Dua puluh tahun lalu, hujan turun deras di atas atap Rumah Sakit Nirwana. Lampu-lampu koridor meredup, dan malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Di dalam ruang bayi, seorang suster bernama Ranti berdiri mematung. Tangannya gemetar saat memandangi dua boks bayi di hadapannya satu bayi sehat dengan napas lembut, dan satu lagi… tak bergerak.
“Lakukan sekarang, Ranti,” bisik suara dari balik tirai. Seorang pria dengan jas hitam dan topeng berdiri di bayangan, menyodorkan selembar uang dan sebuah dokumen.
“Kalau kau gagal… semua keluargamu akan hilang dari muka bumi.”
Suster Ranti menahan tangis. Dengan tangan bergetar, ia mengangkat bayi yang masih hidup Alsan dan meletakkannya ke boks si bayi yang telah meninggal. Ia lalu menekan tombol darurat.
“Kode merah di ruang bayi! Satu bayi tidak bernapas!”
Petugas medis segera datang, membawa ‘bayi yang meninggal’ padahal itu sebenarnya Alsan. Sementara keluarga kandungnya menangis histeris, mengira bayi mereka telah tiada, sang penculik berjalan tenang melewati lorong belakang dengan membawa bungkusan kecil yang berisi Alsan.
Beberapa Hari Kemudian
Di dalam rumah mewah bergaya kolonial, seorang pria duduk di kursi goyang dengan wajah muram. Pria itu Delon Bramaja, tokoh bayangan di balik banyak konflik di kota menatap bayi mungil di gendongannya.
“Jadi ini dia…” ucapnya pelan, menatap bayi itu dengan mata tajam. “Pewaris darah yang mereka coba hilangkan. Aku akan jadikan dia alat.”
“Namanya... Alsan?” tanya seorang perempuan di belakangnya.
Delon menoleh singkat. “Tidak. Kita beri nama baru. Tapi jangan terlalu asing. Biar kalau dia mendengar, hatinya tetap bereaksi.”
Perempuan itu mengangguk. “Baik, Tuan Delon.”
Gara duduk di samping ranjang Alsan. Ia memegang tangan adiknya erat, seakan berusaha memindahkan seluruh kekuatannya ke tubuh yang lemah itu.
Tiba-tiba, sebuah nama terlintas di benaknya.
Delon Bramaja.
Gara menggertakkan gigi. “Kalau benar kau yang membawanya pergi dari kami... aku akan buat kau menyesal.”
Seketika, memori masa lalu mulai mengalir—penyelidikan panjang, kejanggalan dalam data kelahiran, dan informasi samar yang mengarah ke satu nama: suster Ranti, yang hilang sejak malam tragedi itu.
Gara berdiri. Tatapannya tajam.
“Abang akan bongkar semuanya, San. Aku janji.”
Kalau kamu mau, part selanjutnya bisa fokus ke Gara mulai menyelidiki jejak Delon, atau bisa juga ada seseorang dari masa lalu mungkin anak buah Delon yang muncul dan mencoba membungkam Gara.
Kamu pengin lanjutnya ke arah investigasi dulu, atau langsung konfrontasi sama Delon?
Siap, kita lanjut ke bagian investigasi Gara yang akhirnya menemukan jejak Delon Bramaja. Bagian ini makin tegang, karena Gara mulai mengungkap satu per satu kebenaran masa lalu dan menyadari bahwa semua ini jauh lebih dalam dari sekadar penculikan.
Langit mulai gelap saat Gara memasuki sebuah bangunan tua yang terbengkalai di pinggiran kota. Bangunan itu dulu adalah rumah sakit tempat Alsan dilahirkan dan diculik. Kini, hanya puing, debu, dan sisa-sisa arsip rusak yang tersisa.
Ia menyisir setiap ruangan, lampu senter di tangannya menyorot ke setiap sudut. Jantungnya berdetak lebih cepat saat menemukan sebuah ruangan yang masih terkunci rapat—arsip kelahiran.
Dengan alat khusus, ia membuka kunci itu dan masuk.
Di dalamnya, rak-rak tinggi penuh berkas berdebu. Ia menarik salah satu laci tua dan mulai membolak-balik dokumen hingga menemukan sesuatu.
Nama: Ranti Wulan Sari.
Tugas terakhir: Ruang Bayi – 17 Juli.
Catatan: Mengundurkan diri mendadak. Alamat tidak diketahui.
Gara mengepalkan tangannya. “Kau orang pertama yang harus kujumpai.”
Beberapa Hari Kemudian – Sebuah Rumah Kos Tua di Suburb
Dengan bantuan jaringan bawah tanahnya, Gara berhasil menemukan tempat persembunyian Ranti. Perempuan itu kini sudah tua, wajahnya penuh kerutan dan ketakutan yang menahun. Ia gemetar saat membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
“Gara... putra mereka?” bisiknya, seperti melihat hantu dari masa lalu.
“Aku di sini bukan untuk main-main,” kata Gara dingin. “Ceritakan semua, dari awal. Termasuk siapa yang menyuruhmu.”
Ranti menunduk. Air matanya mengalir. “Aku... aku dipaksa. Mereka bilang akan membunuh anakku kalau aku tak menuruti. Aku tak tahu siapa mereka tapi pria yang mengambil Alsan… dia menyebut nama Delon. Delon Bramaja.”
Gara menghela napas, matanya berkilat dengan amarah. “Apa motifnya?”
Ranti menggeleng. “Aku hanya tahu satu hal… Delon bilang, 'Anak itu akan jadi kunci kekuasaan. Darahnya bukan darah biasa.' Aku tak tahu maksudnya, tapi dia bilang keluarga kalian menyimpan sesuatu yang seharusnya tidak pernah diwariskan.”
Gara mendadak terdiam. Ia menoleh perlahan, menatap ke luar jendela.
Darah bukan biasa?
Kunci kekuasaan?
Kembali ke Rumah Sakit
Alsan mulai sadar perlahan. Matanya terbuka, dan ia melihat Xian duduk di sampingnya. Nafasnya masih lemah, tapi ia bicara.
“Abang… Gara… dia ke mana?”
Xian menatapnya lembut. “Sedang mencari kebenaran. Tentang kamu. Tentang semuanya.”
Alsan menggertakkan gigi, berusaha bangkit. “Aku ingin tahu juga… siapa aku sebenarnya. Kenapa mereka mengambilku?”
Di malam yang sunyi, Gara berdiri di depan gerbang megah milik Delon Bramaja. Ia tidak datang diam-diam. Kali ini, ia datang sebagai peringatan.
“Delon,” gumamnya. “Kita belum selesai. Dan sekarang, waktumu habis.”
Hm maaf ya 🙂↕️
Sorry
Heheheheheheheheh
Jujur aku baru ada Kouta 😆
Bercanda
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Ficção AdolescenteSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
