chapter 33

2K 78 3
                                        

Beberapa Hari Kemudian - Markas Keluarga Bramaja

Di ruang pertemuan mewah dengan dinding marmer dan lukisan keluarga besar Bramaja tergantung di tengah, Delon duduk santai dengan setelan jas gelap. Tangan kirinya memutar segelas anggur, sementara dua orang pengawalnya berdiri tegak di belakang.

Seorang pria berpakaian hitam masuk terburu-buru dan berbisik di telinganya. Delon mengangkat alis.

"Dia sudah di Jakarta?" tanyanya pelan.

Pria itu mengangguk. "Gara sudah tahu semuanya. Suster Ranti... dia berhasil menemukannya."

Delon menghela napas panjang, seolah semua ini hanyalah permainan catur yang ia prediksi sejak awal.

"Biarkan dia datang," ujarnya dingin. "Kalau dia cukup pintar untuk mengungkap semua itu... dia pantas mendengar kebenarannya dariku sendiri."

**

Di Tempat Lain - Rumah Sakit Nirwana, Kamar Rawat Alsan

Xian duduk di samping Alsan yang kini sudah bisa duduk meski masih lemah. Tubuhnya masih dipenuhi selang infus, tapi sorot matanya tajam, dipenuhi rasa ingin tahu.

"Aku tidak tahu kenapa mereka memilihku," kata Alsan pelan. "Tapi aku rasa... ini bukan cuma penculikan biasa."

Xian meraih tangan Alsan. "Kamu bukan sekadar korban. Kamu bagian dari sesuatu yang besar."

"Dan Gara... dia sendirian sekarang," gumam Alsan. "Dia butuh aku."

Xian terdiam sejenak, lalu berdiri. "Kalau begitu, kita kejar dia."

**

Malam Itu - Di Dalam Mobil Gara

Gara duduk di belakang kemudi, matanya fokus menatap GPS yang menandai lokasi terakhir Delon berada. Tangannya menggenggam surat lama yang ia temukan di dalam arsip Ranti-surat bersegel merah dengan simbol aneh berbentuk lingkaran dan mata di tengah.

Di dalamnya hanya ada satu kalimat:

"Darahmu adalah warisan, dan kunci dunia yang tak boleh dibuka sembarangan."

Gara bergumam, "Apa sebenarnya yang terjadi dua puluh tahun lalu? Siapa keluarga kami sebenarnya?"

Sebuah mobil hitam mengikuti dari belakang, tak terlihat dalam radar biasa. Di dalamnya, seorang pria bermata tajam berbicara di telepon.

"Gara bergerak. Perintah Delon: jika dia berhasil sampai ke rumah utama, jangan biarkan dia keluar hidup-hidup."

**

Di Depan Gerbang Megah Milik Delon

Gara turun dari mobilnya, tatapan dingin tertuju pada bangunan besar yang berdiri kokoh seperti benteng. Ia berjalan melewati penjaga yang kini sudah tumbang berkat bantuan orang-orang kepercayaannya.

Begitu pintu utama terbuka, Delon sudah menunggunya di tengah aula, duduk di singgasananya sendiri.

"Sudah waktunya kita bicara," kata Delon, senyumnya tipis. "Tentang siapa kamu, siapa adikmu... dan kenapa kau bisa berpindah ke dunia ini dan mengapa darah kalian sangat penting."

Gara melangkah maju. "Katakan."

Delon berdiri, menatapnya dengan mata dingin penuh perhitungan. "Karena darah kalian... adalah darah penjaga gerbang kekuasaan yang telah disegel sejak zaman kolonial. Leluhur kalian... bukan manusia biasa. Mereka adalah pelindung 'Segel Langit'."

Gara terdiam.

"Dan Alsan?" tanyanya pelan.

Delon menyeringai. "Dia bukan hanya pewaris. Dia adalah pemicu kebangkitan segel itu. Jika darahnya mengalir di altar kuno... dunia ini akan berubah. Kekuasaan yang tak terkendali akan kembali muncul."

"Dan kau ingin menggunakannya," tebak Gara.

Delon tidak menjawab. Hanya menatap, lalu berkata pelan, "Pertanyaannya sekarang, Gara... kau mau berdiri di pihak mana?"

**
Segini aja dlu ya besok up lagi

To Be Continued...

Vomen
Vote




Tbc

jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang