "Na jangan gitu, saya jadi malu."
Sabrina ketawa, ngakak malah. Denger jawaban Vandra yang begitu.
"Kok ketawa, Na saya serius. Saya malu," kata Vandra.
"Ya abisnya lucu. Kok jadi malu gitu?"
"Ya kamu bilang manja."
"Ya kan emang manja kamunya."
"Emang kenapa, gak boleh?"
"Boleh-boleh aja, apalagi buat si cinta," jawab Sabrina senyum genit.
"Si cinta, alay banget." Ya tapi Vandra juga salting. Telinga dia merah.
"Ya udah, sini bobo." Sabrina tepuk pahanya sendiri setelah ubah posisi.
"Mama sama papa tadi kemana?" tanya Vandra sambil cari posisi enak tidur di paha gadis itu.
"Mama bilangnya ke supermarket, mau isi kulkas lagi. Soalnya sekarang mama bakal sering pulang."
"Oh gitu, iya."
"Huum."
Sabrina usap-usap rambut Vandra pelan. "Nanti jam 1, bangunin saya aja ya."
"Bobonya cuman sejam?"
"Iya, saya ada rencana."
"Oh ya udah. Tapi kalau aku gak ikut bobo. Mending mas pasang alarm aja."
Vandra ngangguk, "Udah sih."
"Ya udah."
"Heem, saya mau tidur Na."
Sabrina ngangguk, dia kecup singkat pipi Vandra, terus lanjut usap rambut Vandra.
Cuman butuh waktu lima menit buat Vandra tidur lelap, dan Sabrina masih tetap mengusap rambut pria itu dengan sayang.
Sabrina senyum liat wajah damai Vandra waktu tidur. Dia gak peduli lagi sama film yang dia pilih sendiri. Objeknya kali ini lebih menarik dari pada film itu.
"Kenapa ya aku sayang banget sama kamu mas," kata Sabrina.
Wanita itu masih terus natap wajah Vandra. "Bahkan, udah kamu sakitin juga aku tetep stay di sini. Sikap kamu yang suka seenaknya narik ulur perasaan aku, aku tetep terima itu semua dan tetep welcome sama kamu."
"Bukan sekali dua kali. Berkali-kali pun aku tetep ada di samping kamu. Marah pun enggak bisa. Yang ada malah aku yang ke siksa."
Sabrina hela nafas pelan. "Aku capek sebenernya. Capek banget sama sikap kamu. Yang kadang terus seminggu ada buat aku, minggu depannya hilang, bahkan di hubungin pun susah."
"Tapi hati aku? Hati aku maunya tetep kamu, mas."
"Aku gak pernah sesayang ini sama orang."
"Tanpa kamu tahu, aku pernah coba jalin hubungan sama orang lain. Tapi hasilnya beneran nihil, yang ada di fikiran aku cuman kamu, mas."
"Aku sempet mikir, kalau aku ini di pelet sama kamu." Setelah ngucapin itu, Sabrina ketawa pelan.
"Konyol banget kan?"
Sabrina tatap Vandra terus. Mata dia beneran gak beralih.
"Mas, aku sayang banget sama kamu. Sayang bangettt, gimana ya aku jabarinnya?"
Tangan Sabrina usap pipi Vandra lembut. Dahi, mata, hidung, pipi, bibir pria itu bahkan gak terlewat dari usapan tangan Sabrina.
"Katanya kalau kita terlalu nunjukin kalau kita sayang sama orang itu, kita bakal di sepelein. Dan aku setuju."
Sabrina senyum tipis waktu pria itu semakin cari posisi nyaman di pahanya.
"Aku setuju banget, karena aku ngerasain sendiri. Kamu beneran sepelein aku. Kamu tahu, kalau kamu itu kelemahan aku. Jadinya kamu gunain diri kamu buat bisa lemahin aku, kan?"
"Gimana ya. Awalnya aku kira aku bakal anggap perasaan aku ini cuman rasa penasaran aja. Karena aku ini emang agresif mas. Ngeliat cowok ganteng aku langsung suka dan penasaran banget sama cowok itu. Tapi kamu beda, hati aku kayak ada sengatan apa gitu, hahaha."
"Kamu beda sayang. Aku setulus itu sama kamu," ujar Sabrina pelan di telinga Vandra.
Tanpa sadar air mata Sabrina menetes. Dia bahagia bisa kenal sosok Vandra, tapi dia juga nyesel kenapa harus Vandra orang yang harus dia cintai setulus itu.
Sabrina gak bakalan tahu, kalau proses mencintai seseorang dengan tulus itu bakal seperti ini. Selama dia pacaran dengan pria lain, dia gak pernah ngerasain rasa yang sedalam ini.
"Nama yang selalu aku sebut dalam doa itu kamu, mas. Aku selalu berdoa sama Tuhan, kalau kamu memang terbaik buat aku, tolong buka hati kamu, buat kamu bisa rasain hal yang sama kayak aku. Tapi kalau emang kamu bukan buat aku, aku berdoa semoga hati aku dengan sangat ikhlas bisa lepasin kamu bahagia sama orang lain."
"Puncak mencintai seseorang itu, mengikhlaskan dia bahagia dengan pilihannya kan, mas?"
Sabrina menangis, air matanya terus keluar. Dia tutup mulutnya biar Vandra gak denger isakan dia.
Dia gak tau kalau Vandra beneran bukan takdir dia. Apa dia beneran bakal ikhlas ngelepas pria itu dengan wanita lain selain dirinya.
Bahkan, dengan sesama jenis pun, Sabrina tetap cemburu buta, apalagi dengan lawan jenis.
Sabrina tutup wajahnya. Dia juga berusaha buat nahan air matanya biar gak keluar terus.
Vandra di mata Sabrina itu, cinta.
****
duh, freak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vandra ; ek
Romance[M] Vandra heran, kenapa ada wanita modelan Sabrina. Agresif nomor satu bagi wanita itu. "Mau cium." "Tahu tempat Sabrina." "Ya terus? Orang kan gak bakal peduli. Lagian biar dunia tahu kalau Vandra punya Sabrina seorang." "Kamu gak punya malu?" "...
