Dengan langkah pelan, seorang gadis berambut sebahu berjalan mendekati Cindy yang duduk di dekat jendela sebuah rumah. Matanya kosong menatap langit kota Yokohama yang pagi ini nampak membiru. Lamunannya tak lepas dari senyum Jinan yang seminggu ini selalu ia rindukan.
Bukan, bukan hanya senyuman gadis itu, tapi semuanya. Semua yang berhubungan dengan Jinan ia rindukan, caranya membuatnya tenang, jokesnya yang selalu lucu di batas humor Cindy, bagaimana serunya perang antara Jinan dan Chika, gemasnya Marsha, bahkan wajah tenang Jinan saat tertidur juga Cindy rindukan.
"Cindy-san, apakah anda mau ikut sarapan di bawah? Atau mau saya bawakan kesini?"
Apakah dia bisa bertemu Jinan lagi?
Setelah ia memilih Reyhan satu minggu yang lalu, apakah ada kesempatan lagi untuknya melihat gadis itu?
"Apa Reyhan sudah ada disini, Flora?"
Gadis bernama Flora itu berjalan semakin ke depan sampai sejajar dengan Cindy dan ikut menatap apa yang gadis itu lihat.
"Sudah di udara, Cindy-san. Kenapa? Anda merindukannya?"
Cindy menggeleng pelan, ia sudah cerita semua ke Flora soal yang terjadi dalam hidupnya, tentang Reyhan dan Jinan. Entah kenapa ia bisa percaya pada gadis kepercayaan suaminya itu sampai membeberkan perselingkuhannya dan mengaku kalau ia lebih mencintai Jinan. Intuisinya mengatakan untuk bercerita pada Flora.
"Ah, must be that Jinan girl, right?" Senyum Flora terulas saat melihat Cindy menunduk sambil menyembunyikan wajah malunya.
Mungkin setelah ini ia hanya bisa mengingat Jinan dan tersenyum seperti orang gila seperti sekarang. Tanpa bisa menyentuh gadisnya, bahkan entah bisa bertemu lagi atau tidak jika nanti Reyhan sudah bersamanya.
* * *
Telepon Kinan berdering ketika ia sarapan bersama Veranda, Chika, dan Marsha. Nama Sekretaris Yona terpampang di layar tapi Kinan berusaha mengabaikan panggilan itu, soalnya, Veranda suka cemburu jika tahu Yona menelepon suaminya. Padahal itu menyangkut masalah pekerjaan.
"Kenapa ga diangkat?" tanya Veranda saat menyadari kalau ponsel Kinan sudah berdering selama 3 kali.
"Dari Yona. Paling cuma tanya jam berapa ke Balinya," ucap Kinan santai. Ya, hari ini rencananya ia akan kembali ke Bali untuk memulai pembangunan proyek disana.
"Emang Yona ikut?"
Kinan baru sadar jika Yona tidak ikut dalam trip hari ini. Lantas kenapa dia telepon sampai berkali-kali seperti ini?
"Angkat gih, siapa tau penting," ucap Ve.
Kinan langsung mengangkat telepon itu dan mendengar nada panik dari sang sekretaris di ujung sana yang memanggil namanya.
"Pak Kinan! Pak gawat, Pak!"
Kinan langsung buru-buru minum air putih untuk membantunya menelan makanan, "ada apa, Yona? Kenapa panik begitu?"
Terdapat gap sedikit dari Yona yang terdiam selama beberapa detik, mungkin bingung bagaimana mengatakan apa yang terjadi pada sang Bos besar.
"Yona?"
"Eh-- anu, Pak Kinan. Saham kita jatuh pagi ini, Pak. Semua uang perusahaan juga raib, kita disabotase, Pak!" Veranda dan dua anaknya langsung was-was saat melihat air muka Kinan yang berubah.
"Kamu jangan bercanda, Yona! Semalam masih aman, kan?!"
"Baru saja, Pak! Ini perusahaan sedang kalang kabut karena semua cabang juga mengalami penurunan drastis secara tiba-tiba, Pak."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐥𝐚𝐲𝐢𝐧𝐠 𝐖𝐢𝐭𝐡 𝐅𝐢𝐫𝐞 | 𝐂𝐢𝐍𝐚𝐧
Fanfiction"Jinan bego, suka kok sama istri orang." -Aya JNN x CND gxg • mature content HeroesLegacy©2022
