“Lo benci gak sama gw?” tanya Vino tiba-tiba.
Gara menghela napas pelan. “Ya, sedikit.”
Mendengar itu, hati Vino tiba-tiba berdenyut sakit. Tapi dia mencoba tersenyum dan berkata, “Abang akan buat kebencian lo itu hilang sepenuhnya.”
Gara membalas dengan santai, “Berusaha lah.” Lalu dia pergi tanpa menoleh lagi ke arah Vino.
Setelah meninggalkan kamar Vino, Gara melangkah ke ruang makan untuk mengambil jus mangga favoritnya.
“Ngapain?” suara dari belakang membuatnya menoleh. Ternyata itu kakak keduanya, Xian.
“Gue ambil jus,” jawab Gara singkat.
“Gw mau ngomong sebentar, boleh?” tanya Xian sambil tersenyum, wajahnya tetap ramah seperti biasanya.
Gara agak terheran-heran, tapi mengangguk. “Lo ganggu gue, tapi ya sudah lah.”
Xian tertawa pelan. “Lo imut.”
Gara balas cemberut. “Lo nyeremin.”
“Lo aneh banget sih. Cepat ngomong apa?”
Xian menghela napas, kemudian berkata dengan serius, “Maafin gue.”
Gara terkejut, karena dalam novel, Xian jarang sekali minta maaf, apalagi kecuali pada Anya.
“Hah?” tanya Gara bingung.
“Gue minta maaf atas semua perlakuan gue selama ini. Gue mohon, Dek, maafin gue.”
Gara terpaku. Tidak pernah dia mendengar Xian bicara seperti ini panjang lebar.
“Baru sadar lo?”
“Gue mohon.”
Gara mengangguk pelan, lalu berkata, “Gw kasih lo satu kesempatan. Jangan sia-siain kesempatan yang gue kasih buat lo.”
Setelah meminum jus mangganya sampai habis, Gara berbalik dan melangkah menuju kamarnya.
“Gw gak akan buat lo kecewa lagi, Gara.”
---
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Novela JuvenilSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
