🎭 Chapter Khusus: Angga & Viona
"Gendong," ucap Gara dengan mata setengah tertutup.
Angga tersenyum senang, lalu langsung menggendong adiknya seperti koala.
"Bang, Gara berat nggak?" tanya Gara sambil memeluk leher Angga.
"Nggak tuh, malah ringan kayak kapas. Kamu beneran makan nggak sih?"
"Abang bohong ya."
"Nggak, serius."
Mereka berdua masuk ke kantin. Semua mata tertuju pada mereka.
"Kenapa mereka natap kita, Bang?" bisik Gara.
"Gak tahu, biarin aja." Angga nyengir lalu membawa Gara ke tempat duduk geng Alxex dan mendudukkannya di pangkuan sendiri.
"Bang, aku udah besar, tahu!" protes Gara.
"Tapi bagi abang, kamu tetap kecil."
Tiba-tiba…
"Angga~"
Angga refleks berdiri karena terkejut, membuat Gara terjatuh dari pangkuannya.
"Aw!" Gara meringis sambil memijat pantatnya.
"Hehe… maafin kakak iparmu ya," ucap Viona dengan senyum manis yang dibuat-buat.
Gara hanya menatap tajam, lalu kembali duduk.
"Lo apaan sih!" bentak Angga ke Viona.
"Jangan mentang-mentang lo tunangan gue, lo bisa semena-mena!"
"Ih, Angga mah gitu."
Angga menggeram kesal, lalu meninggalkan kantin dengan langkah cepat.
—
Bisik-bisik mulai terdengar.
> "Itu tunangannya Angga ya? Kok kayak..."
"Terlalu manja banget sih."
"Gue malah nggak suka, semoga aja mereka putus."
"Bener, gak cocok banget mereka."
Semua bisikan itu sampai ke telinga Viona. Ia terdiam. Pandangannya kosong.
Selama ini, Angga memang tidak pernah menginginkan pertunangan itu. Ia dijodohkan. Dan selama ini pula... hanya Viona yang terus mengejar.
Tak tahan, Viona bangkit dan berlari mengejar Angga. Saat ia berhasil menyusul, ia menggenggam tangan Angga erat.
"Ga..."
"Kenapa lagi?"
"Maaf."
"Lo udah sering ngomong kayak gitu, tapi tetap aja ngulangin kesalahan yang sama," ucap Angga, nadanya tajam.
"Aku serius kali ini."
"Kalau lo beneran minta maaf... putusin aja pertunangan kita."
"Oke."
"Hah?"
"Aku capek, Ga."
Viona meninggalkan Angga, berjalan pelan kembali ke kelas. Angga hanya terdiam, bingung dan… kosong.
—
Sudah satu minggu sejak itu. Viona tak pernah muncul lagi di rumah.
"Bang, ini udah seminggu. Viona kok gak pernah ke rumah lagi ya?" tanya Gara sambil makan buah.
"Biasanya tuh anak kayak jelangkung," seloroh Gio.
"Entahlah..." Angga menunduk. Ada perasaan aneh di hatinya.
Kehilangan?
"Angga."
"Ya, Mom?"
"Keluarga Viona mau datang hari ini."
Angga tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat. Entah karena gugup… atau harapan.
"Oh."
"Bilang aja lo kangen," goda Gio.
"Nggak, ah."
—
Keluarga Viona tiba. Viona pun datang bersama mereka. Ia tampak berbeda. Lebih dewasa, lebih tenang… dan lebih dingin.
"Ma, Pa. Viona mau ngomong."
"Apa, sayang?" tanya Mama Viona.
"Aku… mau mengakhiri pertunangan ini."
DEG.
Angga yang sedang minum langsung menyemburkan air ke wajah Gio.
"BUSSSEET!" teriak Gio panik, mengelap wajahnya.
"Nak, apa maksudmu?!" seru Papa Viona marah.
"Sudah dua tahun, Pa. Kami nggak cocok. Lagian… Viona sekarang sudah punya pacar."
Bohong. Tapi ia ingin bebas.
"Nggak bisa gitu dong!" bentak papanya.
"Nak, jangan begini," bujuk Dina.
"Apa Angga menghasut kamu?" tanya pamannya, Lion.
"Tidak, Paman. Ini keputusanku sendiri."
Papa Viona menatapnya lama. Akhirnya ia menarik napas berat.
"Baiklah. Kalau itu yang kamu mau."
Angga hanya menunduk. Di balik kelegaannya… ada sakit yang tidak bisa ia jelaskan. Kenapa hatinya terasa sesak?
Viona menunduk. Ada air yang menggantung di matanya. Tapi ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
—
Besoknya, Angga pergi ke sekolah dengan lesu. Di kantin, ia hanya diam bersama Gara.
"Bang, lo kenapa?"
"Hm."
Hari itu terasa berat. Dan bertambah buruk saat ia melihat Viona sedang tertawa… bersama cowok lain.
"Itu Viona, kan?" ucap Devan.
"Cepet banget move on-nya."
"Diam!"
Angga berdiri, berjalan cepat, dan menarik Viona ke UKS.
"Lo!"
"Kenapa? Gue salah apa?" ucap Viona, sekarang menggunakan ‘gue-lo’, bukan ‘aku-kamu’ seperti dulu.
Itu menusuk hati Angga.
"Siapa cowok tadi?!"
"Bukan urusan lo!" Viona mendorong Angga sampai ia jatuh ke lantai.
"Gila, gede juga tenaganya," pikir Angga sambil mengernyit.
"Lo berubah."
"Lo yang bikin gue berubah."
VOMEN
VOTE
TBC
-
KAMU SEDANG MEMBACA
jadi adik protagonis(END)
Teen FictionSatria, si dingin tingkat dewa. Dia hanya akan berbicara dengan keluarganya. Gara, pemuda dengan julukan "si cerewet", saking cerewetnya sampai dibenci banyak orang. Lalu, bagaimana jika Gara yang sudah tak kuat dengan hidupnya, memutuskan untuk men...
