Mata Jinan terbuka perlahan, lehernya sedikit terasa sakit karena tidur dengan posisi tengkurap seperti tadi. Meski sudah beralaskan bantal, Jinan tetap merasa pegal disana.
Dengan sedikit mengerang, Jinan bangun dan mengubah posisinya menjadi terlentang diatas sofa itu. Ia memejamkan mata lagi untuk membiasakan diri dengan rasa sakit yang ia rasakan.
Tak berapa lama, Jinan merasa rasa sakit itu pergi perlahan. Matanya kemudian melirik jam di dinding ruangan pribadi Cindy, betapa terkejutnya ia saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Astaga! Aku ketiduran!" Jinan langsung terduduk karena terkejut. Ia ingat tadi Chika, Marsha, dan Ashel masih di bawah dan menunggunya.
"Udah bangun kamu, Nan?"
Suara Cindy langsung membuat Jinan menoleh, ia melihat bidadari yang tengah cosplay menjadi manusia itu duduk di meja kerjanya dan menghadap sebuah laptop. Matanya terhalang oleh sebuah kacamata minus dan rambutnya terikat asal membentuk sebuah bun yang gemas.
Jinan kemudian berdiri dan berjalan menuju ke meja wanita itu, "Cind, kok ga bangunin Jinan sih tadi?"
Ditanya seperti itu membuat Cindy langsung mendongak, menatap Jinan dengan mata yang bingung menelisik wajah sang gadis.
"Aku udah bangunin kamu pake barongsai tapi kamu ga bangun-bangun, Nan," jawab Cindy sekenanya, "lagian kenapa kebo banget sih jadi manusia?"
Jinan mendecakkan kakinya kesal karena jawaban Cindy sama sekali tidak membuatnya tenang. Ia lantas berjalan ke arah pintu hendak keluar dari ruangan itu. Tapi Cindy memanggilnya dan bertanya mau kemana? Jinan kemudian menoleh dan menatap Cindy dari kejauhan.
"Anter adik-adik aku pulang, lah. Mana aku bawa Ashel lagi."
"Mereka udah pulang." Sang gadis bingung karena jawaban Cindy, "tadi aku pesenin taksi karena kamunya ga bangun-bangun."
"Hah?" Jinan lantas mengambil ponselnya yang ternyata tertinggal di sofa, ia menelepon Chika dan menanyakan keberadaannya. Gadis itu bilang dia dan Marsha sudah di rumah, Ashel juga sudah sampai di rumahnya dengan selamat. Tapi tetap saja Jinan masih kesal karena dirinya sendiri yang lalai.
"Hahhh..." Helaan napas yang terdengar berat keluar dari mulut Jinan. Ia berjalan ke arah sofa dan bersandar disana sambil mengusap wajahnya kasar. Lelah sekali rasanya ia beberapa waktu belakangan ini. Kinan sudah meminta Jinan untuk bersiap-siap tentang kenaikan jabatan dan reveal identitas asli Jinan pada semua orang di kantor. Dan mau tidak mau ia harus mempersiapkan banyak hal.
Celine yang melihat bagaimana kerasnya Jinan berusaha bahkan merasa iba. Ia selalu melihat Jinan lembur sampai malam, dan skip makan siang karena itu.
Jinan sampai jarang berkunjung ke Aurora kafe karena kesibukannya. Membuat Jinan juga ikut jarang bertemu dengan Cindy. Hari ini saja ia sedikit senggang dan bisa menemani Chika sampai menjemput Marsha di sekolah. Tapi badannya tidak bisa dibohongi jika ia kelelahan.
Melihat Jinan yang nampak murung seperti itu membuat Cindy berpikir, hal apa yang membuat gadis ceria seperti Jinan terlihat tidak bersemangat. Apalagi saat ini, selalunya Jinan nampak bahagia jika bersama Cindy.
"Kenapa, hm?" Cindy tiba-tiba duduk di samping Jinan, dan tanpa aba-aba juga gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Cindy.
"Gapapa, cuma capek aja," jawab Jinan. Cindy tersenyum melihat ujung hidung Jinan dari posisinya duduk sekarang. Ia tahu ada hal yang Jinan pendam tapi tidak ia katakan padanya.
"Capek doang? Banyak kerjaan ya di kantor? Atau ada yang bikin kepikiran? Cerita aja, Nan. Aku dengerin."
Oh, suara lembut Cindy rasanya masuk melalui telinga dan memeluk hati Jinan dengan hangat. Jinan ingin sekali mendengarnya setiap saat.
"Tadi kenapa ga kasih kunci mobil aku aja ke Chika? Dia kan bisa naik mobil," ucap Jinan, mengalihkan topik sepertinya.
"Ya aku gatau Chika bisa naik mobil, dia juga gada bilang gitu."
Jinan berdehem menjawab itu. Matanya terpejam karena merasakan bagaimana nyamannya berada di dekat istri orang ini. Ah, Cindy...
