Gara memasuki mansion, melihat Daddy dan Mommy-nya sudah menunggunya.
“Oh, kalian menungguku? Ini soal anak pungut itu, kan?” tanya Gara dingin.
“Gara, kami ingin bicara serius,” ucap Mommy lembut.
Anya yang mengintip dari ruang makan tersenyum senang.
“Apa benar kau menyakiti Anya?” tanya Daddy Lion dengan serius.
“Aku tidak akan menyakitinya kalau dia tidak menyakitiku duluan,” jawab Gara santai.
“Kenapa? Kenapa kau membenci Anya?” tanya Lion penasaran.
“Karena dia sumber penderitaanku, simpel saja,” jawab Gara tanpa beban.
Deg.
“Oh, dan dia bukan adikku, dan selama-lamanya tidak akan pernah jadi adikku.”
“GARA!!” teriak Mommy.
Plak! Terpukul kata-kata itu.
“Sudahlah, Mas,” ujar Mommy menenangkan.
“Tapi Mom, aku sudah biasa. Rasa sayang itu cuma untuk Anya, bukan untukku,” kata Gara dengan senyum dingin pada Dina.
Deg.
“Apa maksudmu, Nak?”
“Itu benar, bukan? Kau membenciku, tak menyayangiku, dan menganggapku sampah. Benar, kan Daddy?” suara Gara melembut, tapi penuh kepedihan.
“Oh ya, dua hari lagi jangan sampai tidak datang. Aku punya kejutan untuk kalian, dan setelah itu kalian akan menyesal seumur hidup karena telah membuatku menderita.” Gara pergi ke kamarnya, meninggalkan Daddy, Mommy, dan Anya yang marah sekaligus kesal.
---
Hari ini hari ulang tahun sekolah, sekaligus hari kejutan untuk Anya diungkap.
“Terima kasih sudah hadir di acara peringatan 12 tahun berdirinya sekolah ini. Terima kasih juga untuk donatur dan anak murid yang saya sayangi,” kata kepala sekolah dengan senyum dipaksakan. Para murid tampak ingin muntah.
“Dan hari ini ada seseorang yang ingin memberi kejutan,” lanjut kepala sekolah.
“Silakan, Nak Gara, maju ke depan.”
Deg.
“Kalian lihat ke belakang,” kata kepala sekolah.
Semua menoleh ke layar, terkejut melihat video yang sangat memalukan: Anya sedang melakukan hal yang tak pantas dengan seorang pria tua.
---
Suasana langsung gaduh.
“ANYA!!” teriak seseorang.
Plak!
“Saya menyesal telah mengadopsi anak kurang belaian seperti kamu!” kata Gara dingin sambil menatap Anya dengan tatapan menusuk.
Jadi dia anak adopsi?
Pantesan Gara benci.
Kasihan Gara.
Emang dasar lonte!
Lonte apa?
Lontong sate, pakek nanya lo?
Plak!
“Emang anak gak tau untung kamu!!” teriak Dina marah.
“Sudahlah Mom, biar Gara yang urus dia,” jawab Gara dengan senyum mengerikan.
“Ingat, jangan sampai terluka,” ucap Angga, abang Gara.
“Iya, Bang.”
Tiba-tiba, segerombolan orang berjas hitam dan memakai topeng datang, menangkap Anya.
“Siapa mereka?” tanya Xian bingung. Vino yang ikut datang tampak sangat terkejut dan mengenali mereka.
---
“Pergi,” perintah Gara.
“Yes, Father,” jawab mereka serempak. Gara mengambil pisau dari atas meja.
“Mari kita bermain, Anya.” Anya gemetar ketakutan.
“Dasar bajingan! Ayahku akan membunuh kalian! Hiks...” air mata mengalir.
Gara hanya tersenyum.
“Oh ya? Sebelum itu, aku sudah membunuh ayahmu duluan.”
Sret.
Gara menyayat wajah Anya hingga berdarah, lalu menulis sesuatu di kulitnya: “AKU LONTE.”
“Hahaha... kulitmu bagus juga, bagaimana kalau aku buat jadi tas pajangan?” ucap Gara dingin.
“Hiks... maksudmu apa?” Anya belum selesai bicara, pergelangan tangannya dipotong Gara.
“Hiks... aaahhh... sakit, tolong... hiks...” jerit Anya bergema.
“Mengampunimu? Tidak akan pernah!” kata Gara penuh kesenangan.
Gara beralih ke pahanya, mencakar-cakar dengan pisau.
“Hiks... sakit, ampun... hiks... Ayah pasti akan membalas, hiks...” Anya merintih.
Gara tersenyum, lalu mengambil air panas yang sudah disiapkan.
“Minum!”
Anya menggeleng.
“AKU BILANG MINUM!!” teriak Gara, lalu menyiramkan air panas ke tubuh Anya.
“Aaahhhh... panas, tolong... hiks... sakit...” tapi Gara tak peduli, terus menyiksa.
“Terserah kau, memang gila!” suara seseorang di belakang.
Cih, siapa dia? Gara memutar badan.
“Sekedar berkunjung, eh, ada hal menarik,” ucap Jevan, tangan kanan Gara, dengan mata berbinar.
“Cih... ini...” Gara mendorong Anya ke arah Jevan.
“Bermainlah, aku lelah. Tapi ingat, jangan sampai mati,” kata Gara.
“Siap, Bos,” jawab Jevan.
“Mari, gadis manis, kita bermain.”
---
Vomen
Vote
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
