CHAPTER 30

3.5K 121 4
                                        

Yooooooo aku cepat tin nihh, kasihan

Dan jangan pukul aku pakek panci emak kalian..

🫂

Xian memandang punggung Gara yang semakin menjauh, rasa ingin tahunya membara, sementara pikirannya semakin dipenuhi oleh berbagai spekulasi. Setelah Gara keluar, ia merasakan hening yang aneh menguasai ruangan, hanya ditemani oleh detak jantungnya yang terasa menggema di telinganya.

Dia duduk di kursi dekat meja kerjanya, mencoba memproses semuanya. Adik kandung? Alsan? Bagaimana mungkin ia tidak pernah mendengar tentang ini sebelumnya? Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Dan lebih penting lagi, apa yang Gara ketahui tentang Alsan yang dia tidak tahu? Pikirannya kembali ke saat-saat ketika Gara pertama kali mulai bersikap aneh. Itu sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu, namun ia tidak pernah menyangka bahwa ini berhubungan dengan rahasia sebesar ini.

Xian merasa perlu melakukan sesuatu, meskipun Gara memintanya untuk menunggu. Namun, rasa sabarnya semakin tipis, terutama ketika hal ini menyangkut keluarga mereka. Ia tidak bisa membiarkan ketidakpastian ini terus menggantung tanpa jawaban. Pikirannya berputar—bagaimana ia bisa mencari tahu lebih banyak tentang Alsan tanpa menimbulkan kecurigaan? Mungkin ada orang lain yang mengetahui sesuatu. Ia berpikir sejenak, lalu teringat pada kakek mereka.

Kakek adalah orang yang selalu tahu lebih banyak dari yang ia ungkapkan, selalu misterius dan penuh rahasia, namun di saat-saat tertentu, dia sering memberikan petunjuk yang tidak langsung. Xian meraih ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi kakek.

"Kakek, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan," kata Xian begitu panggilan terhubung.

Suara kakeknya terdengar berat dan pelan, seolah-olah ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan. "Baiklah, Xian. Temui aku di rumah tua kita sore ini."

Xian merasakan perasaan tidak nyaman yang aneh merayap ke dalam dirinya, tetapi ia tahu tidak ada pilihan lain selain mencari tahu. Sore itu, ia segera menuju ke rumah tua mereka—sebuah tempat yang menyimpan banyak kenangan masa kecil, namun kini terasa sunyi dan sepi.

Setibanya di sana, Xian disambut oleh pemandangan rumah besar dengan dinding yang mulai kusam, pohon-pohon tua di halaman, dan suasana yang dipenuhi oleh angin sore yang dingin. Kakek sudah menunggu di beranda, duduk di kursi kayu dengan pandangan yang kosong ke arah kebun.

"Masuklah, Xian," kakek mengisyaratkan dengan tangan.

Xian mengikuti kakek ke dalam, ruangan dalam rumah itu terasa penuh dengan kenangan lama. Kakek duduk di sofa tua, dan Xian pun ikut duduk di seberangnya. Hening sejenak menyelimuti mereka sebelum kakek akhirnya berbicara.

"Aku tahu apa yang kau ingin tanyakan, Xian," suara kakek terdengar rendah, penuh makna. "Tentang Alsan, bukan?"

Xian menahan napas. "Bagaimana kakek tahu?"

Kakek tersenyum tipis. "Karena aku adalah bagian dari rahasia itu."

Xian merasa ada sesuatu yang mengencang di dadanya. "Jadi, benar... Alsan memang adikku?"

Kakek menatap Xian dengan mata yang penuh rahasia. "Ya, dia adikmu. Tapi bukan sembarang adik, Xian. Dia... adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang melibatkan masa lalu keluarga kita."

Xian merasa dirinya semakin terperangkap dalam labirin misteri ini. "Apa maksud kakek dengan 'lebih besar'? Gara juga mengatakan hal yang sama, tapi dia tidak menjelaskan apa pun."

Kakek terdiam sejenak, seolah-olah mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia ungkapkan. "Keluarga kita, Xian, bukanlah keluarga biasa. Ada warisan yang telah lama tersembunyi, kekuatan yang hanya diwarisi oleh beberapa generasi. Gara tahu ini, dan sekarang kau juga harus tahu."

Xian mengerutkan kening. "Kekuatan? Warisan apa yang kakek bicarakan?"

"Kekuatan itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah, Xian. Ini adalah sesuatu yang ada dalam darah kita, sesuatu yang diwariskan dari leluhur kita. Gara sudah mengetahuinya lebih dulu, karena dia dipersiapkan untuk itu. Namun, sekarang waktunya kau juga mulai memahami peranmu dalam semua ini."

Xian merasa pusing. Semua ini terdengar seperti sesuatu yang terlalu fantastis untuk menjadi kenyataan. Kekuatan? Warisan dari leluhur? Dia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Jadi, maksud kakek... aku juga terlibat dalam ini?" Xian bertanya, suaranya terdengar tak percaya.

Kakek mengangguk pelan. "Benar. Kau dan Gara. Kalian berdua memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sesuatu yang lebih besar dari yang bisa kau bayangkan. Gara sudah memulai pelatihannya. Tapi kau, Xian, baru sekarang mulai mengetahuinya."

Xian merasa tubuhnya melemas. Segala yang ia pikir ia ketahui tentang keluarganya terasa terbalik seketika. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku dari awal? Kenapa harus sekarang?"

"Karena waktunya belum tepat," jawab kakek dengan nada sabar. "Kau harus memahaminya, Xian, bahwa beberapa hal hanya bisa diungkapkan saat kita sudah siap menerimanya. Gara sudah memikul tanggung jawab ini lebih dulu karena dia lebih siap. Alsan... dia memiliki jalannya sendiri. Dan sekarang, giliranmu."

Xian menunduk, mencoba mencerna semua yang baru saja ia dengar. "Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?"

Kakek menghela napas, tatapannya penuh dengan rasa kasih dan kebijaksanaan yang mendalam. "Pertama, kau harus berbicara dengan Gara. Dia yang akan membimbingmu ke tahap berikutnya. Dan kedua, kau harus belajar untuk memahami apa yang ada di dalam dirimu, kekuatan yang kau warisi. Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan cepat. Ini adalah proses yang panjang dan sulit, tapi kau tidak sendiri."

Xian menatap kakeknya dengan penuh kebingungan dan rasa hormat. Meskipun ia masih belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, ia tahu satu hal: ini adalah jalan yang harus ia tempuh, apa pun yang terjadi.

"Terima kasih, Kek," kata Xian dengan suara rendah, namun penuh makna.

Kakek tersenyum hangat. "Jangan khawatir, cucuku. Kau akan menemukan jawabannya, satu per satu."

Xian berdiri, merasa beban yang sangat besar berada di pundaknya, namun juga perasaan tanggung jawab baru yang mulai tumbuh dalam dirinya. Dengan langkah berat, ia meninggalkan rumah tua itu, kembali menuju keluarganya—dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, tapi dengan tekad untuk menemukan semuanya.

Saat Xian berjalan menjauh, ia tahu bahwa ini baru permulaan.

Ang ang ang

Muahahahah kalian baru masuk ke inti cerita inti loh, dimana perang akan segera dimulai..

Kalian siap?

Btw aku dobel update 😌

VOMEN
VOTE







TBC


jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang