Hari Minggu.
Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh anak sekolah. Hari libur. Termasuk bagi Gara. Ia menghabiskan waktu dengan rebahan santai sambil menonton film di kamarnya.
Baru saja adegan film sampai ke bagian seru, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Tok tok tok.
Dengan malas, Gara bangkit dan membuka pintu.
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Grandma sama Grandpa datang. Kita ke ruang tamu," jelas Gio.
"Hm."
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Begitu sampai, Gara langsung merasa atmosfernya tidak menyenangkan. Tatapan tajam dan sinis segera menyambutnya.
"Kamu nggak pernah berubah ya, Gara," sindir Grandpa begitu melihatnya.
"Ya," balas Gara singkat.
"Masih saja kurang ajar," lanjut kakeknya lagi.
Gara menatap lurus tanpa ragu. "Memangnya, kapan kalian pernah ajarin saya sopan santun?"
Ucapan itu menyulut emosi sang kakek. Ia berdiri dan PLAK!—menampar wajah Gara dengan keras.
"Sudah, Pa!!" Mommy menjerit, mencoba menahan emosi ayahnya.
"Lihat itu! Karena kamu, anak ini jadi nggak sopan!" bentaknya lagi.
Gara tersenyum tipis. Tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang terasa perih. Ia sendiri tidak yakin apa. Sakit? Sedih? Kecewa? Entahlah.
"Pa, cukup!" Daddy akhirnya angkat suara.
"Kenapa kalian semua malah bela anak nggak tau diri kayak dia?! Dia itu aib keluarga! Kenapa nggak diusir sekalian?!" serang Grandma dengan nada tinggi.
"Harusnya kamu tuh kayak abang kamu. Udah jelek, bikin malu keluarga pula!"
Gara tetap diam. Namun tatapannya tajam.
"Kenapa kamu diam?! Jawab!!"
"Saya ya saya. Abang ya abang," ucap Gara datar.
"Lihat tuh! Udah berani ngelawan! Hukum aja! Kalau perlu, usir!"
"Grandma, cukup!" Gio akhirnya angkat suara.
"Gio! Kamu juga udah ketularan dia! Nggak sopan ke orang tua!"
Gara menghela napas pelan. Matanya menatap mereka semua satu per satu. Ia membuka mulut, tenang namun tajam.
"Saya nggak butuh saran kalian. Karena saran kalian itu bukan memperbaiki, tapi memperburuk. Bukan memperindah tampilan, tapi menghancurkan mental. Jujur, saya capek. Tapi saya juga tahu, berubah itu nggak segampang membalikkan telapak tangan."
Ia berdiri.
"Oh ya. Saya bukan Gara yang dulu. Gara yang dulu... sudah tiada."
Gara melangkah pergi, meninggalkan ruangan tanpa melihat ke belakang.
"Kalau kalian manggil saya ke sini cuma buat debat, lebih baik jangan panggil lagi."
Pintu kamarnya tertutup.
Keheningan menyelimuti ruang tamu, sebelum akhirnya Mommy berdiri sambil berkata pelan:
"Kalian... keterlaluan."
Ia menyusul Gara ke atas, diikuti Daddy dan Gio.
Di sofa, Grandpa mendengus keras.
"Mereka semua sudah dipengaruhi anak sialan itu."
---
Hai, maaf baru update lagi. Author lagi sibuk belajar, apalagi sekarang banyak praktik.
Tapi tenang, author tetap akan berusaha buat update. Mohon maaf juga kalau cerita ini agak melompat dan nggak terlalu nyambung.
---
Vomen
Vote
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Dla nastolatkówSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
