CHAPTER 2

29.7K 1.6K 62
                                        


Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Gara. Setelah seminggu dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan dan amnesia yang dideritanya, dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.

“Udah siap, Dek?” tanya Angga, sang kakak, sambil membawa tas kecil berisi barang-barang Gara.

“Hm,” sahut Gara singkat, lagi-lagi hanya dengan deheman.

Angga mendesah pelan. Ia sudah mulai terbiasa dengan sikap adiknya yang berubah drastis—pendiam, dingin, dan minim ekspresi, tak seperti sebelumnya yang cerewet dan kekanak-kanakan. Setelah semua beres, mereka pun meninggalkan rumah sakit dan menuju mansion keluarga Wijaya.

---

Mobil hitam mewah itu berhenti tepat di depan bangunan megah bergaya Eropa klasik. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh, halaman luas berhiaskan taman yang tertata rapi, dan air mancur di tengah bundaran jalan menambah kesan megah.

“Nah, udah sampai,” ujar Angga.

Gara turun dari mobil dan menatap mansion itu dalam diam. Matanya menyusuri tiap sudut bangunan, seolah mencoba mengingat sesuatu—tapi kosong. Yang ia lihat hanya rumah orang kaya, bukan rumahnya.

Mereka pun masuk ke dalam.

“Eh, Gara?” sapa seorang gadis dengan suara centil yang dibuat-buat.

“Siapa?” Gara menatapnya tanpa ekspresi.

Semua yang sedang duduk di ruang tamu menoleh. Raut terkejut menghiasi wajah mereka.

“Hiks… Kok kamu gitu sih…” isak gadis itu dengan suara manja. Ia tampak sangat tersinggung.

Tiba-tiba, seorang lelaki bangkit dan melangkah cepat ke arah Gara, tangannya terangkat seolah hendak menampar.

“Gara!” bentaknya.

Namun sebelum tangannya sempat mendarat, Angga segera menahan lengannya. “Bang!”

“Apa-apaan sih, Angga? Kenapa lo tahan gue?!” serunya marah.

“Gara amnesia,” jawab Angga tegas.

Suasana langsung hening. Gara hanya berdiri tenang, matanya menatap semua orang seolah mereka adalah orang asing yang tak berarti baginya.

“Kok… abang gak bilang sih…” gumam gadis itu sedih.

Gara mengangkat jari menunjuk satu per satu. “Lo, berisik,” ia menunjuk gadis itu. “Lo, gak jelas,” kali ini ke pria yang hampir menamparnya. “Dan lo…” Gara menatap Angga, “Antar gue ke kamar.”

Semuanya terkejut. Gara yang mereka kenal sangat cerewet dan manja. Tapi kini? Dingin dan tajam. Ia bukan lagi adik yang mereka kenal.

“Gara!” panggil suara berat dari arah tangga. Seorang pria paruh baya muncul, tubuhnya tegap, wajahnya berwibawa. “Jaga sopan santunmu!”

Gara menoleh, lalu bertanya datar, “Kau siapa? Jangan sok kenal denganku.”

Pria itu tersenyum tipis. “Lion Sutrasta Wijaya. Daddy-mu.”

“Hm.”

Seorang wanita anggun menyusul, tersenyum lembut. “Dan aku, Dinama Sutrasta Wijaya. Mommy-mu.”

Gara hanya melirik sekilas.

“Hai abang! Nama akuu Anya, Anya Sutrasta Wijaya,” ucap gadis tadi sambil tersenyum manja.

“Hah?” Gara menoleh ke Angga. “Setahuku dia anak pungut.”

“Angga!!” bentak Mommy.

“Sudah, sudah. Perkenalkan diri kalian semua,” kata Lion menenangkan suasana.

“Alvino Sutrasta Wijaya, sulung,” ujar pria yang hendak menampar tadi.

“Xiander,” jawab singkat lelaki berwajah dingin.

“Giofan Sutrasta Wijaya, yang ketiga,” sambung pria bermata lembut.

“Angga Sutrasta Wijaya, abangmu yang paling tampan,” tambah Angga dengan senyum miring.

Gara menguap. “Ngantuk. Ayo, Angga. Antar ke kamar.”

---

Setelah Angga pergi, semua terdiam dalam ruang tamu.

“Dia… benar-benar berubah…” gumam Mommy.

---

Keesokan harinya

“Vino, tolong panggil Gara,” perintah Mommy saat waktu makan siang tiba.

“Baik, Mom.”

Vino melangkah ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar Gara. Tidak ada jawaban. Ia memutar kenop pintu dan masuk pelan.

Kamar itu rapi. Terlalu rapi untuk ukuran Gara. Biasanya kamar adik bungsunya seperti kapal pecah.

Di atas ranjang, Gara tampak masih tidur. Vino mendekat dan menyentuh bahunya. “Gara.”

Gara membuka mata perlahan. “Kenapa?”

“Turun makan.”

“Ya.”

---

Meja makan penuh dengan hidangan lezat. Gara duduk di antara Angga dan Vino. Suasana sunyi. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.

“Gara mau makan apa?” tanya Mommy lembut.

“Terserah.”

Mommy langsung mengambilkan lauk untuknya. “Makan yang banyak ya.”

“Hm.”

Tak ada suara lain. Tidak ada celoteh atau gurauan. Gara hanya diam, makan tanpa emosi.

---

Usai makan, keluarga berkumpul di ruang tamu.

“Bagaimana sekolah kalian, Anya, Gio, Angga… dan kamu, Gara?” tanya Daddy.

Gara menjawab cepat, “Tidak ingat.”

Daddy menghela napas panjang.

“Baik dong!” jawab Angga sambil senyum.

“Baik banget!” seru Anya dengan gaya manja.

“Baik,” singkat Gio.

“Lalu, bagaimana pekerjaan kalian, Vino, Xian?” tanya Mommy.

“Biasa saja,” jawab keduanya bersamaan.

Tiba-tiba, Gara berdiri.

“Besok aku mau sekolah.”

“Tapi—” Mommy ingin membantah.

“Tidak ada penolakan.”

Tanpa menunggu jawaban, Gara langsung pergi ke kamarnya.

Keluarga Wijaya hanya bisa saling pandang. Mereka sadar: Gara yang sekarang bukanlah Gara yang dulu.

VOMEN
VOTE


TBC

jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang