CHAPTER 1

34.5K 1.7K 17
                                        


Aku terbangun di sebuah kamar yang sama sekali asing bagiku. Cahaya redup dari jendela kecil menyinari dinding putih yang hampa, dan bau antiseptik menyengat di hidung. Aku mencoba mencerna segala hal yang terjadi.

“Sebenarnya gue di mana?” gumamku pelan, masih berusaha mengingat kejadian terakhir.

Tiba-tiba, seorang pria muncul di ambang pintu. Matanya penuh perhatian, tapi ada sedikit nada kesal di suaranya.

“Lo udah bangun?” tanyanya.

Aku cuma menghembuskan napas berat sebagai jawaban.

“Lo tuh gak ada terima kasih sama sekali, ya? Udah ditolongin, bukan malah bilang makasih, cuma direspons dengan deheman aja,” omelnya sambil menyilangkan tangan.

Aku menatapnya bingung, “Memang gue kenal sama lo?”

Pria itu terkejut seketika. “Ya, gue abang lo.”

Kata-katanya membuat dadaku berdebar. Aku terdiam, mencoba mencerna berita itu, tapi ingatan seolah terhalang kabut tebal.

“Gue panggil dokter dulu,” katanya lalu beranjak keluar.

Skip

Beberapa menit kemudian, seorang dokter memasuki kamar.

“Jadi, adik saya amnesia, Dok?” tanya pria itu.

“Iya, Tuan. Tuan Anggara mengalami benturan cukup keras di kepala, sehingga menyebabkan amnesia. Ia kehilangan sebagian besar ingatannya,” jawab dokter dengan nada profesional.

Pria itu mengangguk dan berkata, “Kau boleh pergi.”

Setelah dokter keluar, pria itu kembali menatapku dengan tajam. “Jadi, lo gak kenal gue ya?”

Aku hanya diam.

“Baiklah, nama gue Angga Sutrasta Wijaya. Lo punya Daddy dan tiga abang lain. Lo adalah bungsu di keluarga Wijaya.”

Aku mengangguk pelan.

“Oh iya, gue lupa. Nama lo Anggara Sutrasta Wijaya.”

Aku cuma mengeluarkan suara pendek, “Hm.”

“Cuma ‘hm’? Gak mau nanya apa-apa?” Angga menatapku heran.

Aku diam saja.

“Daddy kita namanya Lion Sutrasta Wijaya, Mommy Dinama Sutrasta Wijaya. Abang pertama Alvino, kedua Xiander, ketiga Giofan, dan gue Angga, abang keempat.”

Aku mendengarkan tanpa ekspresi.

Angga mulai kesal, “Jawab dong! ‘Hm, hm’ terus, kebiasaan lo sama kayak Daddy, dulu cerewet banget. Eh, sekarang malah jadi kayak Daddy, deh.”

Aku mengangkat bahu, “Trus?”

“Lama-lama gue kesel sama lo.”

“Pulang,” kataku tiba-tiba.

“Hah? Lo mau pulang sekarang?”

“Iya. Gue mau pulang.”

“Sebentar, gue tanya dokter dulu.”

VOMEN
VOTE



TBC

jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang