Bab 19

2.5K 243 11
                                        

WARNING CERITA sedikit MEMBOSANKAN
BANYAK TYPO 🙏🏻 dan ALUR LAMBAT

HAPPY READING
like jika suka 👍🏻 dan komen jika bisa💬
Sorry for typo
Jangan jadi pembaca gelap terus 🤧

Sesuai perintah Tuan Jevano Arga Adirata, yang jumlah nol di rekeningnya tidak terhingga, kini Gisel, sebagai ibu satu anak, harus melaksanakan tugasnya dan meninggalkan putranya bersama ketiga teman sang tuan di apartemen pria itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sesuai perintah Tuan Jevano Arga Adirata, yang jumlah nol di rekeningnya tidak terhingga, kini Gisel, sebagai ibu satu anak, harus melaksanakan tugasnya dan meninggalkan putranya bersama ketiga teman sang tuan di apartemen pria itu. Ia hanya bisa berharap agar putra kecilnya tidak rewel dan membuat ketiga om-nya pusing. Begitu pula, semoga Vano tidak bingung melihat tingkah tiga pria dewasa yang mengurusnya.

"Semoga mereka tidak melakukan hal aneh," pikirnya.

Saat ini, Gisel sudah sampai di salah satu mall populer bersama Vidya. Kebetulan, perempuan itu sedang free. Sebenarnya, Gisel ingin mengajak Nindy, tetapi Nindy sedang ada urusan. Jadi, Vidya yang menemani.

"Gimana, kak?" tanya Vidya.

Gisel menoleh, "Belum dibalas," jawabnya sambil melihat pesan yang ia kirim pada Jevan.

Sudah 30 menit sejak mereka sampai di mall, tetapi belum ada satupun barang yang ingin mereka beli. Gisel semakin sebal saat membaca balasan pesan dari Jevan. Dilihat-lihat, pria itu semakin menyebalkan dan semena-mena pada dirinya.

Vidya yang melihat Gisel berdecak sambil mengangkat alisnya, tanda bertanya ada apa.

"Suruh dicobain katanya," jawab Gisel, kesal.

Vidya mengangguk paham, lalu menarik Gisel menuju patung yang memajang banyak pakaian. Ia menyeret Gisel untuk membandingkan dan mencocokkan pakaian mana yang harus dicoba.

Gisel hanya menurut karena sepertinya selera Vidya lebih baik darinya. Selama ini, pakaiannya hanya terdiri dari kaos dan hoodie oversize, yang sudah lama. Jangankan beli baju baru, untuk membeli pampers untuk Vano saja ia sudah bersyukur. Bajunya pun tidak jelek-jelek amat kalau menurut dia. Namun, ia sadar bahwa status sosialnya jauh berbeda dengan Jevan.

Di hari pertama tinggal bersama pria itu, ia bahkan sudah dikatai seperti gembel.

"Tuh baju apa, topo? Lecek banget kayak muka lo," kata Jevan.

Mulut Gisel rasanya ingin menyumpal dengan pampers saat itu. Pria yang sangat menyebalkan, pikirnya. Padahal, dia sibuk mengurus banyak hal dan tidak sempat mengurus dirinya di pagi hari.

"Jangan kayak gembel, pake baju gue."

Jevan memberikan sekitar 10 potong kaos miliknya pada Gisel. Ia tidak mau melihat Gisel masih memakai kaos yang warnanya sudah pudar—kaos yang sama seperti yang dipakai Gisel saat pertama kali mendatanginya.

BABY FATHER | selesaiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang