Bab: Gara Sakit
Gara sedang berjalan pelan menuju kelasnya. Tubuhnya lemas setelah pelajaran olahraga. Kepalanya terasa berat, dan tubuhnya panas.
"Ada apa denganku...?" gumamnya dalam hati.
Begitu sampai di kelas, tanpa berkata apa-apa, ia langsung menuju bangkunya dan duduk lemas.
“Eh, Gara kenapa tuh?” tanya seorang gadis yang dikenal sebagai ketua kelas—Yulia.
“Gar, lo nggak apa-apa?” tanya Yulia lagi, lebih dekat kali ini.
Gara hanya mengangguk pelan. Yulia yang khawatir menyentuh kening Gara.
“Eh, badan lo panas banget!!” teriak Yulia kaget.
Sontak, semua murid di kelas melirik ke arah Gara.
“Lo ke UKS aja, ya. Gue bilangin ke guru lo kalau lo sakit,” kata Yulia, lalu menoleh ke temannya. “Ranti!”
“Ya?” sahut Ranti.
“Lo panggil abang-nya Gara gih, dia panas banget!”
Tanpa basa-basi, Ranti langsung berlari keluar kelas.
---
Di tempat Angga
“Bang... ha... ha... ha...” Ranti terengah-engah saat sampai di depan Angga.
“Kenapa lo?” tanya Angga heran.
“Bang... Gara demam!”
Mendengar itu, Angga langsung berdiri dengan panik.
“Di mana Gara sekarang!?”
“Di kelas, Bang!”
Tanpa menunggu, Angga langsung melesat menuju kelas adiknya.
---
Di kelas Gara
“Adek...” Angga langsung mengelus punggung Gara yang terlihat lemas.
“Hm...” gumam Gara pelan.
“Ke UKS yuk, badan kamu panas banget,” ucap Angga khawatir.
“Hm...” balas Gara pelan lagi.
“Dek, yuk abang gendong, ya?”
Gara hanya mengangguk kecil. Angga pun segera menggendong adiknya di punggung, dibantu oleh beberapa murid untuk membawa barang-barang Gara.
---
Di UKS
“Cak, tolong panggilin dokter, dong,” pinta Angga dengan nada cemas.
“Oke,” jawab Cakra yang ikut menemani.
Empat puluh menit berlalu, akhirnya dokter datang.
“Dek Gara sepertinya kelelahan. Pastikan dia nggak terlalu banyak beraktivitas dulu,” jelas sang dokter setelah memeriksa.
“Ini obatnya, diminum dua kali sehari ya.”
Angga mengangguk dan menerima obat itu.
“Dengar ya, Dek,” ucap Angga sambil menatap adiknya yang masih pucat. “Istirahat, dong. Ini pergi pagi pulang malam. Abang tahu kamu banyak urusan—jadi CEO lah, mafia lah, tapi tetap aja kamu harus tidur! Ini istirahat jarang banget, akhirnya kecapekan begini kan?”
“Maaf...” ucap Gara lirih.
“Ya udah, sekarang istirahat. Abang mau beli bubur sebentar,” kata Angga lalu menoleh ke Cakra. “Cak, tolong jagain adik gue ya.”
Cakra mengangguk. “Santai aja.”
---
Catatan Author
Segitu dulu yaa~
Makasih loh udah dukung author! Aku bakal terus berusaha jadi diri sendiri! 🫶
Btw, author baru pulang sekolah, langsung gas nulis chapter ini 🤣
Di sekolah... hmm... gak seru. 😑
Para cukupret gangguin mulu 😩 Tapi tenang, author kalian yang cantik jelita ini sabarnya di atas rata-rata ✨
Wkwkwk canda 🤭
Oh iya, yuk kita sama-sama berdoa semoga author kuat hadapi hari Senin.
Tugas numpuk, presentasi belum dihapal... doain yaaaa 😭
Jangan marah kalau up-nya lama. Sekali up, ya segini dulu...
Author sekolah di MTs, jadi maklum yaa~ hapalan buanyaaakkk 🥲
Love you sekebon buat kalian semua! ❤️
Vomen
Vote
TBC...
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
