😃 : Selamat tahun baru! Apa resolusi tahun lalu yang berhasil kamu capai?
🙂 : Tetap hidup.
😃 : Lalu, apa resolusi tahun ini?
🙂 : Tetap hidup.
😃 : Hehehehe.
🙂 : Hehehehe.
_____
Aku tidak akan mati dalam waktu dekat, walaupun sangat ingin.
Berdasarkan pengalaman pribadi, seringnya Tuhan memberikan kebalikan dari apa yang kuinginkan. Jadi, walaupun aku tidak makan dua hari, mengkonsumsi merlopam di luar dosis, dan berdiri di puncak gedung tanpa pengaman seperti ini, aku tidak akan tewas.
"TUHAN, APA KAU DENGAR AKU?" aku berteriak sambil menatap langit. Awan berarak pelan, matahari muncul di baliknya. "AKU MAU HIDUP, TUHAN!"
Kalau analisisku benar, Tuhan seharusnya mengabulkan kebalikan ucapanku. Tornado akan muncul, menyapu tubuhku hingga tepi. Tubuhku terlahap hingga akhirnya membentur tanah. Mungkin terasa sakit, tapi pasti tidak akan semengerikan yang kualami selama ini.
"Dasar anak haram tolol! Bisa-bisanya IP-mu turun!"
...
"Siapa yang ngizinin kamu makan di sini? Pindah sana ke dapur!"
...
"Si gila ini memang bikin malu. Ngapain keluar kamar? Mau nyari belas kasihan karena sudah digebukin Ayah?"
...
"Harusnya lo nggak pernah lahir, Luca."
...
Aku menghela napas sambil menatap ke bawah. Angin berembus ketika kupandangi miniatur-miniatur di hadapanku. Jalanan, atap gedung perkuliahan, pohon-pohon, manusia, semua tampak seukuran kuku. Tidak ada yang tahu aku berdiri di sini, kecuali kalau aku lompat sekarang.
Lompat. Sekarang.
Lompat. Sekarang.
Lompat. Sekarang.
Tunggu, tahan sebentar. Kalau aku terjun, rencanaku akan sia-sia. Kalau aku menyerah, Karan dan Gatan akan jauh lebih terluka. Kalau aku mati, siapa yang akan menjaga Mama Maya?
Pertanyaan terakhir membuat jantungku berdebar lebih kencang. Sistem saraf otakku bekerja sangat keras. Darah mengalir cepat, membuat napasku tercekat. Tanpa bisa dicegah, tanganku yang berkeringat menyentuh wadah berisi merlopam di saku celana.
Aku membuka botol obat dengan jari-jari gemetar. Beberapa butir bertebaran ketika aku menadahkan tangan. Napasku pendek-pendek dan kurasakan keringat muncul menjilati pelipis.
Ketika satu butir masuk ke mulut, barulah segalanya terasa membaik. Napasku kian teratur. Tremorku mereda. Aku bisa mengendalikan diri.
Lompat. Sekarang.
Aku menegakkan kepala dan merentangkan tangan. Angin kembali menerpa sekujur wajah. Bulu-bulu dalam tubuhku meremang saking dinginnya.
Aku benci mengatakan ini tapi aku memang ingin mati. Kalau kata mati terlalu vulgar, baiklah, akan kukoreksi. Aku ingin menghilang!
Tidak ada yang akan sadar kalau aku menghilang. Eksistensiku tidak terlalu berpengaruh pada peradaban dunia. Aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Aku bahkan sangsi jika ada manusia ——kecuali keluargaku—— yang tahu bahwa aku ini "ada".
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Luca
Genel KurguWalaupun sangat ingin, Luca Abadi percaya dirinya tidak akan mati dalam waktu dekat. Seperti halnya hari itu, ketika sudah siap bunuh diri, Clarinna si presiden mahasiswa malah datang memergokinya. Perjumpaan itu membuat segalanya kacau--dalam versi...
