Sebelum kulanjutkan siapa Andi dan apa yang terjadi hari itu, biar aku ceritakan lebih dulu dari mana kerumitan ini dimulai. Semua diawali dari ibuku yang materialistis.
"Nggak ada pilihan lain! Kamu tahu, kan, jualan Ibu lagi sepi?" ucap Ibu.
Nasi goreng di mulut mendadak berubah rasa. Tak bisakah ia menunda omong kosong ini sampai aku menyelesaikan santapan pagi?
Aku enggan menjawab, hanya menatap lamat-lamat mata penuh keriput di sekitarnya itu. Aku mempertanyakan, mengapa wanita di hadapanku ini lebih sibuk memikirkan isi saku dibanding berapa amalan yang akan ia bawa nanti, mengingat keriput di tangan sudah menunjukkan limit usianya.
Aku tak sepenuhnya heran melihat Ibu berperangai demikian. Ia selalu mendongeng tentang masa kecilnya yang begitu menyedihkan. Keluarga Ibu tidur berpelitakan petromaks yang mati tengah malam saat minyak sudah habis atau cerita mengenaskan lainnya. Saat ia harus makan nasi kemarin yang sudah berlendir dan esok hari terbaring di kasur merasakan perut melilit. Sebenarnya lebih banyak lagi hal yang menyangkut di telinga. Cerita-cerita itu berdendang saat malam tandang dan kami dikumpulkan hanya untuk menjadi pendengar seseorang yang iner child-nya terluka. Aku dan Sekar berusaha untuk tidak menguap, karena terkadang cerita yang sama mendendang berulang hingga alam bawah sadar anak-anaknya merekam tanpa diminta.
Ya, Ibu bukan berasal dari keluarga aristokrat, tetapi berhasil menjadi seorang ningrat setelah dinikahi ayahku. Setidaknya wanita yang melahirkanku itu pernah merasakan hidup nyaman selama menjadi keluarga besar Hadiwijaya. Baju beranded, make up high end, isi ATM yang tebal, dan banyak lagi hal yang membuat ibu kalap untuk menikmati itu tanpa batas. Tentu saja Hadiwijaya semakin membenci wanita yang ia klaim sebagai wanita jalang, miskin dan pemalas. Alhasil setelah Ayah meninggal, tepatnya saat usiaku tujuh tahun dan adikku Sekar baru lahir, hidup Ibu berubah.
Keluarga Hadiwijaya tak menginginkan Ibu lagi. Ah ... ralat! Sedari awal orang tua Ayah memang tidak menghendaki kehadiran Ibu. Bagi mereka, wanita miskin beruntung itu hanya ilalang yang harus ditebas karena merusak pemandangan indah. Lantas, keluarga Hadiwijaya berhasil memenggal habis kami yang mereka anggap gulma setelah tidak lagi memiliki penjaga. Malang nian nasib itu. Ya! Nasib Ibu! Bukan nasibku!
Sebagai wanita dari trah bawah yang berkesempatan hidup bak tuan putri di keluarga Hadiwijaya, kembali terpelanting ke posisi semula, tentu bukan hal yang bisa Ibu terima dengan mudah. Banyak perlawanan mengisi hari-harinya. Aku saksi bahwa pernah ada wanita yang bersujud di kaki lelaki tua itu agar tidak ditiadakan keberadaannya di istana Hadiwijaya. Lagi-lagi tentu saja Hadiwijaya tak membiarkan kakinya menjadi pengangguran. Tendangan kaki keturunan dajal itu membuat kepala ibu tersungkur hinga pelipisnya mandi darah. Aku menangis, disusul Sekar di atas granit dingin beralaskan selimut bulu.
Meski demikian memilukan histori hidup Ibu, menggunakan anak untuk mendapatkan kembali secuil harta Hadiwijaya, menurutku kurang beradab dan yang pasti Ibu tak punya harga diri!
Berbanding terbalik dengan Ibu, aku justru bersyukur lelaki tua itu mengusir kami saat usiaku menginjak sepuluh tahun. Aku tak perlu lagi merasakan sesak acap kali netra bersirobok dengannya. Aku tak perlu lagi mengutuk, semoga ia cepat mati dan jasadnya segera dilahap ribuan belatung. Aku juga bisa lebih mudah mengubur yang harus kututup rapat-rapat. Hingga akhirnya dua hari kemarin, melalui beberapa carik kertas yang Ibu sodorkan, aku mendapati kenyataan bahwa oksigen kebebasan itu rasanya akan kembali tersita.
"Ayo dong, Ra. Kamu pikir makam Ibu nanti nggak butuh biaya? Kamu pikir banyak yang bisa Ibu tinggalkan untuk kamu dan Sekar?" ujarnya, terlihat putus asa. Entah mengapa, aku merasa ekspresi itu penuh pura-pura.
Lihat! Manusia serakah bahkan masih mengingat dunia di saat seharusnya ia memikirkan bagaimana cara menjawab Munkar, Nakir.
Kakek? Aku tertawa dalam hati. Bisakah jangan sebut Hadiwijaya dengan ... Kakek? Bahkan, untuk dikatakan sebagai manusia saja aku sangsi. Perutku mendadak mual hanya karena mendengar namanya.
Sayangnya, sekalipun aku memecahkan piring hari ini, Ibu akan tetap tutup telinga seperti saat tragedi itu terjadi.
Ibu melipat kembali surat perjanjian di atas meja, tanda obrolan ini sudah tutup buku. Seperti biasa, jawaban "ya" ataupun "tidak" dariku tak memengaruhi apa pun yang akan dia tentukan. Ah, ya, aku hampir lupa. Ibu melahirkanku, sepaket dengan kepatuhan yang tidak bisa diganggu gugat.
Ketika Ibu hendak mengangkat bokongnya dari kursi, suara sendok diadu dengan piring nyaring terdengar. Orang di sampingku memegang ujung sendok dengan posisi mengepal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semicolon
Mystery / ThrillerSetelah kematian Ayah, petrikor menjadi aroma yang kubenci. Bagiku, aroma tersebut seperti kutukan yang selalu menggandeng kejutan yang tak pernah kuminta. Seperti saat ini, setelah malam kemarin ia bertandang, esok harinya aku disuguhkan oleh jasad...
