CHAPTER 14

13.4K 770 11
                                        

Pagi yang cerah menyapa kediaman keluarga Wijaya. Matahari bersinar lembut menembus jendela, menyinari lantai marmer dengan kehangatan.

Gara menuruni anak tangga dengan langkah santai menuju ruang makan. Ia masih mengenakan piyama, rambut sedikit berantakan.

"Pagi," ucapnya singkat.

"Pagi," jawab mereka serempak.

Setelah itu, suasana kembali hening. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar, menari di atas piring-piring porselen.

Selesai sarapan, Gara langsung menuju garasi, mengenakan jaket hitam dan helm, lalu menyalakan motornya dan meluncur menuju sekolah.

--

Sesampainya di kelas, Gara menemukan Angga sudah duduk di tempatnya.

"Dek, dari mana?" tanya Angga pelan.

"rumah. " jawab Gara jujur sambil meletakkan tas.

"Ohh."

"Hm."

Pelajaran pun dimulai. Suara guru menggema menjelaskan materi, tapi Gara sudah terhantuk-hantuk, kepalanya mengangguk lemah karena kantuk. Ia memang tidak tidur semalam, terlalu banyak hal yang dipikirkan.

---

Kring... kring...

Bel istirahat berbunyi nyaring.

"Baik, pelajaran bapak selesai. Silakan istirahat," ucap sang guru sebelum meninggalkan kelas.

Para murid langsung berhamburan keluar menuju kantin, tertawa dan berceloteh, tapi tidak dengan Gara. Ia justru merebahkan kepalanya di atas meja dan langsung tertidur.

Angga hanya bisa memperhatikan adiknya dengan tatapan lembut.

"Gara," panggil Angga pelan.

Gara tak bergerak.

"Gara... dek... sayang," ucapnya sambil menepuk lembut pipi Gara, mencoba membangunkannya dengan cara yang paling halus.

Gara menggerakkan kepala, perlahan membuka mata. Masih setengah sadar, ia memandang kosong ke arah Angga.

"Dek, kantin yuk. Kamu belum makan siang, loh," ajak Angga.

Gara hanya mengangguk lemas... lalu menyandarkan kepala lagi ke meja.

"Gendong," gumamnya malas.

---

💬 Vomen
❤️ Vote & Comment kalau suka ya!

TBC

jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang