CHAPTER 34

1.8K 69 0
                                        

Markas Keluarga Bramaja – Aula Utama

Gara menatap tajam ke arah Delon, napasnya mulai memburu. Semakin banyak yang ia dengar, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalanya. Tapi satu hal yang paling mengganggunya sejak awal…

"Aku harus tahu satu hal lagi," ucap Gara dengan suara bergetar tapi tegas. "Kenapa aku bisa dihidupkan kembali? Kenapa aku bisa berpindah ke dunia ini? Apa sebenarnya… yang kalian inginkan dariku?"

Delon menatapnya lama. Ia melangkah pelan ke arah sebuah rak tua di sudut ruangan, menarik satu buku besar berkulit kulit hitam usang, lalu meletakkannya di atas meja batu di tengah aula.

"Karena kamu, Gara… bukan manusia biasa. Kamu bukan hanya keturunan pelindung 'Segel Langit'. Kamu sendiri adalah bagian dari segel itu."

Gara mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Bertahun-tahun lalu," lanjut Delon, "ayahmu melakukan sesuatu yang dilarang: ia membuka segel untuk menyelamatkan nyawamu yang seharusnya sudah tiada. Kau mati, Gara. Waktu itu. Tapi darah kalian... terlalu berharga untuk dibiarkan hilang begitu saja."

Delon membuka halaman kitab, memperlihatkan lukisan simbol mata dan lingkaran berdarah.

"Untuk menyelamatkanmu, jiwamu disegel—dipindahkan ke dunia lain—dunia yang kita sebut 'Bayangan Ketiga'. Dunia itu bukan tempat manusia biasa, tapi kamu... kamu bisa bertahan di sana. Karena kamu bagian dari keseimbangan antara kekuatan dan kehancuran."

Gara perlahan mundur selangkah, matanya melebar. "Jadi... aku selama ini... hidup di dunia yang bukan milikku?"

Delon mengangguk. "Dan sekarang segelnya mulai melemah. Kamu kembali karena waktunya hampir tiba. Dunia ini akan berubah, dan darahmu—juga darah Alsan—akan menentukan apakah dunia ini akan bertahan... atau hancur."

**

Sementara Itu – Di Jalan Menuju Markas Bramaja

Alsan duduk di kursi belakang ambulans modifikasi, dijaga oleh Xian dan dua orang dari jaringan rahasia milik Dokter Yara. Ia menggenggam surat yang disalin Xian dari berkas Ranti.

"Aku tidak tahu siapa aku sebenarnya," gumamnya. "Tapi aku tahu satu hal... aku nggak bisa membiarkan Gara menghadapi semua ini sendirian."

Xian menoleh, sorot matanya mantap. "Kalau kalian berdua memang warisan dunia ini... maka saatnya rebut kembali hak kalian."

Alsan menatap jalanan malam yang gelap, sementara di kejauhan, markas keluarga Bramaja mulai terlihat—dengan lampu-lampu yang menyala seperti benteng terakhir sebelum badai besar.

**

Kembali ke Dalam Aula

Gara masih menatap kitab yang terbuka.

"Kalau semua ini tentang darah... kalau semua ini tentang kekuasaan... lalu apa yang kamu inginkan, Delon?"

Delon terdiam sejenak, lalu matanya menyala dingin.

"Aku ingin memastikan bahwa darah itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Dan satu-satunya orang yang cukup kuat untuk mengendalikannya… adalah aku."

Gara mencengkeram jaketnya sendiri, jantungnya berdetak kencang. Ia bisa merasakan sesuatu dalam tubuhnya mulai bergetar, seolah segel dalam dirinya perlahan terbuka.

"Aku bukan alatmu," desisnya.

Delon tersenyum tipis. "Tapi kamu juga bukan manusia biasa, Gara. Kamu—dan adikmu—adalah warisan dari langit dan kegelapan itu sendiri."

**

To Be Continued...

VOMEN
VOTE


TBC

jadi adik protagonis(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang