“Huh, bosan sekali. Apa yang harus kulakukan untuk menghilangkan rasa bosanku ini?” gumam Satria sambil melempar tubuhnya ke sofa ruang tamu. Matanya kosong menatap langit-langit, pikirannya melayang tanpa tujuan.
“Tapi, aku sudah janji pada Delon untuk menjemputnya,” pikirnya, teringat adiknya yang selalu bergantung padanya. Satria menghela napas panjang, berusaha mengusir rasa malas yang menyerang.
Dengan langkah cepat, ia mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu, lalu berjalan menuju garasi. Tangannya menggenggam kunci mobil dengan erat, berharap perjalanan nanti bisa mengusir kebosanan yang mendera.
Setelah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, Satria merasa sedikit lega. Namun, seketika itu pula ia menyadari ada sesuatu yang tak beres. Saat hendak menginjak rem, pedal terasa aneh dan tidak merespons seperti biasanya.
“Kok ada yang aneh, ya?” gumamnya, jantungnya mulai berdebar. Ia menekan rem berulang kali, tapi mobil tetap melaju kencang tanpa kendali.
“Sial!” teriaknya putus asa, tangan memegang setir sekuat tenaga.
Dalam hitungan detik, suara benturan keras memenuhi udara. Brak…
“Apa ini… akhir dari hidupku?” bisiknya pelan, tubuhnya terhuyung. Mata Satria perlahan tertutup, melepaskan semua kenangan, semua harapan yang pernah dimilikinya.
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
JugendliteraturSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
