29

5 1 0
                                        

hay guys, Da daten lagi wkwkwk gila dah lama banget ya book ini gak di buka 

hope you enjoyyy...

******


Aku keluar dari ruang kerja yang selama ini menjadi tempatku tidur. Entah kenapa aku tidak tertarik untuk tidur di salah satu kamar tamu, aku terlalu malas sendirian dan kesepian.

Sembari membenarkan letak jam tanganku aku menuruni tangga. Aku mengernyit bingung tatkala tak menemukan Sam yang biasa nya selalu menawariku Sarapan walau sama sekali tak pernah ku gubris. Kemana dia? Biasanya dia sudah siap dengan banyakknya hidangan yang tertata rapi di meja makan. Apakah dia sakit?

Eh, untuk apa aku mengkhawatirkannya, lagipula bukannya selama ini aku tidak memperdulikannya. Dan apa urusanku. Apa peduliku jika dia benar-benar sakit?

Entah apa yang ku pikirkan dan aku lakukan memang tidak singkron. Buktinya sekarang aku malah melangkahkan kaki ku menuju kamar yang dahulunya menjadi kamarku.

Tampak seorang perempuan yang terbaring nyaman disana. Wajahnya pucat dan sejak kapan pipi gembul favorite ku itu menirus?

Aku ingin memeluknya dan menanyakan kemana perginya pipi gembul penuh lemak itu, Namun lagi-lagi tubuh dan pikiranku tak singkron. Aku mendekatinya.

Namun bukan untuk memelukknya, melainkan hanya untuk menyibak selimutnya kasar juga meneriakki nya.

'' bangun pemalas! Kau pikir kau siapa- bisa berleha-leha di istanaku ini!''

Astaga bukan itu yang ingin ku katakana padanya.

'' aku sedikit tidak enak badan Max, biarkan aku istirahat sebentar saja yaa,..'' pinta nya memelas. Sungguh aku tidak bermaksud begitu.

'' bangun, buatkan aku kopi!'' Ucapku.

Matanya sempat melebar mendengar permintaanku, memang hampir satu tahun aku selalu menolak segala pemberiannya. Dan kini aku justru meminta sendiri pada nya.

Dia dengan segera bangkit dari tempat tidur, aku tak peduli lagi padanya yang penting aku sudah melihatnya bangkit dari tempat tidur. 

Dan dia baik-baik saja kan.

''brukk..'' suara sesuatu jatuh,

namun aku sudah terlanjur berada di bawah, entah kenapa aku malah terus melangkah ke meja makan, padahal hatiku ingin melihat apa yang tadi jatuh.


*****

Aku tersentak kaget kala ada yang menyibak kasar selimutku. Sungguh aku sedang amat sangat pusing.

'' bangun pemalas! Kau pikir kau siapa- bisa berleha-leha di istanaku ini!''

Aku memejamkan mata dan berusaha menabahkan diri. Suamiku itu, ah masih pantaskah aku mengklaim dirinya sebagai suami ku. Kepalaku berdenyut mendengar suara menggelegar miliknya. Dia, mengapa begitu tega denganku.

'' aku sedikit tidak enak badan Max, biarkan aku istirahat sebentar saja yaa,..'' pintaku perlahan, bahkan suaraku saja tidak keluar dengan sempurna.

'' bangun, buatkan aku kopi!''

Mataku melebar mendengarnya. Tak salahkah dengan apa yang ku dengar kini. Setelah satu tahun lamanya dia memintaku membuatkan sesuatu untuknya. Dengan sedikit percikkan semangat aku berusaha bangkit. Berusaha tidak mengecewakannya dengan sakitku kini. Walau aku benar-benar sakit sekarang ini.

Entah kenapa sejak kapan, namun aku yakin daya tubuhku menurun dari hari ke hari. aku harus kembali menjaga pola makanku. Aku sadar setelah menikah bahkan aku jarang sekali makan. Entah kenapa, meja makan rasanya hening sekali. Padahal bukannya aku harusnya terbiasa dengan keheningan. Bahkan sebelum hilangnya Letta aku sudah terbiasa mandiri. Dan menjalani hidup dengan kesendirian namun mengapa rasanya kali ini lebih sunyi. Lebih hening.

