Gara melangkah menuju kumpulan geng Altara di belakang gedung sekolah dengan tatapan dingin yang membuat udara seolah membeku. Sepatu hitamnya beradu dengan lantai semen, meninggalkan gema yang membuat beberapa murid langsung menunduk, menghindari kontak mata dengannya.
“Bang,” panggil Aldo dengan suara tenang.
“Hm.” Jawaban singkat itu cukup untuk membuat seluruh anggota geng tahu: bos mereka sedang tidak ingin diganggu.
Semua murid SMA Jastara tahu betapa menyeramkannya Gara saat ini. Tak ada yang berani menatap matanya—kecuali Aldo, satu-satunya orang yang bisa tetap berdiri di dekatnya tanpa gemetar.
“Do, emang lo gak takut?” tanya Septian spontan, matanya melirik ke arah Gara yang berdiri dengan aura dominannya.
Aldo tersenyum kecil. “Enggak.”
Tiba-tiba, suara marah memecah suasana.
“Kalian ngapain di sini?! Ini waktunya belajar, bukan bolos!” Guru BK berjalan cepat ke arah mereka, wajahnya merah padam karena emosi. “Gara! Kamu ikut-ikutan membolos juga?!”
Anggota geng Altara bergidik. Mereka tahu betul: Gara sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
“Saya ketua mereka. Anda mau apa?” ucap Gara, suaranya datar namun tajam. Aura dinginnya menusuk siapa pun yang mendengar.
“BERSIHKAN halaman sekolah, sekarang juga!” bentak guru itu, berdiri tepat di depan wajah Gara.
“Hah?!” Geng Altara serempak kaget. Tapi Gara tetap tak bergeming.
“Tidak akan,” ucapnya singkat, tegas, dan mutlak.
“Berani kau menolak?! Kau cuma murid! Turuti perintah saya!”
Gara menatap lurus ke mata guru itu, lalu berkata pelan namun jelas, “Saya pemilik sekolah ini.”
Dam.
Guru itu mematung.
"I'm not in a good mood, so don't bother me," ucap Gara dalam bahasa Inggris, tajam dan dingin. “Leave. This. Place.”
Tak butuh waktu lama. Guru BK itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Aldo segera menghampiri Gara.
“Bang...”
“Hm?” Gara menyandarkan kepalanya di bahu Aldo, seolah beban di kepalanya bisa lepas untuk sesaat.
“Lain kali jangan marah gitu, ya... Serem,” gumam Aldo pelan.
Gara menutup matanya sebentar. “Tidak janji.”
---
Kantin, Siang Hari
Gara dan geng Altara kini duduk di salah satu meja besar kantin. Suasana sedikit lebih tenang.
Tiba-tiba, suara akrab menyapa.
“Dik, abang boleh duduk di sini?”
Gara menoleh perlahan. Angga.
Ia mengangguk kecil, memberi izin.
“Dik, selamat ulang tahun,” ucap Angga sambil tersenyum. Gara membalas dengan senyuman tipis, sangat tipis, namun tulus.
“Wih, bos ulang tahun?” seru Bagas, kaget. Yang lain ikut ribut kecil.
“Hm,” jawab Gara singkat.
“Maaf ya, bos. Kita nggak tahu,” tambah Bagas, agak canggung.
“Bos mau hadiah apa?” tanya Septian penasaran. Mereka tahu, apa pun yang ingin Gara beli, dia bisa dapatkan. Maka dari itu, pertanyaan itu tulus.
Gara menatap mereka satu per satu, lalu berkata, “Doa.”
“Selain itu?”
Gara tersenyum—kali ini sedikit lebih lebar. “Tetaplah di sampingku.”
---
Note dari Author:
Wkwkwk, segitu aja dulu ya. Double update nih biar kalian senang!
Oh iya, selamat ulang tahun untuk Gara yang ultah tanggal 8 Desember! 🎂🎉
Semoga tetap jadi bos yang keren dan mengintimidasi, ya, Gar!
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Fiksi RemajaSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
