CHAPTER 18

10.7K 576 13
                                        

"Lelah… apa gue nyerah aja ya."
Seorang pemuda berdiri di pinggir danau, suara lirihnya terbawa angin malam. Wajahnya kusut, matanya sembab. Jelas terlihat—ia sedang frustasi.

"Nyerah?"
Sebuah suara terdengar dari belakang.
"Jangan seolah lo orang paling tersakiti di dunia. Banyak orang yang senasib, bahkan lebih parah dari lo."

Pemuda itu berbalik dengan tajam, matanya menatap marah.
"Lo tau apa tentang hidup gue?!"

Tatapan mereka bertemu. Mata penuh amarah dan kekecewaan, bertemu dengan senyum tipis yang… entah kenapa terlihat mengerikan.

"Gue emang gak tau apa-apa tentang hidup lo," ujar Gara pelan, "tapi satu yang gue tau, gue gak akan diam liat lo bunuh diri di depan gue. Bunuh diri itu… dosa."

"Terus? Lo mau bunuh gue sekalian?!" teriak pemuda itu, napasnya memburu.

Gara tersenyum lebih lebar. Ada sesuatu yang menakutkan di balik senyum itu, membuat si pemuda bergidik. Rasanya seperti menatap iblis.

"Kalau lo mau… gue bisa bantu," bisik Gara.

Pemuda itu refleks mundur selangkah. Langkahnya goyah, hampir saja jatuh ke danau jika saja tangan Gara tidak dengan sigap menahannya.

"Lepasin gue, anj!"* teriaknya, panik.

Gara malah tertawa. Tawa keras dan lepas, seolah menikmati kekacauan ini.
"Lo yang mau, kan?"

"I-iya sih, t-tapi gak gini juga…" jawabnya terbata.

"Tadi lo bilang mau nyerah, kan?"

"G-gak. S-siapa juga yang bilang…"

"Nama."

"Hah?"

"Nama lo siapa?"

"Oh. A-alsan. Alsan Dramaja."

"Hm. Gara."

"Nama belakang lo?" tanya Alsan, penasaran.

"Anggara Sutrasta Wijaya. Itu nama lengkap gue."

Alsan terpaku. Matanya membelalak, tubuhnya menegang.
"Hah? A-anggara? Ketua geng Altara itu?!"
Suara Alsan naik satu oktaf. "Lo idola gue, tau gak!!"

Gara terkekeh melihat reaksi itu.

"Gila, lo keren banget!" kata Alsan antusias, memandangi Gara dengan kagum. Gara tersenyum, tapi ada sedikit kelelahan di balik senyumnya.

"Gue gak sekeren itu, Alsan."

"Enggak, fix! Lo keren banget. Semua temen-temen gue ngefans sama lo! Lo keren dan cakep. Pantesan lo dikejar-kejar cewek. Gak kayak gue…"
Kalimat terakhir diucapkan pelan. Senyumnya mengaburkan luka yang dalam.

Gara menepuk bahu Alsan.
"Lo akan jadi salah satu yang paling keren di Altara. Selamat bergabung."

"T-tunggu. Maksud lo apa?"

"Gue gak terima penolakan." Gara tersenyum. "Mulai sekarang, lo bagian dari Altara. Siapa pun yang nyakitin lo… akan berurusan sama kita."
Nada suaranya tegas. Mata Gara bersinar tajam.

"Gue benci penghianat. Jadi jangan pernah sekalipun lo coba-coba khianatin geng ini!" serunya lantang.

"Hah?! Serius? Gila! Gue jadi anggota geng Altara?!"
Plak! Alsan menampar pipinya sendiri.
"Bukan mimpi! Sumpah cita-cita gue tercapai! Gue pengen jadi Mikey di Tokyo Revengers!"

Gara mengamati Alsan dengan senyum geli.
"Kayaknya lo lebih mirip Takemichi…" gumamnya. "Sayangnya, Takemichi nggak pernah nyerah. Sedangkan lo—"

Alsan terdiam. Menatap sendu.
"Maaf…"

Gara mengangguk.
"Mulai sekarang, lo gak sendirian lagi, Adek."
Kata terakhir itu hanya ia ucapkan dalam hati.

"Maaf juga soal kata-kata gue tadi," tambah Alsan pelan.

"Gak papa." Gara tersenyum lalu menarik tangan Alsan menuju motornya.
Malam itu, langit masih mendung. Tapi untuk pertama kalinya, hati Alsan terasa sedikit lebih terang.

---

Hehe, maaf ya kalau ceritanya agak random. Author lagi senang nulis bagian emosional campur vibes ala geng!

---

Vomen
Vote

TBC


jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang