BAB: Kebenaran yang Terlambat
Gara kembali melangkah masuk ke dalam mansion keluarga Wijaya. Di ruang tengah, seluruh anggota keluarganya telah menunggu. Udara terasa berat, seakan rumah itu tahu ada luka yang belum pernah benar-benar disembuhkan.
“Ada apa?” tanya Gara dingin.
Sang ayah, Lion, menatap anaknya dengan mata penuh penyesalan. “Maaf, Gara…”
“Oh? Baru sekarang?” balas Gara dengan senyum getir.
Lion menggertakkan rahang. Kata-kata anaknya menampar kenyataan yang selama ini ia abaikan.
“Dulu, saat aku dijauhi teman-teman karena hal yang bukan salahku, Daddy di mana? Saat aku dibully sampai hampir mati, Daddy di mana? Mommy, waktu aku jatuh dari sepeda, kau bahkan tidak bilang ‘Anak Mommy nggak apa-apa’, kan?”
Gara menatap ibu dan saudara-saudaranya satu per satu.
“Bang Vino, saat aku cari perhatian, abang cuma cuek dan malah menghindar. Bang Xian? Selalu dingin, seolah aku nggak pernah ada. Bang Angga? Lebih mementingkan geng daripada adiknya sendiri. Ini yang kalian sebut keluarga?”
Suasana menjadi hening. Tak ada yang bisa membantah ucapannya.
“Kalian semua menjadikan Anya sebagai prioritas. Dan sekarang? Gara sudah menghancurkan prioritas kalian itu.”
Vino maju perlahan, suaranya pelan, “Gara…”
“Kalian marah karena aku punya geng? Tapi saat Bang Angga punya geng, Daddy malah bangga.”
Gara menunduk, suaranya mulai bergetar, “Gara tahu semuanya… Tentang masa lalu. Saat SMP… Gara hampir mati karena semua bully-an itu.”
Semua orang terpaku. Vino mendekat dan memeluk adiknya.
“Gara capek, Bang…”
“Kalau Gara capek, istirahatlah… Tapi jangan tinggalin abang, ya.”
Gara mengangguk kecil, lalu melepaskan pelukan itu. Ia mengeluarkan selembar foto dari saku celananya dan melemparkannya ke meja.
“I-ini…” Suara sang ibu tercekat.
Foto itu memperlihatkan tubuh Anya yang terikat, jempol tangan yang sudah tidak ada, dan luka di wajah dengan tulisan: AKU LONTE.
“Ini hukuman karena kalian mengusikku. Lain kali coba lagi, kalian bisa bernasib sama.”
Gara pun berbalik dan berjalan naik ke kamarnya, meninggalkan keluarganya dalam ketakutan dan rasa bersalah yang dalam.
“Dia sangat menyeramkan…” gumam Angga.
Xian hanya mendesah pelan, menyembunyikan ketakutannya di balik wajah dingin.
---
Di kamar, Gara menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghela napas panjang.
“Kenapa gue jadi begini? Sialan… ini pasti efek dari pemilik asli tubuh ini,” gerutunya.
Ia pun berbaring di tempat tidur. Tapi saat membuka mata kembali, ia tidak berada di kamarnya.
“Ini… di mana?”
Pemandangan indah membentang luas di depannya. Langit biru bersih, hamparan bunga, dan danau tenang. Terlalu damai.
“Surga?” gumamnya.
“Satria.”
Gara—atau Satria, begitu nama aslinya—menoleh. Ia melihat sosok yang tak asing.
“Lo… Gara?”
“Iya. Gue yang asli,” jawab sosok itu dengan senyum tenang.
“Jadi… lo masih hidup?”
“Enggak. Gue udah mati. Dan lo juga,” jawab Gara ringan. “Tapi tubuh itu sekarang punya lo. Anggap aja hadiah.”
Satria menggertakkan gigi, kecewa. “Jadi gue gak bisa balik lagi?”
Gara menepuk pundaknya. “Enggak. Tapi makasih… lo udah balas dendam buat gue.”
Gara mulai memudar. “Lo masih punya banyak rintangan ke depan. Jangan lengah, Satria.”
“Eh! Gara—! Lo mau ke mana?”
“Ke tempat gue seharusnya. Hati-hati, ya…”
Seketika, Satria merasakan sakit di kepalanya. Semuanya berputar… dan gelap.
Saat ia terbangun, ia sudah berada kembali di kamarnya, dalam tubuh Gara.
“Rintangan… apa maksudnya?”
VOMEN
VOTE
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
