Hari ini hari Senin.
Hari yang paling dibenci oleh seluruh umat manusia—setidaknya itulah yang dirasakan oleh para murid sekolah.
"Tu kepala sekolah lama bet dah ceramahnya," keluh Andri, mengusap wajah lelah.
"Biasalah, kepala sekolah kita kan doyan curhat," timpal Rega sambil bersandar di tiang bendera.
Di belakang mereka, Gara berdiri bersandar di pagar. Earphone hanya terpasang satu, sebelah lainnya menjuntai bebas di leher. Wajahnya tenang, tapi jelas bosan. Ia hanya menghela napas malas, menatap langit yang mendung seolah mewakili suasana hatinya.
Tiba-tiba—
Bruk!
Aldo, yang berdiri tak jauh dari mereka, jatuh tersungkur ke tanah.
"Aldo!!" teriak Gara, lebih cepat dari siapa pun.
Tanpa berpikir panjang, Gara langsung mengangkat tubuh Aldo dengan gaya bridal carry. Satu tangan menopang di bawah lutut, satunya lagi menyokong di belakang punggung. Ia berjalan cepat, tak peduli pada tatapan murid-murid lain. Tatapannya tajam, wajahnya tetap dingin meski di matanya ada kekhawatiran nyata.
---
UKS.
Beberapa menit kemudian, Aldo sudah berbaring di ranjang. Dokter sekolah datang tergesa.
"Dia pingsan tiba-tiba," ucap Gara singkat.
Dokter memeriksa dengan alat sederhana, namun tampak serius. Tak lama, ia mengangguk pelan, wajahnya berubah suram.
"Pasien ini... punya indikasi kanker otak. Saya sarankan segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Gara terdiam sejenak. Tidak ada ekspresi panik, tidak ada air mata. Tapi sorot matanya berubah.
"Hm. Bawa dia," ucapnya dingin.
Dokter pun keluar dari ruangan untuk menyiapkan rujukan.
Beberapa menit kemudian, Aldo membuka matanya perlahan.
"Eh... Bos?" gumamnya lirih.
Gara menatapnya tanpa kata, lalu... tersenyum kecil.
Senyum dingin. Namun ada kehangatan samar di baliknya.
"Do."
"Hm?"
"Kau punya kanker otak."
Aldo menunduk. Lalu... tersenyum.
"Ah... itu udah lama, Bos. Gak usah dipikirin."
Plak.
Gara menjitak kepala Aldo.
"Akh... Bos!"
"Jangan seenaknya. Lo pikir ini penyakit receh?"
Aldo hanya tertawa kecil. "Biarin aja, Bos."
Gara memandangi wajah Aldo. Ia tahu anak ini keras kepala, terlalu cuek terhadap dirinya sendiri.
Lalu, suara Gara berubah dingin dan tajam.
"Lo cuma punya dua pilihan. Keluar dari geng Altara... atau lo obati kanker lo."
Aldo terdiam. Kata-kata itu bukan sekadar ultimatum. Itu perintah.
"B-Bos..."
"Diam."
Gara menatap lurus ke dalam mata Aldo. Tatapan itu tak main-main. Dingin. Keras. Namun... penuh kepedulian yang dibungkus rapat.
"Jangan nyerah, Do. Gue... sayang sama lo," bisik Gara.
Tanpa aba-aba, ia menarik Aldo ke pelukannya. Tegas. Hangat.
Aldo, yang selalu bersikap ceria dan kuat di depan teman-teman gengnya, akhirnya pecah. Air matanya jatuh, tanpa bisa ditahan.
"Tapi... Bos... Papa benci sama gue..."
Gara menarik diri sedikit, menatap Aldo lurus.
"Siapa yang berani benci wakil ketua Altara?"
"Papa...?" suara Aldo goyah.
"Papa lo, ya? Adek tau... abang juga dulu dibenci sama keluarga abang sendiri. Termasuk Daddy gue."
Aldo terdiam. Ia merasa... hangat. Mendengar Gara menyebut dirinya adek—itu bukan sekadar panggilan. Itu pengakuan. Sebuah ikatan.
"Tapi, Bos..."
"No." potong Gara.
"Panggil gue Abang. Mulai sekarang, lo adek gue."
Aldo menatapnya, matanya masih basah. Lalu ia tersenyum lirih.
"Abang..."
"Good."
Gara mengangguk ringan. Kemudian berdiri.
"Ayo, sarapan."
---
Kantin.
Gara dan Aldo duduk di sudut kantin, tak jauh dari jendela. Aldo masih terlihat lemah, tapi semangatnya mulai kembali. Di depannya sudah tersedia semangkuk bubur ayam dan teh hangat.
"Makanlah."
Aldo menatap makanan itu, lalu menoleh ke Gara yang sedang duduk menyilangkan kaki, tangan diselipkan di saku jaket.
"Bang..." panggil Aldo pelan.
"Hm?" sahut Gara tanpa menoleh.
"Gue jadi gak enak, udah nyusahin Abang."
Gara hanya mendesah pelan. "Terserah lo. Tapi mulai sekarang, lo tanggung jawab gue."
Aldo tersenyum.
"Kalau gitu... makasih, Abang."
Dari kejauhan, Angga memperhatikan mereka diam-diam. Sorot matanya sulit dibaca. Entah cemburu, entah ragu, atau mungkin... merasa bersalah.
VOMEN
VOTE
TBC...
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Ficção AdolescenteSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
