Agak aneh memang, tapi ini nyata. Gara, yang selama ini dikenal sebagai siswa dingin dan anggota geng Altara, tiba-tiba datang menemui Satria dan mengaku bahwa dia memiliki perusahaan besar bernama V.D.G Corp, juga agensi hiburan ternama V.D.G Entertainment yang menaungi artis papan atas. Bukan cuma itu, Gara juga adalah ketua dari mafia paling kejam dan misterius: Black Ail.
Ironisnya, dalam cerita yang tersebar—dalam versi novel yang katanya "asli"—Gara justru diceritakan mati karena protagonis wanita. Padahal, kalau bicara soal kekuasaan, aset, jaringan, dan nyawa yang bisa dia gerakkan dengan satu panggilan, Gara jelas di atas angin. Gara cuma bisa mengumpat sambil melempar novel itu ke lantai.
“Emang dasar tolol tuh anak yang nulis,” gumamnya ketus.
Belum sempat menarik napas panjang, pintu kamarnya mendadak terbuka. Vino masuk tanpa ketuk. Gara langsung melirik tajam.
“Siapa yang tolol?” tanya Vino santai, lalu nyelonong masuk.
“Lo,” jawab Gara ketus.
Vino hanya tertawa lalu langsung mendorong Gara ke kasur.
“Wah, udah berani sekarang, ya?” ledek Vino, lalu menunduk seolah ingin mencium.
Gara langsung panik. “Eh, jangan gila, gue masih lurus! Jangan gila lo bang!”
Vino tertawa keras, “Bercanda, bro, santai.”
Gara mendengus, “Bang.”
Vino hanya bergumam, “Hm?”
Gara menatap serius. “Lo tau mafia Black Ail nggak?” Seketika raut wajah Vino berubah.
“Dari mana lo tahu soal itu?” tanyanya dengan nada dingin.
“Rahasia. Tapi lo cerita aja dulu.” Gara melipat tangan di dada.
Vino mengangkat alis. “Hadiah dulu dong.”
Gara mendesah, “Lo boleh tanya satu hal dan gue bakal jawab jujur.”
Mereka saling jabat tangan. Deal.
“Jadi, mafia Black Ail itu baru berdiri dua tahun, tapi brutalnya udah ngalahin mafia kelas atas. Mereka hobi main sadis, nyiksa korban pelan-pelan, biasanya ngebunuh lewat sayatan di nadi. Mereka ninggalin tanda berupa tato burung di tubuh korban. Kabarnya sih, ketua mereka udah tua. Kolot. Nggak ada yang tahu wajah aslinya.”
Gara langsung melotot. “Lo ngatain gue tua?”
Vino kaget. “Hah? Eh? Bukannya lo—”
Gara hanya menatap tajam, membuat Vino salah tingkah. Dalam hati Gara dongkol. Tua apaan. Gua segar, ganteng, idola cewek-cewek, kok dibilang kolot.
“Kenapa lo pengin tau?” tanya Vino, masih bingung.
Gara nyengir. “Penasaran aja.”
Kemudian dia menutup laptopnya, berdiri, dan menatap Vino dingin. “Udah, sana keluar.”
Tapi Vino belum bergerak. “Gw belum nanya hadiah gw,” katanya santai.
Gara menarik napas. “Yaudah, tanya.”
Vino menatap lurus ke mata Gara. “Lo benci gak sama gue?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Gara terdiam beberapa detik. Udara seketika terasa berat.
---
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
