Tujuh tahun setelah Peristiwa Segel Langit
Reruntuhan bekas Markas Keluarga Bramaja kini berubah menjadi Taman Langit-sebuah tempat sakral yang bersinar saat malam. Pilar-pilar kristal tumbuh dari tanah seperti bunga beku, dan debu emas masih sesekali jatuh dari langit seperti salju lembut. Ini bukan kuburan... melainkan jejak dari pengorbanan.
Di tengah taman, Alsan berdiri diam. Pundaknya lebih lebar dari dulu, wajahnya sedikit lebih keras. Tapi di matanya masih ada luka-bukan karena perang, tapi karena kehilangan yang tak bisa diisi ulang.
Di tangannya tergenggam kristal kecil yang memancarkan cahaya biru keperakan. Sebuah pecahan dari momen terakhir... momen saat Gara memecahkan segel dengan tubuhnya sendiri.
"Sudah tujuh tahun, Kak," bisik Alsan. "Dan dunia ini masih berdiri... karena kamu."
Langkah kecil terdengar di belakangnya. Seorang anak lelaki berlari mendekat. Rambutnya hitam gelap dengan gradasi kebiruan, dan matanya-oh, mata itu-berwarna perak terang seperti cermin langit malam.
Anak itu berhenti di samping Alsan, mendongak sambil terengah sedikit. "Paman Alsan! Tadi malam... aku lihat cahaya itu lagi! Di langit timur. Sama seperti yang Paman ceritakan."
Alsan menoleh, tersenyum tipis. "Kamu peka, Rey. Itu bukan bintang. Itu... jejak."
Reygan Elvara, atau biasa dipanggil Rey, adalah anak yang lahir tak lama setelah Segel Langit dihancurkan. Tapi bukan dari rahim manusia. Ia lahir dari inti cahaya yang muncul di jantung kehancuran-inti dari kekuatan, jiwa, dan pengorbanan Gara.
"Kalau aku... bukan lahir seperti manusia lain," bisik Rey pelan. "Kenapa aku tetap bisa merasakan sedih, takut... dan rindu?"
Alsan berlutut perlahan. "Karena kamu bukan makhluk sihir, Rey. Kamu manusia. Gara hanya memberimu... awal yang berbeda."
Rey menunduk menatap kedua tangannya. "Apa Ayah pernah tahu... aku bakal hidup?"
Alsan diam lama sebelum menjawab, "Aku rasa dia tahu. Saat dia menghancurkan segel, dia melepaskan segalanya: tubuh, kekuatan, ingatan, dan... cinta. Sebagian dari jiwanya nggak hilang, tapi membentuk inti kelahiran baru. Dan dari situlah kamu... lahir."
"Jadi aku bukan anak kandung?"
"Tidak," ujar Alsan pelan. "Kamu lebih dari itu. Kamu bukan darahnya... kamu adalah jiwanya."
Rey menatap langit dengan mata yang berkaca. "Apa dia pernah melihatku?"
Alsan mengangguk pelan. "Mungkin dia melihatmu... bahkan sebelum kamu ada."
Dan saat itulah, angin malam berubah. Sebuah cahaya putih keperakan meluncur dari langit, diam namun terang, seperti jejak sayap. Cahaya itu berhenti di atas taman-dan untuk sekejap, sesosok siluet muncul.
Siluet Gara.
Sayap kristal, jubah robek, pedang terhunus. Matanya menatap Rey... dan tersenyum.
Rey berdiri kaku, tubuhnya gemetar. "Ayah..."
Cahaya itu bergetar perlahan, lalu lenyap tanpa suara. Tapi hangatnya tetap terasa.
Alsan menggenggam pundak Rey.
"Dia mungkin bukan manusia biasa. Tapi satu hal yang pasti, Rey... dia mencintaimu. Sejak awal. Dan dia memberimu hidup bukan untuk menggantikannya... tapi untuk menjadi lebih."
Rey menggenggam kristal kecil itu di dadanya.
"Aku akan melanjutkan jalannya, Paman. Bukan karena aku harus... tapi karena aku ingin."
---
Halo teman-teman pembaca! 🌌
Yap, ini beneran penutup dari cerita Gara.
Terima kasih udah nemenin cerita ini sampai akhir. Jangan lupa dukung terus karyaku dan follow juga kalau suka ide-ide seperti ini! 🖤
~ Dinar Al Madina
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Fiksi RemajaSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
