Beberapa orang ingin pulang lebih cepat meskipun jemputan mereka belum datang.
_____
"Luca! Gue panggilin dari tadi, buset!"
Ternyata Gatan yang memanggilku. Cowok itu duduk dengan gagah di atas motor ninjanya yang bewarna merah. Senyumnya miring tapi percaya diri.
"Ternyata Gatan, Kar," aku dan Karan masih tersambung lewat ponsel. Kukabari hal barusan supaya Miss Happiness Killer tidak lewah pikir.
Terdengar embusan napas lega di seberang telepon, bersamaan dengan Gatan yang mendekat ke arahku.
"Sorry, telat. Habis anterin si tobrut ke salon," kata Gatan seraya mendekatiku. Dengan kaos oblong putih, otot di lengan Gatan tampak bersembulan. Aku selalu minder kalau berdiri di sampingnya. "Jadi, apa yang gue lewatin?"
Alih-alih menjawab, aku mengeraskan volume suara ponsel terlebih dahulu.
"Luca ketemu Clarinna di tempat Dokter William." Suara Karan dari ponselku terdengar menggema. Aku kembali menekan volume sampai maksimal.
Si tinggi berotot bertanya, "Terus gimana?
"Gue kabur," jawabku jujur.
"Aduh, tolol. Kenapa nggak minta nomornya?"
Karan berdecih. "Gatan, teman kita ini lagi panik!"
"Tiap saat itu mah," Gatan bicara sambil menjitak jidatku. "Padahal lumayan kalau bisa dapat nomornya. Toket dia lumayan yahut, loh."
"Gatan!" ucapku dan Karan bersamaan.
Aku merasa tidak enak karena Gatan bicara soal fisik perempuan saat ada Karan. Temanku yang tinggi berotot ini memang tolol. Mulutnya tidak punya filter. Semua disemprotkannya sesuka hati. Heran pula kenapa aku masih berteman dengannya.
"Oke, back to the topic," ujar Gatan. "Jadi, apa masalahnya sekarang?"
"Kalau ada satu orang yang tahu, semua orang akan tahu," Karan mewakili jawabanku.
Gatan menggeser posisi duduk. "Tenang, Luc. Semua akan baik-baik saja," katanya. "Apa, sih, yang ada di pikiran Clarinna pas ngelihat lu? Dia mungkin akan ngira lu lagi nganterin teman."
"Siapapun tahu temannya Luca cuma kita, Gat."
Terima kasih sudah mengingatkan, Miss Happiness Killer.
"Kalau gitu, coba jawab ini. Tadi lu nggak ngelakuin hal-hal aneh, kan?"
Aku mengingat-ingat, kemudian menyesal. Aku sempat meneriaki bahkan menyenggolnya sampai jatuh. Apakah Clarinna akan berpikir aku manusia aneh? Labil? Emosian? Aku tidak tahu. Sekarang baru kusadari diriku terlalu kasar. Pikiran buruk membuat reaksiku sekacau itu.
"Gue nggak sengaja bikin dia jatuh," jawabku ketika Gatan mengulangi pertanyaan.
"Nice. Lu jadi punya alibi untuk ketemu dia lagi. Silakan minta maaf."
"Gat, lo gila? Ketemu lagi? Luca mana berani."
Terima kasih, Karan. Sudah mengingatkan. Lagi.
"Gimana kalau gue saja yang datengin dia?"
Gatan tiba-tiba menyeringai. Aku tahu apa yang ada di pikirannya sehingga kugelengkan kepala dengan keras.
Kami bertiga bungkam untuk sekian detik. Kemudian baru kusadari seseorang mengguncang pundakku. Bukan Gatan, tapi——
"Duh, si Mak Lampir," celetuk Gatan. "Kalau buka kakak lu, sudah gue ajak skidipapap."
Kak Gista menampar-nampar pipiku, mengguncang pundak, lalu memanggilku untuk sekian kali. "Sadar, Luca! Sadar!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Luka Luca
General FictionWalaupun sangat ingin, Luca Abadi percaya dirinya tidak akan mati dalam waktu dekat. Seperti halnya hari itu, ketika sudah siap bunuh diri, Clarinna si presiden mahasiswa malah datang memergokinya. Perjumpaan itu membuat segalanya kacau--dalam versi...
