WARNING CERITA sedikit MEMBOSANKAN BANYAK TYPO 🙏🏻 dan ALUR LAMBAT
HAPPY READING like jika suka 👍🏻 dan komen jika bisa💬 Sorry for typo Jangan jadi pembaca gelap terus 🤧
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Seratus juta."
Angka itu terasa seperti palu yang menghantam kepala Gisel. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Seratus juta? Bahkan membayangkan nominal itu sudah membuatnya mual, apalagi harus membayarnya. Hidupnya yang serba pas-pasan kini terasa semakin terpojok.
"Apa enggak salah orang?" tanyanya, mencoba tenang meski suara bergetar. Tangannya sudah berkeringat dingin, sementara Vano, mulai menggeliat gelisah dalam gendongannya.
Pria di depannya, salah satu debt collector yang berwajah kasar, hanya tertawa pendek. "Gue enggak peduli. Lu bayar sekarang, atau gue bawa lu sama anak lu," ancamnya sambil menarik lengan Gisel dengan kasar.
Tangisan Vano langsung pecah. Gisel panik, mencoba menenangkan bayinya sambil menghalangi tangan pria itu. "Sayang, tenang... tenang ya," bisiknya lirih, walau dirinya sendiri hampir menangis.
Dalam kepanikannya, Gisel teringat sesuatu. Pamannya. Hanya orang itu yang mungkin menjadi sumber masalah ini. Gisel tahu betul kebiasaan pamannya yang suka berjudi dan meminjam uang. Tapi kenapa dia yang harus menanggung akibatnya?
"Ini ada buktinya!" Pria itu melempar selembar dokumen lusuh ke arah Gisel. Dengan tangan gemetar, Gisel membaca dokumen tersebut. Nama lengkapnya tertera jelas di sana, lengkap dengan tanda tangannya. Tanda tangan yang ia yakin tidak pernah ia buat.
"Paman..." desahnya pelan, hampir tidak percaya. Entah bagaimana, pria itu berhasil memalsukan tandatangannya untuk jaminan utang.
Gisel buru-buru mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi pamannya. Tangannya gemetar saat mengetik nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. "Hallo, Paman—" Teleponnya langsung diputus sebelum ia sempat berbicara. Air matanya sudah menggenang di sudut mata.
Di saat itu, suara berat seseorang menyela. "Gisel." Gisel menoleh, mendapati Jevan, tetangganya yang selalu muncul di saat-saat sulit. Pria itu menepuk pundaknya pelan, memberi isyarat agar ia masuk ke dalam unit apartemennya.
"Mas Jevan, maaf banget... harus ngelihat keributan kayak gini," ucap Gisel pelan, wajahnya penuh rasa bersalah.
Jevan tidak menjawab. Ia hanya meraih Vano dari gendongan Gisel, lalu membawanya masuk ke apartemen. Tak lama kemudian, pria-pria penagih utang itu pergi dengan wajah puas. Gisel yang masih linglung baru menyadari, Jevan telah menyerahkan sejumlah uang untuk melunasi utang tersebut.
"Minum dulu," ujar Jevan, menyodorkan segelas air putih.
Gisel duduk dengan tangan gemetar. "Mas Jevan... kok..." Kalimatnya terputus. Ia tak sanggup menyelesaikannya. Utang yang belum ia lunasi sebelumnya sudah cukup membuatnya gelisah. Sekarang, ia bahkan berutang lebih besar lagi.