"Kalau bisa naik mobil kenapa harus kamu jemput tiap hari, Nan? Dulu aku liat ada mobil lain di rumah kamu, kan?" Well, Bi Sisil tidak semiskin itu karena bekerja di rumah Kinan. Tidak ada sejarahnya keluarga Tanumihardja menelantarkan pekerja di rumah yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun seperti Bi Sisil.
"Emang agak laen anaknya. Manja banget, heran."
Cindy terkekeh mendengar itu, ia tiba-tiba menarik tangan kiri Jinan dan menggenggamnya diatas pahanya sendiri. Jinan yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan berusaha menahan gejolak di hatinya. Astaga, detak jantungnya terasa seperti lari maraton saja ini.
"Aku berani taruhan kalau ntar kamu dah nikah terus punya anak, pasti kamu bakal jadi good mom banget buat mereka, Nan. Sama adek-adek kamu aja perhatian banget gitu."
Hm, ucapan Cindy seakan menyuruhnya untuk memilih cinta yang lain selain Cindy. Tidak, Jinan tidak suka itu. Jinan tidak mau menikah. Tidak jika bukan Cindy yang menjadi pendampingnya.
"Males banget, gamau nikah aku," ucap Jinan dengan nada yang benar-benar malas.
Cindy tentu bingung dengan apa yang Jinan katakan, "loh? Kenapa gamau nikah?"
"Gamau, maunya sama satu orang. Tapi orangnya gabisa jadi milik aku," jawab Jinan seadanya, sejujurnya.
"Hm? Kenapa emang?"
"Dia udah nikah sama orang lain." Cindy tertawa saat mendengar jawaban Jinan. Betapa lucu gadis ini di matanya, ternyata seorang Jinan bisa gagal move on juga.
"Cari yang lain, lah! Kamu tuh cantik, Nan. Pinter, baik, perhatian lagi. Terus juga udah kerja, di Mahagita Corp. Aduh, kamu tuh perfect banget, pasti banyak yang mau sama kamu."
"Ya kalau aku maunya sama dia, ya dia. Gabisa yang lain, orang cintanya cuma sama dia." Jinan bangun dari posisinya dan menatap Cindy lekat tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Cindy.
"Emang siapa orangnya? Kata Chika kamu jomblo."
Mata Jinan tetap sama, menatap Cindy dengan teduh dan tidak mau melepaskannya barang sedetikpun.
Apa mungkin ini saatnya untuk bilang suka? Apa tidak apa-apa jika Jinan bilang padanya? Bagaimana nanti reaksi Cindy jika ia confess? Apa hubungannya dengan Cindy akan tetap sama?
"Kalau aku bilang orangnya kamu, gimana?"
Selesai sudah!
Jinan mengatakannya pada Cindy, kalimat yang ia takutkan keluar kini terucap dibawah pengaruh sadarnya yang sebatas baru bangun tidur.
"Apa?"
Hah, Jinan benci sekali, penyakit kurang dengar Cindy malah kumat disaat seperti ini. Saat Jinan tidak mampu untuk mengulang kata-katanya. Saat Jinan gugup setengah mati.
"A-aku... Aku suka sama kamu, Cind. Aku tau ini salah, banyak kesalahan yang terjadi pada perasaanku padamu tapi aku... Aku ga bisa nahan lagi. Maaf. Aku minta maaf." Jinan menunduk dalam dan menahan tangisnya yang hendak meledak saat itu juga. Rasanya ingin mati saja pada detik itu, Jinan tidak mampu menahan manisnya cinta dan pahitnya sekaligus dalam satu waktu, pada satu gadis yang ia cintai.
Mata Cindy sendiri tidak mampu menahan air mata karena ucapan Jinan barusan. Munafik jika ia bilang tidak merasa nyaman saat bersama gadis itu. Dusta besar jika Cindy bilang tidak mempunyai rasa sayang pada Jinan. Tapi sadarnya masih tersisa untuk mengingat ia sudah memiliki suami. Pikirannya masih sedikit jernih untuk sekedar ingat Jinan juga perempuan, sama sepertinya. Dua alasan itu sudah cukup untuk membuat Cindy membatasi diri dan menganggap Jinan sebagai sahabatnya saja.
Dan sekarang, Jinan malah meruntuhkan dinding yang sudah Cindy buat dengan susah payah saat ia mengatakan perasaannya.
Oh, Jinan, betapa terlambatnya kita bertemu.
Jinan mendongak karena tidak mendengar jawaban apapun dari Cindy. Tidak ada dorongan risih, atau sekedar melepaskan pegangannya pada tangan Jinan.
Mata Jinan bertemu dengan mata Cindy yang sudah menangis. Air matanya turun membasahi pipi dan nampak semburat sayang dan penyesalan terlihat disana. Jinan bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, apa maksud diamnya Cindy sekarang?
Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama?
Sepertinya Jinan mendapat keberanian dari Dewa Petir untuk mendekatkan wajahnya pada Cindy. Perlahan, Cindy melihat gadis itu memejamkan mata dan semakin mendekat padanya. Pikirannya menyuruh Cindy untuk menahan Jinan, tapi hatinya berkata untuk ikut memejamkan mata. Dan suara hatinya lah yang Cindy pilih. Ia memejamkan netranya dan menunggu Jinan sampai. Seperti sewindu Cindy menunggu, hingga sebuah kelembutan dan rasa manis menyapa bibirnya sendiri. Pelan, namun dalam.
Jinan menciumnya, tepat di bibir.
Keberanian Jinan sepertinya menular pada Cindy, gadis itu tiba-tiba menggerakkan bibirnya untuk mengulum bibir bawah Jinan dengan lembut. Jujur, ini adalah first kiss Jinan. Ia tidak tahu apa-apa sampai Cindy menuntunnya ke level yang lebih tinggi.
Perlahan Jinan mulai terbiasa dan ikut mengulum bibir Cindy bergantian, menyesapnya lembut dan semakin membasahinya dengan ujung lidahnya sendiri. Terasa sangat manis bagi mereka, manis, dan intim.
Saat Jinan meminta izin untuk masuk ke dalam mulut Cindy, wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia langsung menarik diri sampai Jinan ikut memajukan wajahnya lagi untuk mencari bibir Cindy yang terlepas dari pagutannya. Kedua matanya terbuka dan melihat Cindy yang menunduk dalam.
"Ga... Ga, Nan. Ini salah. Kita ga bisa..."
Jinan sadar akan apa yang barusan ia perbuat, ada sedikit sesal di dalam hatinya tapi lebih sakit saat melihat Cindy yang seperti tersiksa menahan gejolak dalam dirinya sendiri.
Tangan Jinan dengan lembut mengusap air mata di pipi gadis itu dan tersenyum getir menatapnya yang berusaha menahan tangis.
"Maaf."
Hanya kata maaf yang bisa Jinan ucapkan. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk membawa Cindy ke dalam pelukannya. Ah, pengecut sepertinya mana mungkin bisa mendapatkan sosok seperti Cindy?
Saat keduanya larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba pintu ruangan Cindy terbuka dan seseorang masuk ke dalam dengan terburu-buru. Jinan dan Cindy langsung menoleh dan melihat siapa yang baru saja datang itu.
"Reyhan?"
Cindy langsung berdiri dan berlari menghampiri pria itu yang berdiri di dekat pintu.
"Sayang!"
Reyhan langsung memeluk Cindy dan sepertinya nampak senang sekali. Pemadangan macam apa yang Jinan lihat saat ini?
"Sayang, aku punya kejutan buat kamu. Coba tebak apa?" Reyhan melepas pelukannya dari Cindy dan langsung menggenggam dua tangan sang istri.
"Hm? Apa?"
Wajah Reyhan nampak sangat bahagia dari sudut pandang Jinan sekarang. Tidak biasanya ia benci saat melihat pegawai ayahnya bahagia.
"Aku dapat promosi buat naik jabatan! Bos suka sama presentasi aku buat cabang di Bali dan dia ngasih aku promosi buat jadi manager!"
Kabar bahagia itu langsung membuat Cindy senang bukan kepalang. Dan tidak menampik fakta bahwa Jinan juga senang mendengarnya, itu berarti Reyhan akan naik gaji, dan bisa menafkahi Cindy lebih baik lagi. Ia harus berterimakasih pada Kinan untuk ini.
Merasa dirinya semakin mengecil di ruangan ini, Jinan lantas memilih untuk berdiri dan mendekati keduanya.
"Ekhem, Cind? Aku pulang dulu, ya?"
Reyhan yang baru menyadari ada orang lain di ruangan ini langsung terkejut, "eh, ada orang?"
Jinan hanya tersenyum canggung membalas kebingungan Reyhan, "iya, dan ni orang abis nyipok bibir istri lo!" batin Jinan kesal.
"Eh, Rey, kenalin, ini Jinan. Temen yang waktu itu aku ceritain," ucap Cindy memperkenalkan mereka. Reyhan dengan senyumnya yang mempesona langsung mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Jinan.
"Hai, Jinan, gue Reyhan. Makasih ya udah jagain istri gue pas gue pergi," ucap Reyhan tulus.
Sementara itu Jinan hanya mengangguk sambil tersenyum paksa, "anytime."
To be continue...
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐥𝐚𝐲𝐢𝐧𝐠 𝐖𝐢𝐭𝐡 𝐅𝐢𝐫𝐞 | 𝐂𝐢𝐍𝐚𝐧
Fanfiction"Jinan bego, suka kok sama istri orang." -Aya JNN x CND gxg • mature content HeroesLegacy©2022