Aku berusaha berjalan walau lantai terasa bergetar. Sedikit lagi aku akan mencapai tangga saat tiba-tiba badanku oleng hinggga aku terjatuh. Kepala belakangku terantuk pinggiran meja, membuat nya menjadi lebih pusing. Aku melihat Pundak Max yang sdang menuruni tangga, kulihat dia terdiam sebentar sebelum akhirnya kembali menuruni tangga. Aku yakin dia mendengar suara tubuhku yang jatuh. Namun dia sudah sejijik itu hingga akhirnya terus melangkah tanpa mau menoleh sedikit kebelakang.

Aku tersenyum miris, berusaha bangkit dan kembali berjalan menuju dapur. Badan dan kepalaku memang sakit, namun apalah arti sakit fisikku yang tak sebanding dengan sakit hatiku.

Aku menyuguhkan secangkir kopi lalu berbalik menuju kamar, setidaknya aku sudah menghidangkan sandwich yang kulihat sudah hampir habis tadi. Sungguh badanku tak enak rasanya, belum lagi bagian kepala yang terantuk tadi. Rasanya sangat menyakitkan. Bahkan aku dapat merasakan keringat ku mengalir saking kutahan sakitnya.

''ssshhhhh''

Aku meringis saat sebuah tangan meraba kepalaku, entah mengapa rasanya amat menyakitkan. Hingga pandanganu mengabur dan berakhir aku yang menanti tubuhku membentur dinginnya lantai. 

********

Aku memakan sandwich yang terlebih dahulu di hidangkannya. Rasanya enak seperti biasa. Ahh.. sudah berapa tahun aku tidak memakan masakan-masakan enaknya. Memang egoku sangatlah tinggi  aku harusnya sedikit menguranginya.

Dia meletakkan secangkir kopi untukku, aku melihat wajahnya yang kian memucat. Nafasnya yang kian memberat  tak sedikitpun luput dari pengamatanku. Aku mengangkat cangkir kopi dan meminumnya. Rasanya memang enak. Entah kenapa rasanya berbeda dari kopi-kopi yang di buat karyawanku yang lain. 

Rasanya....

entahlah, aku tak bisa mendeskripsikannya.

Aku memandangnya yang sudah berjalan menjauh, sesuatu di noda punggungnya menyita perhatianku. Noda itu kian membesar, dan tampak sangat pekat di gaun putihnya. Tampak ada yang aneh. Segera aku mendekatinya. Dan menyentuh asal dari noda itu. Dia meringis sakit.

Aku melotot melihat tanganku yang penuh dengan darah. Ya noda itu adalah darah yang terus mengalir dari kepala belakangnya, lalu tanpa aba-aba dia ambruk dan untung saja aku sudah siap dan langsung membopong nya menuju kamarnya. Ralat kamar kami.

****


''bagaimana?''

''lukanya sudah di bersihkan juga kami tutup, seperti nya Luna terantuk sesuatu yang mengakibatkan kepalanya terluka untung saja beliau masih bisa kami tangani karena darahnya mengalir cukup banyak..........''

Aku tidak mendengarkan penjelasan dari dokter tersebut. Hanya perasaan bersalah yang menghantuiku. Bisa saja tadi dia terantuk saat jatuh dan dengan bodohnya aku malah tidak memperdulikannya. Dan justru malah menyuruhnya mmebuatkanku sarapan.

'' tubuhnya lemah sekali juga dia pasti sedang banyak pikiran itu bisa membahayakan calon bayi kalian karena....''

Tunggu apa katanya?

''calon bayi..? maksudmu dia sedang hamil? ''

''betul Alpha bukannya saya sudah memberi tahukan hal ini kepada anda barusan?''

Tanganku mengepal erat. Aku berdiri di samping kasurnya. Rasanya tidak karuan. Apakah dia tidak sayang nyawa? Menagapa dia hamil anakku? Bagaimana jika nanti yang dia kandung adalah calon alpha? Tubuh manusianya takkan kuat untuk menampung monster itu!

Aku melihat matanya mulai mengerjap. Lalu menggeleng dengan pelan, dan tangannya terangkat menghalau sinar matahari yang menyilaukan.

''Max..'' ucapnya parau. Dia terseyum menatapku. Tapi tentu aku takkan membalasnya sekarang, dia harus menggugurkan kandunganya itu.

''gugurkan kandunganmu itu'' 


tandai typo!

jogjakarta, 22-01-2023

Eclipse (HIATUS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang