CHAPTER 25

6.2K 270 2
                                        

Keesokan paginya

Cahaya pagi mengintip dari balik tirai jendela. Gara sudah terjaga, duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Ia tak berniat membangunkan sang adik — membiarkan Alsan menikmati tidurnya yang mungkin sudah lama tak senyaman ini.

Langkah kaki pelan terdengar mendekat.

“Selamat pagi, Bang,” sapa Alsan dengan suara serak baru bangun.

Gara hanya mengangguk kecil.

“Lapar?” tanyanya singkat.

Alsan mengangguk, membuat Gara bangkit dan menuju dapur.

Di sana, aroma bumbu yang ditumis mulai memenuhi udara. Alsan berdiri di ambang pintu dapur, mengamati kakaknya dengan mata mengantuk.

“Wow, kelihatannya enak,” gumamnya.

Gara hanya tersenyum tipis. Ia mencampur nasi dengan bumbu, menciptakan sepiring nasi goreng sederhana yang harum.

Tak lama, mereka duduk bersama di meja makan. Suasana hangat menyelimuti mereka, seakan dunia luar yang berbahaya tidak ada untuk sementara.

“Bang…” Alsan menatap ke bawah, ragu. “Apa nggak apa-apa kalau aku tinggal di apartemen abang? Gue takut malah nyusahin.”

Gara melirik sekilas. “Boleh,” jawabnya singkat.

Alsan menghela napas dan mencibir, “Abang tuh ibarat es batu.”

Gara mengernyit. “Kenapa?”

“Sulit banget dicairin,” kata Alsan sambil nyengir. Gara terkekeh — tawa yang jarang terdengar, membuat Alsan terdiam sejenak, seolah tersihir.

“Ehm…” Alsan cepat-cepat menunduk dan kembali menyuap nasi gorengnya.

“Pelan-pelan, nanti—”

Uhuk!

Alsan tersedak sebelum kalimat Gara selesai.

“Kan, bener,” Gara langsung menyodorkan segelas air.

Setelah meneguknya, Alsan mengangguk kecil. “Makasih.”

Tiba-tiba, ponsel Gara berdering. Nada pesannya khas—tanda dari orang-orang dalam jaringannya. Gara bangkit, menjauh sebentar, dan menerima panggilan itu.

“Hm…” “......” “Bagus. Lanjutkan.” “......” “Hm.”

Setelah menutup telepon, ia kembali ke meja makan. Alsan menatapnya penasaran.

“Siapa, Bang?”

“Bukan siapa-siapa,” jawab Gara datar.

Namun, jauh dari sana...

“KENAPA INI TERJADI?!” suara Brama menggelegar di ruang kantornya. “Aku sudah bayar mereka mahal, dan mereka gagal menangani gangguan kecil seperti tikus jalanan itu?!”

Ia membanting gelas ke lantai, serpihannya beterbangan. Wajahnya memerah karena amarah yang tertahan selama ini mulai membuncah.

Sementara itu, Gara hanya tersenyum kecil, kembali menatap adiknya yang sudah pulih dari insiden tersedak tadi.

“Enak?” tanyanya ringan.

Alsan mengangguk cepat. “Iya, Bang. Enak banget.”

Senyum bangga muncul di wajah Gara. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa... rumah itu bukan tempat, tapi seseorang.

Seseorang yang kini duduk tepat di hadapannya.

---

Vomen
Vote

TBC

-

jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang