Siap! Ini aku satukan versi revisi hangat-emosionalmu dengan adegan kematian Aldo yang penuh duka dan dendam. Transisinya aku buat halus biar mengalir dari momen hangat ke tragedi yang mengubah segalanya. Cek hasil gabungannya di bawah ini:
---
Gara membawa Alsan ke apartemennya. Di sana, suasana lebih tenang, tapi air mata Alsan masih mengalir, terjebak dalam trauma yang mendalam.
“Hei, semuanya akan baik-baik saja, Alsan. Abang ada di sini, jadi jangan takut, hm…” suara Gara lembut dan penuh penghiburan.
Ada keinginan kuat di dalam dada Gara untuk membuka semuanya, mengungkap rahasia dan masa lalu yang selama ini tersembunyi. Tapi ini belum waktunya. Kesabaran adalah kunci — Gara harus menunggu saat yang tepat.
Dengan penuh kasih, Gara membelai puncak kepala Alsan dan memeluknya erat, menyalurkan kehangatan yang ia bisa berikan. Dalam hati, Gara bersumpah akan menghancurkan keluarga yang sudah membuat adiknya menderita.
“Abang…” suara kecil menarik perhatian Gara.
Alsan dengan lembut menarik lengan baju kakaknya. Gara menoleh, menatap mata adiknya yang masih penuh ketakutan. “Apa yang mau kamu katakan, Alan?”
“Bang… gue takut. Gue takut mereka bakal datang lagi,” suara Alsan gemetar.
Gara menenangkan, “Jangan khawatir, Alan. Abang akan jaga kamu sebaik mungkin. Mereka nggak akan pernah bisa menyakitimu lagi. Abang akan lindungi kamu dengan sekuat tenaga.”
Alsan menyandarkan kepala di bahu Gara, mencari kehangatan yang selama ini hilang, dan menemukan kenyamanan di pelukan kakaknya.
Gara terkekeh, mencoba mencairkan suasana. “Sudah masak, nih, anggota geng cemberut.”
Alsan sedikit tersenyum, meski wajahnya masih kelihatan gelisah.
“Anggota geng juga manusia, kan?” balasnya pelan.
Gara tersenyum penuh kasih, menatap adiknya yang selama ini hilang dan tiba-tiba hadir di depan matanya.
Alsan, yang diculik sejak bayi oleh suruhan Tuan Brama yang menyamar sebagai perawat, kini berdiri nyata di depan Gara. Mereka teringat bagaimana Dina, ibu mereka, sempat stres berat bahkan depresi, tapi perlahan kuat kembali berkat cinta anak-anak dan suaminya.
“Adik abang ini benar-benar lucu,” ucap Gara sambil tertawa kecil.
Mereka tertawa bersama, kebahagiaan itu terpancar jelas di wajah mereka yang kini saling melengkapi.
Namun tawa mereka tak berlangsung lama.
Ponsel Gara tiba-tiba berdering. Nama Aryo muncul di layar—tangan kanannya di lapangan. Gara mengangkatnya tanpa pikir panjang.
“Ada apa?” tanyanya cepat.
Suara Aryo terdengar gugup, gemetar.
“Bang… Aldo…”
“Kenapa Aldo?” Gara berdiri refleks, nada suaranya berubah.
“Dia… dia udah nggak ada, Bang. Barusan anak-anak nemuin dia di bawah jembatan rel. Kayaknya dibuang setelah... ya Allah, Bang, kayaknya ini kerjaannya Delon.”
Dunia Gara runtuh seketika. Napasnya tercekat.
“...Nggak.” Suara itu nyaris tak terdengar dari bibirnya. “Aldo…”
Ponselnya jatuh. Alsan menatap kakaknya dengan bingung dan cemas.
“Bang? Ada apa?”
Gara tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke depan, lalu berbisik lirih, “Aldo… udah nggak ada.”
Alsan membeku. Meski tak begitu mengenal Aldo, ia bisa merasakan betapa hancurnya Gara saat itu.
“Aldo itu... udah abang anggap adik sendiri.” Gara memejamkan mata, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Dia... selalu ada buat abang. Dan sekarang…”
Tanpa banyak bicara, Gara langsung mengambil jaket hitamnya dan beranjak keluar. “Abang harus ke pemakaman. Lo di sini aja dulu, San. Abang balik nanti.”
Beberapa jam kemudian, pemakaman dipenuhi lautan hitam. Mobil-mobil dan motor besar milik geng berhenti satu per satu. Semua anggota hadir. Tak ada suara. Hanya angin dan isak tangis kecil yang terdengar di sela doa.
Gara berdiri di depan makam. Batu nisan bertuliskan:
Aldo Revanza
2006–2025
“Saudara tak harus lahir dari darah. Kadang, mereka datang dari kesetiaan.”
Gara menjatuhkan diri di depan makam. Tangannya menggenggam tanah merah yang masih basah.
“Maaf, Do… abang gagal jagain lo.”
Para anggota geng yang lain ikut terdiam. Beberapa menunduk, beberapa menggenggam bunga putih. Tak ada yang bisa berkata-kata.
Gara berdiri perlahan, menatap langit yang kelabu. Wajahnya berubah dingin. Pandangannya penuh tekad.
“Delon…” suaranya nyaris seperti bisikan setan.
“Lo udah nyentuh satu hal yang nggak boleh disentuh. Lo ambil adik gue. Sekarang, gue bakal ambil segalanya dari lo.”
---
Vomen
Vote
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
