Kematian Tomo menyisakan luka yang teramat dalam bagi Kaedehara Kazuha. Penyesalan demi penyesalan terus membayanginya, meratapi setiap kata yang pernah terucap sebelum sahabat sekaligus cinta pertamanya itu gugur di bawah tebasan Musou no Hitotachi...
Wanderer membuka matanya, rupanya ia tertidur. Mood Wanderer langsung berubah ketika ia bermimpi tentang masa lalu.
Wanderer: "Sial... dari semuanya, kenapa harus-"
Wanderer menggantungkan kalimatnya. Ia kemudian berpikir untuk mengunjungi suatu tempat. Wanderer berbenah, kemudian pergi ke tempat Nahida untuk meminta izin berlayar. Nahida mengizinkannya, lalu menyiapkan kapal untuk Wanderer. Wanderer menaiki kapal tersebut dan berlayar. Selama perjalanan kurang lebih satu minggu, akhirnya Wanderer sampai di kampung halamannya, yakni Inazuma.
Wanderer: "Terima kasih atas tumpangannya, Tuan."
Tuan: "Sama-sama."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wanderer: "Akhirnya sampai juga."
Wanderer mengistirahatkan badannya sejenak, mencari kedai makanan untuk mengisi tenaga. Setelah selesai memulihkan energi, Wanderer kemudian kembali fokus ke tujuan awalnya.
Wanderer: "....."
Wanderer berjalan langkah demi langkah, dan kini ia telah sampai di bawah Narukami Shrine. Ia menyusuri pantai yang dilewatinya tersebut sampai melihat belokan kecil di sebelah kiri. Ia mengarahkan langkahnya ke belokan tersebut dan memasukinya.
Selama menyusuri gang tersebut, Wanderer hanya diam dan hanya terdengar suara langkah kakinya. Kini ia telah sampai di penghujung gang. Di ujung gang terdapat sebuah makam indah yang dihiasi kelopak bunga sakura di atasnya. Wanderer kemudian duduk dan mulai tersenyum kecil.
Wanderer: "Lama tidak bertemu..."
Wanderer mulai berbicara di depan makam tersebut, seolah ia sedang berbicara dengan seseorang yang membuatnya bahagia. Kata demi kata diucapkan Wanderer dengan penuh kelembutan. Saat berbicara, ia seperti seseorang yang sekali lagi merasakan apa yang namanya jatuh cinta.
Wanderer: "Seandainya kamu ada di sini, betapa bahagianya... Aku masih menyimpan kenangan saat kita bersama, Kazuha."
. .
Ya, benar. Makam yang indah itu ternyata adalah makam Kazuha orang yang ia cintai dengan setulus hati. Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, Wanderer tidak pernah melupakan perasaan saat kekasihnya itu terkena serangannya sendiri. Hal itu masih menghantuinya sampai saat ini.
Wanderer: "Aku akan hidup dengan baik, jadi-"
Suara Wanderer gemetar dan air mata terus mengalir. Ia terus menyesali perbuatannya di masa lalu. Namun kini nasi sudah menjadi bubur, dan suatu hal yang sudah terjadi tidak dapat kembali seperti dulu lagi.