Mengpanik

1K 247 41
                                        

Siapa di sini yang cita-citanya mati di usia 21 tahun, mengenaskan, tidak berkontribusi ke keluarga atau ke negara, dan selama hidupnya menjadi beban?

_____

Aku menelan merlopam ketika leherku terasa dicekik. Aku juga berusaha mengatur napas. Menahan diri untuk tidak membentur-benturkan kepala ke tembok halte.

Darahku mulai mengalir lebih tenang namun lututku masih gemetar. Kepalaku berputar, memikirkan hal-hal buruk soal pertemuanku dengan Clarinna barusan. Tidak. Tidak. Tidak. Gumamku sambil menjambak rambut.

Clarinna akan mengabaikan yang barusan, kan? tanyaku entah pada siapa. Tidak juga. Mudah baginya meng-influence orang-orang tentang pertemuan barusan.

Aku tidak bisa berpikir jernih. Cepat kuambil ponsel dan kucari nama Gatan. Dia tidak menjawab panggilanku. Dia mungkin sedang nge-gym atau kencan dengan salah satu pacarnya.

Aku lantas mencari kontak Karan. Kusambung telepon dan dia langsung menyetujui di dering pertama.

"Hallo, Luc. Eh, tunggu. Lo seharusnya masih di Dokter William, kan?"

Aku menyandarkan punggung ke tembok. Siang terik begini tidak ada orang di halte. Tempat transit ini memang jarang disinggahi. Malah kadang supir transjakarta langsung meluncur meski aku menantinya.

"Gue ketemu seseorang di klinik ini," aku menceritakan.

"Astaga. Terus-terus?"

"Dia hapal muka, bahkan nama gue."

"Jangan bilang orang itu Clarinna."

"Memang dia. Tapi dia bakal ngelupain itu, kan?"

"Kayaknya nggak." Perutku terasa mual saat Karan menjawab pertanyaanku. Bukan tanpa alasan dia dipanggil Miss Happiness Killer. "Dia pasti tahu ada sesuatu yang salah sama lo."

Aku berusaha tidak terpancing kendati lututku kembali gemetar. Ah, aku menyesal menghubungi Karan. Harusnya Gatan yang kutelpon. Dia tidak pernah membuatku resah. Dia jauh lebih tangguh di antara kami.

"Gimana ini, Luc? Haruskah gue ngelakuin sesuatu?"

Suara Karan benar-benar senewen. Kalau sedang saling tatap, bisa kulihat matanya berkilat ketakutan. Jemarinya tremor. Keringat di dahinya bermunculan.

"Gimana kalau ternyata dia punya hubungan sama petugas di sana? Ingat visi misinya waktu nyalon jadi presma? Nggak nutup kemungkinan dia akan cari tahu juga. Nanti dia akan tahu kalau lo sering ke sana."

Aku menggeleng frustrasi. Kubuka lagi botol di saku dan kuraih pil di dalamnya. Aku agak geram menyadari kalau merlopam yang diresepkan mulai tidak berefek lagi, alias harus tambah dosis. Sialan!

Omongan Karan bisa jadi benar, bisa juga benar sekali. Oh, sial! Bagaimana ini? Ayah pasti marah kalau tahu ada yang melihatku di tempat Dokter William.

Aku bisa membayangkan besok, beberapa mata akan melihatku dengan pandangan penuh selidik. Beberapa mungkin akan saling berbisik. Lihat, anaknya Pak Surya ternyata sakit mental. Malu-malui banget padahal bapaknya orang berpendidikan.

"Luc, lo masih di sana?"

"Yyy .. ya."

"Kalau nanti keluarga lo nyalahin, tutup kuping saja. Omongan mereka nggak benar, Luc. Lo bukan aib."

Aku memijat pelipis lalu mengerjap berat. Karan sedang berusaha menghibur meski sebenarnya lebih khawatir. Dulu Karan pernah mengalami hal tidak menyenangkan yang membuatnya selalu resah.

Waktu kelas lima SD, Karan dikirim surat oleh anak kelas sebelah. Nahas, surat itu ditemukan guru. Entah bagaimana ceritanya, guru itu memanggil Karan dan si pengirim, lalu melakukan sesuatu yang membuat Karan tidak akan pernah lupa kejadian itu.

"Masih kecil sudah bikin surat cinta!" Guru itu memelotot. Menunjuk-nunjuk muka si pengirim surat.

"Mmm... .aaf, Bu. Iiii itu puisi, bbbb... bukan surat cinta."

"Ayo, bacakan suratmu keras-keras!" kata guru itu. Mengabaikan tubuh si pengirim dan Karan yang gemetar. "Biar orang-orang tahu bakatmu sebagai pujangga cilik."

"Nggak mau, Bu. Mmmm malu."

"Kalau gitu, biar Ibu panggil orangtuamu."

Si pengirim surat tidak mau membacakan suratnya keras-keras tapi ia lebih takut jika kejadian ini dilaporkan pada orang tuanya. Dengan terpaksa anak itu membacakan surat di samping Karan yang menahan malu.

"Kk —— kk —— kamu ——"

"Bacakan yang keras atau ibu bawakan mikrofon?"

Si pengirim surat menggeleng dengan bahu gemetar. Tanpa mikrofon pun semua atensi terarah kepadanya. Ini masih jam istirahat. Ruang guru tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak yang ingin tahu kelanjutan surat cinta si pujangga cilik. Termasuk murid-murid yang mengintip lewat jendela.

"Ayo, lebih lantang lagi, Pujangga Cilik!"

Karan sudah hampir menangis saking malunya. Kini rombongan kakak kelas juga datang untuk menyaksikan. Semua terkekeh dan tertawa.

"Kamu lebih manis dari cokelat yang kamu beri.

"Kamu seperti bunga. Menarik dan menyegarkan.

"Hati dan rautmu sama menawannya.

Karan, sang guru, dan semua mata bisa melihat anak laki-laki itu gemetar menahan tangis. Sekujur badannya tremor. Wajahnya semerah kepiting rebus. Keringat bercucuran hingga kemejanya lepek.

"Bu, dia pipis di celana! Ih, bau ompol."

Semua orang makin terbahak. Tidak sampai sana, beberapa guru mengabadikan adegan itu dengan ponsel terangkat. Kalau bisa memilih, anak itu lebih ingin menerjunkan diri dari gedung ketimbang dipermalukan begini.

Aku pernah bertanya pada Karan bagaimana kabar anak itu sekarang, jawabannya selalu sama : dia pergi.

"Menur —— "

"Luca!"

Ucapan Karan terpotong ketika seseorang meneriakkan namaku. Seketika jantungku berdebar lebih keras. Aduh! []

16 Januari 2023

Luka LucaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang