Ancaman Sang Dokter Gila

435 50 2
                                        

Keesokan harinya, Kazuha sudah memantapkan jiwa dan raganya untuk membalas dendam. Ia sudah berlatih dengan begitu giat, bahkan meminta tolong kepada Traveler untuk sparing dengannya.

​Traveler: "Ada apa tiba-tiba ingin sparing?"

​Kazuha: "Tidak ada apa-apa, hanya saja aku harus meluruskan tujuan awalku lagi."

​Paimon: "Memangnya apa tujuan awalmu?"

​Kazuha: "Aku hanya ingin menjadi lebih kuat agar aku dapat membantu orang yang membutuhkan."

​Meski Traveler mencurigai niat Kazuha yang sebenarnya, Traveler tidak berani bertanya dan hanya menuruti permintaan sparing dari Kazuha.

​Mereka melakukan sparing dengan intens. Traveler menyerang dengan cepat ke arah Kazuha, dan begitu juga sebaliknya.

​Traveler: "Kamu sudah banyak berubah, Kazuha."

​Kazuha: "Ini berkat dirimu juga."

​Selama sparing berlangsung, Paimon hanya berdiri di tepi sambil menikmati popcorn yang ada di tangannya.

​Author: (Lah... dari mana asal itu popcorn?! 😑)

​Paimon: "Hehe~"

​.
.

​Beberapa waktu pun berlalu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah, hingga berakhir bukan sekadar sparing biasa. Keduanya seperti sudah terbawa suasana sehingga mengabaikan apa yang ada di sekitar mereka.

​Heizou: "KALIAN BERDUA, HENTIKAN!!!!"

​Kazuha dan Traveler terkejut mendengar teriakan Heizou yang menyuruh mereka berhenti. Heizou menghampiri mereka, lalu memukuli kepala mereka berdua dengan kuat.

​Traveler: "Aduh!!"

​Kazuha: "Ukh-!"

​Heizou: "Apa yang kalian pikirkan, hah?!"

​Kazuha: "Kami hanya sparing."

​Heizou: "Sparing apanya?! Coba kalian lihat sekeliling kalian! Kalian menumbangkan beberapa pohon dan membuat takut hewan-hewan di sekitar!"

​Heizou tidak berhenti menceramahi Kazuha dan Traveler. Paimon yang biasanya langsung memotong pembicaraan pun tidak berani berkutik kali ini.

​Kazuha & Traveler: "Maafkan kami, kami salah..."

​Kazuha dan Traveler meminta maaf di saat yang bersamaan. Heizou yang melihat itu hanya menghela napas pasrah.

​Heizou: "Hah... sudahlah."

​.
.

​Kita lihat di sisi Scara...

​Kini Scara mengurung diri di kamarnya. Beberapa kali Childe memanggilnya, tetapi pemilik kamar tidak membukakan pintu, hingga akhirnya Childe pergi.

​Scara hanya terduduk di kasur dengan kondisi wajah pucat. Ia terus-menerus termenung dan tidak fokus pada apa yang sedang ia kerjakan. Bahkan di saat Dottore mendobrak masuk ke kamarnya, ia tidak bergeming sedikit pun, membuat Dottore bertanya-tanya.

​Dottore: "Aku tidak mengira jika Gnosis itu ada di tangan rubah pink itu. Kerja bagus."

​Scara: "....."

​Dottore: "Tugas kita sudah selesai, ayo pergi ke tujuan selanjutnya."

​Scara: "...Tidak."

​Dottore: "Hm?"

​Scara: "Aku tidak akan pergi."

​Dottore: "Apa maksudmu?"

​Scara: "Aku—"

​Dottore: "Jika kamu tidak pergi, aku akan melakukan sesuatu kepada 'kekasih'mu itu." (Tersenyum seringai)

​Scara: "Apa maksudmu?!"

​Dottore: "Kau kira aku tidak tahu ke mana saja kamu selama ini dan dengan siapa?"

​Scara: "Memangnya kau tahu apa tentangku?!"

​Dottore: "Kaedehara Kazuha."

​.
.

​Kini Scara beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri Dottore dengan raut wajah menahan amarah.

​Scara: "Jangan macam-macam kau!"

​Dottore: (Meringai) "Tergantung dirimu."

​Scara: "Cih! Baik, aku akan pergi setelah urusanku di sini selesai."

​Dottore: "Urusan apa lagi yang kau lakukan?"

​Scara: "Bukan urusanmu!"

​Setelah itu, Scara keluar dari kamarnya dan berjalan sejauh mungkin dari Dottore. Di dalam hatinya, ia merasa sangat cemas dengan perkataan yang dilontarkan Dottore tadi.

​Scara: (Cih, bagaimana orang gila itu bisa tahu?!)

​Sekarang Scara sangat gelisah karena hubungannya dengan Kazuha diketahui oleh Dottore orang paling gila yang pernah ia temui.

​.
.

​Scara: "Aku harus mengakhiri ini secepatnya..."




Bersambung~

Sorrow Deeper Than Death [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang