IBU

62 11 2
                                        

Setelah membeli minuman itu, Ona langsung meninggalkan pedagang tersebut.

Sekitar dua puluh menit kemudian, ia pun sampai di rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam—terlalu larut. Ona takut ayahnya mencarinya.

Begitu membuka pintu dan melangkah masuk, ia mendapati ayahnya sedang duduk di ruang tengah, menunggu. Entah kenapa, sejak kejadian sore tadi, Ona justru merasa muak melihat wajah ayahnya sendiri.

“Ona.”

Ona memutar bola matanya malas. Ia berjalan nyelonong menuju kamarnya tanpa menjawab sepatah kata pun.

“ALEONA DENA ANANDA!” teriak ayahnya dengan suara keras.

Namun Ona tak menggubris. Ia langsung menaiki tangga dengan langkah cepat.
Sesampainya di kamar bernuansa hitam putih—warna kesukaannya—Ona berniat langsung tidur. Tapi baru saja ia meletakkan tas, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Ibu tiri dan adik tirinya masuk, lalu menutup pintu rapat-rapat.

“Ona!” bentak ibu tirinya.

“Saya sudah memperingatkan kamu! Jangan dekat-dekat Algara! Deva—anak saya—suka sama dia!” katanya sambil menunjuk Ona.

Ona hanya tersenyum miring.
“Hak apa Anda melarang saya? Dia pacar saya. Saya tegaskan sekali lagi, dia pacar saya,” ucap Ona sambil melipat tangan di dada.

“Ish, Kak Ona kok jahat sih?” ujar Deva dengan suara dibuat-buat.
Ona mendengus. “Cih! Dasar bitch. Naksir Algara padahal sudah tahu dia pacar saya.”

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipi Ona. Ia tersenyum tipis, lalu menyeka darah di sudut bibirnya.

“Jaga omongan kamu, Ona! Anak saya bukan bitch. Justru kamu itu yang bajingan!” bentak ibu tirinya.
Ona tersenyum smirk.

Plakk.

Plakk.

Plakk.

Kini giliran Ona menampar ibu tirinya tiga kali berturut-turut. Rasanya masih belum cukup, tapi ia takut ayahnya datang dan menyalahkannya lagi.

“Lagipula ya, Tante,” ucap Ona dingin, “yang murahan itu anak Tante. Sama om-om aja mau dicium. Jijik.”
“Kakak kok gitu?” suara Deva terdengar sok polos.

“Kakak jahat sama Deva,” lanjutnya, matanya berkaca-kaca.

“Ih, pick me banget. Najis,” balas Ona.
Deva terdiam sambil melepas kacamatanya.

“Kalau kamu masih ingin hidup, jangan pernah melawan aku, Aleona,” ucap Deva dengan nada dingin.

Ona tertawa terbahak, hampir menangis.
“Emangnya lo mau apa?”

Deva mendorong Ona, mengira ia akan terjatuh. Tapi tubuh Ona sama sekali tak bergeming.

“Haha, segitu doang kemampuan lo?” ejek Ona. “Gue ngantuk. Mending kalian tidur daripada cari masalah. Mau mati sekarang terus besok dikuburin?”
Ibu dan anak itu pun akhirnya pergi—takut Ona benar-benar bertindak nekat.

🧸

Tepat pukul setengah enam pagi, Ona terbangun. Tidurnya tak nyenyak karena kejadian semalam. Setelah mandi, ia turun untuk sarapan.

Di meja makan, ayahnya, ibu tiri, dan Deva tampak tertawa bahagia.

“Cih.”

Ona duduk dan mengambil roti. Tatapannya berhenti pada Deva, lalu ia tersenyum miring.

“Tumben nggak pakai kacamata?”
“Kak Ona lupa ya? Kacamata aku kan dihancurin Kak Ona tadi malam,” jawab Deva dengan wajah mengada-ada.

“Serah lo,” balas Ona malas.
“Bener itu, Ona?” tanya ayahnya.
Ona menggeleng, meyakinkan bahwa bukan dia pelakunya.

“Tega banget kamu! Adik kamu salah apa?”
“Ish! Kenapa selalu Ona yang disalahin? Kenapa, Yah?” bentak Ona.
“Udah, males. Ona pergi.”

Ia pun berlalu tanpa menoleh lagi.

Sesampainya di sekolah, Ona melihat Albi berdiri di depan gerbang.

“Hey albi, nunggu siapa?  lagi apa?”

Albi terkejut. “Astaga, ngagetin Ih ganggu banget," Ona cengengesan.

“Hehe ya maaf,"

“Lagi diem aja sih, napa emang?"
" Gak sih nyapa aja, yaudah gue pergi dulu yah, bay!"

Ona pun berjalan menuju kelas.

Blukk!

“Aduh, kalau punya mata dipakai dong!” gerutu Ona yang terjatuh.
“Eh, maaf. Sini aku bantu,” ujar seorang cowok sambil mengulurkan tangan.
Ona menerimanya. Begitu berdiri, ia terpaku.

“Maaf ya, kamu nggak apa-apa?”
“Nggak kok,” jawab Ona sambil tersenyum. Demi apa, ganteng banget.

“Nama kamu siapa?”

“Ona. Kamu?”

“Ganendra. Panggil Ganen aja.”

“Kelas mana?"

“Kelas 3 IPA B.”

“Serius? Sama dong!” seru Ona antusias.
Sejak saat itu, entah kenapa Ona merasakan kehangatan yang asing.
Saat istirahat, Ona dan Mika sedang makan nasi goreng ketika melihat Ganen kebingungan mencari tempat duduk.

“Ganen, sini!” teriak Ona.
“Boleh gabung?” tanya Ganen.
“Boleh,” jawab Mika—meski dalam hati ia terpukau.

“Ganteng njir,” batinnya.
Sore harinya, Ona menginap di rumah Mika. Namun setelah bertemu ibu Mika dan merasakan suasana tak nyaman, ia memutuskan pulang.

Di rumah, ayahnya langsung memarahinya.
“Kenapa kamu mukulin Deva? Lihat tangannya lebam!”

“Tapi Ona nggak ngelakuin itu, ayah harus percaya sama ona daripada mereka, aku anak ayah!” bela Ona.

“Bohong,Kamu mukulin dia!”
Ona menatap Deva dengan amarah mendidih.

“Dia salah karena hadir di hidup Ona! Gara-gara dia dan ibunya, hidup Ona hancur! dan tau kenapa gue benci sama lo? Karena tiap gue butuh ayah, yang dipeluk malah lo.”

Plak

Tamparan mendarat di pipi Ona.
“Kenapa Ayah tampar aku?” teriaknya sambil menangis.

" Karena ayah benci sikap keras kepala kamu, ayah gak pernah ngajarin itu semua!"

Ibu tirinya ikut menampar.
“Anak saya bukan jalang seperti yang kamu bilang, camkan itu!"

Ona menyerah. Ia berlari ke kamar dan menangis sambil memeluk foto ibunya.

“Ibu...Ona kangen,"
Sejak ibu kandungnya meninggal, hidup Ona benar-benar runtuh.

“Ibu… bisa nggak kita ketemu sekali aja?” lirihnya sebelum akhirnya tertidur.

ONA..!!  (TAMAT!)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang