Bab 25

54 8 0
                                        

Aku bersikeras bahwa ada lelaki bersamaku di tempat ini. Namun, berapa kali pun aku ngotot, sebanyak itu pula Mbok Yum menyangkal.

"Yang suka pake celana bolong lututnya, Mbok." Aku menjelaskan dengan bahas lebih dimengerti. Barangkali Mbok Yum lebih bisa mengidentifikasi. "Dan selalu pake houdi warna hitam. Gambar tengkorang."

Mbok Yum malah menggaruk tengkuknya.

"Dia selalu datang setelah Nara makan di sini. Mbok Yum nggak lihat?"

"Mbak Nara selalu sendiri. Ngomong sendiri. Ketawa sendiri." Jawaban Mbok Yum membuat mulutku bungkam.

Di titik ini tubuhku terasa akan ambruk. Kepala pusing bukan main, sampai aku harus izin pulang lebih awal karena mualnya begitu menyiksa. Jadi, alasan semua orang memperhatikan selama ini bukan karena perdebatan kami melainkan aku melakukan hal aneh? Demi Tuhan! Aku normal! Waras! Hanya sedang sial karena bertemu dengan hantu bernama Sam.

Ya. Aku tak gila. Sam adalah hantu. Sialnya di tempat itu hanya aku yang bisa melihat.

Setiba di kontrakan, pemaparan Mbok Yum terus saja terngiang di kepala. Tak mungkin aku berhalusinasi. Sam benar adanya. Sam nyata, terlepas dia hantu atau bukan. Seharusnya lelaki itu manusia sungguhan. Manusia yang memang Hadiwijaya perintahkan. Atau jangan-jangan, justru Mbok Yum salah satu manusia bayaran Hadiwijaya untuk mengecohkan semuanya. Astaga! Kenapa aku jadi menuduh semua orang di sekeliling adalah impostor?

Meski pikiran semrawut, aku tetap memenuhi pinta Sekar menemui Ibu. Katanya ada sesuatu yang gawat. Walau setengah durhaka, bukan berarti aku abai terhadap tanggung jawab pada wanita yang sudah bersedia membuka kedua pahanya untukku dua puluh lima tahun lalu. Walau bagaimanapun aku tak lupa bahwa Ibu pernah juga ada menggoreng putih di antara ceceran hitam di hidupku.

Sesuai kataku dulu pada Andi. Bukankah di dunia ini anak durhaka lebih santer dibanding orang tua yang durhaka? Barangkali hal ini yang membuat aku masih bisa berbaik hati.

Setiap ceramah yang tak sengaja sampai di telingaku, penyampaian agungnya seorang Ibu terus diorasikan. Sayangnya, tak ada penyampaian bagaimana menjadi Ibu yang baik. Alhasil banyak orang beragama tanpa ilmu, kemudian semena-mena. Merasa diri agung, namanya dicatut dalam kitab suci.

Dan di sisi ljg akibatnya, aku, dalam menjalani peran sebagai anak terus merasa haus akan validasi untuk menjadi anak terhormat. Alhasil ketika aku merasa perlu menarik diri, doktrin anak durhaka terus saja menganggu kalbu. Alhasil seperti ini lah aku, hanyut tak ke mana. Di sana-sana saja.

Kehidupan Ibu kini jauh berbeda. Pengharapannya untuk tinggal di istana berubah menjadi kehidupan dalam sebuah penjara. Lapangan dikelilingi terali panjang membuat Ibu terlihat jauh lebih menyedihkan. Semua orang di sana mengikuti instruksi pemimpin senam. Ada yang berjoget tak tentu arah, ada yang mengikuti dengan gerak sedikit mirip, ada pula yang hanya diam, mematung dengan pandangan kosong. Yang terakhir itu ibuku.

Aku melihatnya dari balik jeruji. Kupandangi wajah Ibu. Ia wanita yang dahulu sering mengabaikanku. Kenapa aku tak bisa membenci, tetapi juga tak bisa mencintai begitu dalam? Ada perasaan asing yang tak bisa aku jabarkan. Mungkinkah ini karena terus dihujani pepatah bagaimana menjadi anak yang tak durhaka. Atau memang begini naluriah anak yang terombang-ambing antara norma, cinta dan benci?

"Mbak." Sekar menepuk punggungku.
Aku menoleh.

"Ibu ngamuk. Tadi hampir nusuk salah satu pasien di sini."

"Kenapa?" Aku tak mengerti harus berekpresi seperti apa lagi.

"Sekar nggak tahu, Mbak. Kami juga nggak tahu Ibu dapat pisau dari mana. Sekar baru datang, tahu-tahu sudah ramai di lapangan."

"Lalu?"

"Masalah itu udah aman. Ada yang lebih gawat," ucap Sekar.

"Masalah apa?"

"Tagihan Ibu di RSJ ini sudah harus dibayarkan."

Aku baru ingat kalau kami tidak memiliki asuransi kesehatan. Di pekerjaan juga. Perusahaan hanya mendaftarkan kartu ketenagakerjaan. Minus jaminan kesehatan. Cerdas memang pemilik toko ini. Dia enggan mengeluarkan lebih banyak tunjangan.

"Tadi Sekar sempat minta keringanan. Minta Ibu dipulangkan juga. Nanti tagihan makin membengkak kalau Ibu tetap di sini, sedangkan kondisi keuangan kita udah sekarat, Mbak. Tapi, pihak rumah sakit menolak. Alasannya, Ibu sudah ada di tahap membahayakan diri sendiri."

Aku mengerti, kenapa pihak rumah sakit meminta Ibu tetap tinggal di sini. Penanganan mental masih awam di masyarakat. Pemikiran bahwa orang sakit jiwa atau ODGJ harus dijauhi akan membuat kondisi Ibu makin parah. Belum lagi banyak kasus di luar sana yang memasung anggota keluarganya karena dianggap membahayakan. Barangkali itulah alasan terkuat pelarangan tersebut.

"Ibu tetap di sini. Ke depannya kita urus asuransi." Aku membuat keputusan. Memang pada dasarnya kita tak bisa melakukan apa-apa lagi, selain membuat wanita tua itu sembuh. Kita memang tak memiliki pilihan lain, bukan?

"Terus, sekarang bagaimana?" tanya Sekar. "Biayanya cukup besar."

"Selama ini kamu bayar pakai apa, Dek? Kan, uang dari Mbak cukup buat kalian makan saja."

Sekar menggigit bibir. Ada gelisah yang tergambar di wajahnya. "Ibu punya tabungan, Mbak. Ibu punya emas yang dia simpan di kamar. Sekar pakai itu sebagian. Masih ada sebagian lagi."

"Kita pake itu dulu."

"Tapi, kalau Ibu sehat nanti, Sekar takut Ibu bakal balik sakit kalau tahu emasnya habis."

Aku tertegun. Sekar benar, tetapi tak ada pilihan lain. "Mbak akan ganti emas Ibu nanti. Sekarang yang penting Ibu dulu. Jangan mikir yang lain."

Aku bergegas pulang. Tak menunggu lagi, segera aku masuk ke kamar Ibu, mencari simpanan yang Sekar bilang. Di dalam lemari, ada sebuah kotak yang kurasa tempat penyimpanan perhiasan. Namun, yang mengusik penasaranku adalah map di bawah tumpukan baju Ibu. Map dengan cap rumah sakit. Rasa penasaran bagai magnet yang tak bisa aku hindari. Kubuka map itu. Begitu aku baca, tubuh lemas seketika.

Ternyata ....

"Benar, Nara? Dia mati?"

"Udah Ibu tebak. Huh, baguslah! Tanpa disuruh, dia melakukan tugas dengan semestinya."

Seketika dua kalimat Ibu itu terngiang di ingatan. Tubuhku mendadak kaku, akan tetapi bibirku gemetar hebat. Kubaca sekali lagi surat ber kop tersebut, tak ada yang berubah dari informasi yang disampaikan.

Kini aku setengah mengerti. Hampir separuh dari kolase mulai terangkai. Kebinganku seakan terjembatani, meski beli tentu betul. Sekarang aku tak lagi kebingungan  ketika segalanya bisa dirangkai melalui secarik kertas yang memberiku fakta sedemikian terangnya.

Ada keterbukaan mengapa Sekar demikan memohon agar Dita tetap hadir di hidupnya. .

Air mataku mengalir dalam diam. Hanya gemetar tangan yang menandakan berapa aku teramat terguncang dengan ini semua.

Fakta ini memberitahuku bahwa....

Ya aku harus menemui seseorang.

SemicolonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang