Kematian Tomo menyisakan luka yang teramat dalam bagi Kaedehara Kazuha. Penyesalan demi penyesalan terus membayanginya, meratapi setiap kata yang pernah terucap sebelum sahabat sekaligus cinta pertamanya itu gugur di bawah tebasan Musou no Hitotachi...
Aku selalu menantikan sosok itu kembali. Sosok yang menyerupai orang yang kutemui dulu.
Kuni: "Mereka benar-benar mirip..."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
Waktu pun terus berlalu. Tak terasa sudah 3 tahun semenjak aku bertemu dengannya. Sosok itu tidak pernah lepas dari ingatanku, dan tanpa aku sadari, aku selalu mencari sosok dirinya di mana pun bahkan setelah aku bergabung ke Fatui.
Childe: "Yo Chibi, apa kau takut mengambil Gnosis The God of Thunder?"
Childe meledek Kuni yang kini telah mengubah namanya menjadi Scaramouche, dengan code name The Balladeer.
Scara: "Diam kau!"
Childe: "Uu~ takut~"
Childe tidak kapok-kapok menjahili Scaramouche. Scara yang muak dengan tingkah Childe kemudian melangkah pergi untuk melaksanakan misinya merebut Gnosis The God of Thunder atau Gnosis milik ibunya, Raiden Ei.
Signora: "Childe, jangan ganggu dia."
Childe: "Oi Chibi, bukankah kau sedang mencari seseorang?"
Scara: "Bukan urusanmu."
Signora: "Ooh~ aku dengar kau mencari seseorang yang berambut abu-abu dengan highlight berwarna merah di kepalanya?"
Childe: "Hm~"
Signora: "Ada apa?"
Childe: "Ciri-ciri yang kau sebut barusan terasa tidak asing di ingatanku, tapi aku lupa..."
Signora: "Di mana kau terakhir melihatnya?"
Childe: "Entahlah. Seingatku, aku bertemu orang seperti itu di Pelabuhan Liyue."
Scara yang masih belum pergi seutuhnya dari ruangan itu mendengar jelas percakapan mereka. Pintu terbuka dan ia segera melangkah keluar. Pintu tertutup rapat. Scara pergi ke kamarnya untuk memikirkan sesuatu yang nantinya ingin ia lakukan.
Scara: "Kalau yang dibilang si Kepala Orange itu benar, berarti sekarang dia berada di Liyue. Tapi misiku ke Inazuma... Apa yang harus kulakukan?!"
Scara dilema dan galau antara pergi ke Liyue atau ke Inazuma. Kedua tempat itu sangat berjauhan, dan Scara tidak bisa begitu saja mengabaikan misi utama yang diberikan oleh Tsaritsa.
Dottore: "Yo Chibi, apa kau siap menjadi objek eksperimenku hari ini?"
Scara: "Aah—"
Dottore seenaknya masuk ke dalam kamar Scara dan bertanya seperti itu. Pasalnya, sejak awal masuk Fatui, Scara telah menyetujui dirinya dijadikan subjek eksperimen oleh Dottore. Tujuan Scara menyetujui hal gila itu adalah untuk membuatnya menjadi lebih kuat demi mengalahkan ibunya.
Di Laboratorium Dottore...
Dottore memaksa Scara agar segera melepaskan pakaiannya. Dottore memegang kepala Scara dan perlahan melucuti pakaian yang dikenakan pemuda itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah pakaian Scara terlepas, terlihatlah kulit mulusnya yang bagaikan porselen walau terdapat beberapa luka bekas eksperimen sebelumnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dottore mulai memasukkan beberapa alat ke tubuh Scara, dan hal itu seketika membuat Scara menjerit kesakitan. Dottore yang berada di sana hanya tetap fokus pada dokumen di tangannya tanpa memedulikan penderitaan Scara.
Scara: "H-hei, berapa lama ini akan berlangsung?!"
Dottore: "Ooh~ tidak akan lama, kok. Sampai aku menemukan jawaban yang kucari darimu." (Tersenyum seringai)
Scara: "Sialan..."
Di sana, Scara hanya bisa menjerit menerima rasa sakit yang luar biasa hebat akibat alat-alat tersebut. Beberapa waktu kemudian, akhirnya eksperimen gila itu berhenti. Dottore menyuruh Scara kembali ke kamarnya. Scara hanya diam menuruti lalu memakai kembali pakaiannya.
Dottore: "Oh ya, sebelum kau kembali, ambil ini."
Dottore menyerahkan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat suntikan dan sebuah botol berisi cairan misterius.
Scara: "Apa ini?"
Dottore: "Sesuatu yang bisa memperkuat dirimu. Oh, dan ingat, kau hanya bisa menggunakannya sekali karena aku hanya membuat satu buah cairan saja."
Scara: "Ya, ya."
Scara keluar dari laboratorium dan berjalan kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, Scara langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan seketika tertidur karena kelelahan yang luar biasa akibat eksperimen tadi.