Cheesy

3.5K 376 46
                                        

Sang surya mulai beranjak dari persembunyiannya. Sinarnya memasuki celah, mengusik tidur seseorang disana.

Jeongwoo menggeliat, semakin menyamankan diri dalam dekapan hangat itu. Tentunya membuat si dominan terusik. Ia meringis kala merasakan kram di tangannya. Namun tak ayal, pelukannya kian mengerat.

Ia mengerjap, tersenyum melihat sosok dalam dekapannya.

"Kenapa gemesin banget sih kalau begini?" ujarnya. Tubuh yang tidak lebih tinggi darinya itu, terlihat menciut dalam dekapan.

Setelah kejadian semalam, Jeongwoo menangis dalam pelukan Haruto. Entah berapa lama, Haruto pun lupa. Bahkan hingga tertidur setelah puas menangis.

Perlahan, Haruto melepaskan pelukannya. Namun sangat disayangkan, Jeongwoo justru mengeratkan pelukannya.

"Haru jangan pergi.."

Haruto terkekeh gemas melihat sang istri mendusal padanya.

"Aku mau nyiapin sarapan, sayang. Kamu juga belum minum susu lho. Vitaminnya juga belum diminum."

Jeongwoo mendongak, menatap Haruto dengan bibir mengerucut. "Masih mau peluk, ngga mau dilepas.."

Cup.

Satu kecupan ia berikan pada si manis. "Mandi dulu deh, ya? Nanti peluk lagi. Hari ini kan kamu udah janji sama Jay, Je."

"Ih, Jay itu kakak sepupunya Jeje!"

Tawa Haruto pecah melihat tingkah gemas istrinya. Haruto sudah tau perihal Jay. Tentunya si manis yang memberitahu.

"Iya, iya. Maaf, sayang. Ayo mandi, nanti baru lanjut cuddle."

Jeongwoo menggeleng ribut, lantas memeluk erat bahkan meremat kuat kaos Haruto. "Ngga mau! Mau peluk, peluk, peluk!"

Nah kan, kalau sudah begini, Haruto bisa apa?

-𝕸𝖞 𝕮𝖆𝖕𝖙𝖆𝖎𝖓-

Setelah perdebatan pelukan, akhirnya disinilah keduanya sekarang. Ruang tamu dengan sebuah televisi menampilkan film di depan mereka. Dengan posisi tangan Jeongwoo berada di pinggang Haruto; memeluk erat si dominan. Dan Haruto yang sibuk merangkul sambil mengecupi surai si manis.

"Je, kok jadi gemesin gini sih?" tanyanya pelan, tidak bermaksud mengganggu fokus sang istri pada filmnya.

Jeongwoo mendongak, menatap tepat di netra Haruto. "Jeje takut Haru pergi. Jeje ngga mau sama yang lain, bahagianya Jeje cuma Haru.."

Haruto terkekeh sebelum menciumi seluruh wajah Jeongwoo. Not gonna lie, it feels cheesy, but Haruto like it.

"Aku ngga akan pernah ninggalin kamu. Bakalan disini terus sama kamu. Tapi, bisa jelasin kenapa kamu sering keluar sampai larut?"

Jeongwoo mengangguk. Ia beralih menyamankan posisinya sejenak, dan kembali memeluk Haruto.

"Jay minta Jeje buat bantuin dia nyiapin lamaran. Jay mau ngelamar Uwon, Haru.. Jeje bantuin Jay nyari tempat yang bagus, terus beli cincin, sama beberapa kejutan buat Uwon. Jeje berani sumpah, Jeje ngga ada main belakang sama siapapun," si manis memainkan baju dominannya.

"Lagian, Jeje bosan di rumah. Haru sibuk terus. Kadang pergi seminggu, pulang cuma tidur di rumah. Terus besoknya pergi lagi. Jeje tuh mau manja-manja gini ke Haru, tapi Jeje tau kalau sikap Jeje selama ini pasti udah nyakitin Haru. Jeje-"

Grep!

Cup.

Cup.

Cup.

Senyum Haruto merekah mendengar ucapan istrinya. Ia memeluknya erat, memberikan beberapa kecupan di bibirnya.

"Aku sayang kamu, Kim Jeongwoo. Ngga, ngga, tapi aku cinta kamu. Ngga peduli apapun yang udah kamu perbuat di hari lalu, aku tetap cinta sama kamu."

"Hiks.. Haruuu.."

Haruto terkekeh kecil. Tuh kan, Jeongwoo emang selembut itu hatinya.

"Jangan nangis dong. Jadi gemes lho kalau nangis gini."

Jeongwoo menggeleng di dada bidang Haruto. "Ngga, Jeje ngga nangis.. Jeje terharu.."

Haruto menggigit pelan bibirnya. Dia beneran gemes sama istrinya.

"Je, udah minum susu belum?" tanyanya, dijawab anggukan oleh Jeongwoo.

"Pintar! Duh gemes, kalau kayak gini, aku jadi pengen di rumah aja deh, Je. Ngga usah kerja gitu."

Mendengarnya, Jeongwoo menatap nyalang ke arah Haruto.

"Terus nanti aku sama baby makan apa?!"

Haruto tertawa. "Iya juga ya. Tapi, warisannya Papa Kyu lumayan kok, bisa dibuat makan 7 turunan lho, Je."

"Ih ngga boleh! Jeje maunya Haru kerja. Biar Jeje bisa lihat Haru pakai seragam pilot. Jeje kan dari dulu pengen lihat Papa Jae pakai seragam pilot, tapi ngga bisa.."

Mendengar nada sedih dari ucapan Jeongwoo, Haruto mengusap lengan yang lebih muda.

"Its okay. Besok kita ke makam Papa, mau?"

Jeongwoo menatap berbinar pada Haruto. "Mauu! Mau, Haru! Tapi habis itu, beliin Jeje es krim yaaa.."

Haruto mengacak gemas rambut Jeongwoo. Tentunya ia akan mengabulkan apapun keinginan si manis.

"Aku seneng lihat kamu senyum, Je.."

END

Just kidding, guys..

Masih ada lanjutannya kok. Tapi tenang, masih sweet moment, but, don't forget for always take ur tissue before reading this book 😉

My CaptainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang