13| Surprise

1.8K 288 51
                                        

Sudah hampir empat minggu berlalu sejak aku kecelakaan dan hanya melakukan aktivitas yang membebani Ilham di unit mansion kami. Di hari-hari pertama sepulang dari rumah sakit, Ilham bahkan membantuku mandi dan mencuci rambut. Pernah beberapa kali dia menyuapiku, dan juga memakaikan mukena saat aku akan salat. Semua dia lakukan dengan penuh kelembutan, tetapi dalam matanya bisa kulihat bahwa perasaan kecewanya padaku belumlah surut.

Sepertinya Ilham memang sudah teramat lelah menjalani pernikahan ini, dan sebentar lagi pasti akan menceraikanku. Meski sampai sekarang sejak hari itu tak ada perkataan apa pun lagi dari mulutnya, tetapi justru itu yang membuatku gelisah.

Setiap detiknya aku dihantui kekhawatiran hebat, bagaimana kalau tiba-tiba saja Ilham menjatuhkan talak padaku. Dan parahnya, karena ketakutan itulah, akhirnya tiap malam aku kesulitan tidur. Keringat dingin akan membanjiri tubuhku, sementara dada ini terasa sesak, saat bayangan bahwa Ilham bisa jadi akan mengatakan kata-kata talak sewaktu-waktu dia ingin, datang dan meracuni otakku.

Pernah suatu malam Ilham membangunkanku dengan wajah cemas, dan segera membantuku duduk untuk mengatur napas serta meminum segelas air putih yang dia bawakan. Katanya aku berteriak-teriak sampai keringat dingin membanjir di tubuhku.

Kemudian aku bertanya padanya tentang apa yang kuteriakkan, dan dengan wajah agak sedih, Ilham menjawab, "Kamu manggil-manggil  Hito."

Tentu saja aku langsung tersinggung saat itu. "Gila kamu, Ham! Mana mungkin aku manggil Hito, kalau di mimpiku aja sama sekali enggak ada dia!"

Namun, Ilham malah balas menatapku dengan kesal. "Tapi, kenyataannya kamu manggil Hito, dan aku enggak bohong. Buat apa aku bohong, Sil!" Lalu, setelah terdiam selama beberapa saat, dia berdiri dan melanjutkan, "Toh kalau emang bener kamu manggil dia juga enggak masalah. Mungkin kamu lagi kangen sama dia."

Sambil menatap punggung Ilham yang tengah berjalan keluar dari kamar, aku menggerutu dalam hati. Masih menyangsikan bahwa aku meneriakkan nama Hito, padahal jelas-jelas aku ingat bahwa di mimpi itu aku menangis memohon pada Ilham untuk jangan pergi dariku.

Apa Ilham berbohong agar lebih mudah baginya untuk mendapat alasan lebih kuat menceraikanku? Kalau istri sudah berselingkuh, dan terlihat masih mencintai lelaki di masa lalunya, itu adalah sebuah kesalahan yang fatal dan hina. Iya, kan?

Kuhela napas dalam-dalam sambil menatap bubur ayam di dalam mangkuk ini. Aku duduk di atas kasur, dengan meja kayu kecil di atas pangkuanku. Aktivitasku tiap pagi selama sebulanan ini, sarapan sendiri di dalam kamar, tanpa Ilham yang sudah pergi kuliah selepas memasak untukku.

Kosong. Ya, sekali lagi aku merasakan kekosongan dalam hatiku, bahkan kini lebih parah. Jadi sepertinya benar, ya, kalau Ilham sudah muak denganku? Tanpa sadar aku tersenyum miris, lalu memasukkan sesendok demi sesendok bubur, sampai akhirnya makanan itu habis tanpa sisa.

Begitu makananku habis, kuletakkan begitu saja peralatan bekas makan itu di meja samping kasur. Biasanya Ilham akan membereskannya nanti siang. Selama seminggu ini memang dia menyempatkan diri pulang siang hari untuk mengantarkan atau membuatkan makanan untukku, serta membantu apa yang kubutuhkan, sebelum kembali lagi ke kampus sampai sore nanti.

Kami tak banyak mengobrol, dan dia pun tidur di sofa. Aku tak bertanya apa alasannya tak mau tidur bersamaku, karena aku yakin dia juga tak ingin menjelaskannya. Dan itu membuat rumah tangga kami mirip seperti daun kering yang sebentar lagi akan jatuh ke tanah.

Apakah nanti tepat di usia enam bulan, pernikahan kami akan berakhir?

Kututup wajah dengan kedua tangan saat mulai menangis. Aku rindu sekali dengan Ilham. Aku sangat mencintainya. Dan sungguh, aku tak menyesali hal itu sama sekali. Justru aku merasa tak pantas karena telah berani menaruh hati pada lelaki sebaik dia.

The Last Autumn [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang