Senin sore.
Langit mulai meredup, tapi markas geng Altara masih ramai. Suara deru motor, bentakan anak-anak jalanan, dan musik dari speaker tua menyatu dalam kekacauan yang terasa... rumah bagi sebagian orang.
Di pojok ruangan yang berantakan, Gara dan Aldo duduk berdua. Aldo baru saja selesai minum obat, tangannya masih menggenggam botol plastik kecil.
"Udah minum obat?" tanya Gara tanpa menoleh, matanya tetap menatap layar ponsel.
"Udah," jawab Aldo pelan.
Gara mengangguk pelan. Ia berdiri, meraih jaket kulitnya yang tergantung di sandaran kursi.
"Bang mau ke mana?" tanya Aldo.
"Balik," jawab Gara singkat.
Tak ada kata tambahan. Tak ada penjelasan.
---
Di jalan.
Gara berjalan menyusuri gang sepi, suasana sore mulai dingin. Tapi langkahnya tetap tenang. Tak tergesa, tapi penuh arah.
Sampai akhirnya, ia melihat sesuatu.
Seorang pria paruh baya—rambut setengah uban, tubuh ringkih—dikeroyok oleh empat preman berwajah kejam. Salah satu dari mereka bahkan memegang batang besi.
Gara mendengus. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah maju.
Buk!
Satu pukulan telak menghantam dada preman pertama. Tubuhnya terpental menabrak tembok.
Krak!
Tangan preman kedua dipatahkan dengan sekali tangkisan. Dua lainnya mencoba melawan, tapi sia-sia.
Dalam hitungan menit, keempatnya tergeletak, meringis kesakitan.
Gara berdiri tegak di antara tubuh mereka yang mengerang, wajahnya tanpa ekspresi.
Ia menoleh ke pria tua itu.
"Kakek nggak apa-apa?"
Si pria menatap Gara dengan kagum. Napasnya masih terengah, tapi ia sempat tersenyum.
"Terima kasih, Nak."
"Mau saya antar pulang?" tawar Gara.
"Tidak usah. Saya sudah menelepon anak saya," jawab si kakek sopan.
Tapi pandangannya tetap menatap wajah Gara... lama. Penuh tanda tanya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di ujung gang. Seorang pria muda keluar dan berlari ke arah mereka.
"Itu anak kakek?" tanya Gara sambil menunjuk pria itu.
"Ya."
Si pria menatap Gara dari atas ke bawah. Ia tampak tercengang, seolah baru saja melihat seseorang yang tak asing.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya si kakek.
"Gara," jawabnya singkat. Lalu ia pergi, meninggalkan keduanya dalam diam.
Setelah kepergian Gara, si pria muda menatap ayahnya.
"Pa?"
Si kakek mengangguk pelan.
"Cari tahu siapa anak itu. Dari keluarga mana dia berasal."
"Baik, Pa."
---
Di rumah.
Sesampainya di rumah, Gara baru saja membuka pintu saat Anya dan teman-temannya menyergap dari ruang tengah.
"Hay, Kak! Kenalin ini tem—"
"Gak nanya." Gara memotong cepat, suaranya datar dan dingin. Ia langsung berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh sedikit pun.
Anya dan teman-temannya hanya saling pandang.
---
Kamar.
Sesampainya di kamarnya, Gara mendapati Angga sedang duduk di kasur sambil membaca majalah. Begitu melihat wajah Gara yang bonyok, Angga langsung bangkit.
"Itu kenapa muka lo bonyok, Gara?"
"Berantem."
"Sama siapa?"
"Preman."
Angga mendecak pelan. "Sini. Duduk. Abang obatin dulu."
Dengan telaten, Angga mengambil kotak P3K. Ia mulai mengompres wajah Gara dengan handuk dingin. Sesekali Gara meringis—bukan karena sakit, tapi karena Angga terlalu lembut. Gara lebih terbiasa dengan luka daripada perhatian.
"Next time jangan berantem gitu, dong. Abang jadi khawatir, tahu nggak?"
Gara hanya menjawab dengan gumaman rendah. "Hm."
"Hm hm aja lo. Bikin jantungan orang."
Gara menyandarkan tubuh ke sandaran kasur, matanya berat.
"Gara mau ke kamar... ngantuk..."
Angga menatap wajahnya yang lelah. Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Untung sayang..."
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
