“Seorang mahasiswi melaporkan kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh orang misterius di daerah Bekasi Timur pada Minggu malam. Korban mengaku dibius, kemudian dibawa ke sebuah rumah kosong. Sampai saat ini, kasus tersebut masih ditangani pihak kepolisian dan identitas pelaku masih belum diketahui.”
Aku menonton berita itu dengan perasaan skeptis bahwa kasus akan terselesaikan. Pertama, menemukan identitas misterius bukan perkara mudah. Terlebih wanita yang mengaku korban tidak melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Kedua, sudah bukan rahasia umum bahwa kasus rudapaksa di negeri ini masih disepelekan. Dalih tak ada saksi akan melemahkan penyidikan. Kasus hanya jalan di tempat.
Suara pintu ditendang terdengar. Ibu datang dengan rambut berantakan. Sejak kejadian kemarin di rumah Hadiwijaya, Ibu memang tidak pulang. Hari ini ia pulang, berpenampilan seperti gelandangan.
Sudah bisa diprediksi kalau yang aku pikirkan pasti bakal terjadi. Ibu berjalan cepat, lalu menjambak rambutku. Ibu pikir, aku akan berhasil ia pelantingkan ke lantai, seperti saat Andi ke rumah dulu. Ia salah! Kali ini aku lebih berani dari yang ia kira. Aku meraih tangannya yang sedang memegang erat pangkal rambutku.
“Anak sialan! Nggak tahu terima kasih!” teriaknya. Napas Ibu menderu.
“Selama ini Nara nurut sama Ibu. Satu yang ada di pikiran Nara. Kalau Nara pergi, apa Allah bakal kasih Nara keberkahan? Meski Ibu nggak pernah ngajarin soal agama, Nara nggak sepenuhnya buta. Nara tahu, apa hak dan kewajiban kita sebagai ibu dan anak. Nara nggak mau hidup Nara celaka karena buat Ibu kecewa. Tapi, sekarang Nara tahu, bukan cuma anak yang bisa durhaka. Ibu juga bisa.”
Perlahan, aku menarik tangan Ibu dari rambutku. Terkesima, ia terdiam seraya menatap tak percaya bahwa putrinya bisa berkhotbah seperti ini.
“Tentang hak dan kewajiban, Nara pikir sudah melakukan kewajiban Nara sebagai anak. Sekarang waktunya Nara nagih hak Nara sama Ibu. Mana hak Nara, Bu?”
Ibu bergeming.
“Dari kecil Ibu cuma nuntut hak Ibu. Mana hak Nara, Bu?” Nadaku makin tinggi.
“Nara pernah bilang kalau bapak mertua Ibu itu predator. Tapi, apa reaksi Ibu?” Dulu aku tak berani mengeluarkan keresahan ini. Karena kepedihan sudah bertumpuk, aku tak bisa lagi menahan. Kutatap mata Ibu dengan makin berani.
“Ibu tahu apa arti mi instan kemarin? Itu simbol bahwa kita itu kelas rendahan di mata Hadiwijaya. Dia sengaja nyuruh kita berdandan anggun. Dia sengaja ngasih hidangan itu. Sampai di sini Ibu paham kalau dia lagi lecehin kita?”
Ibu masih diam di tempat.
“Nara minta maaf. Karena ulah Nara, Ibu jadi gagal masuk ke rumah itu lagi. Tapi, Bu, demi Tuhan ... tanpa rumah itu kita masih bisa hidup bahagia. Ibu, Nara, Sekar, cuma perlu mensyukuri yang sudah kita miliki. Tolong, Bu. Kali ini Nara minta tolong sama Ibu buat ngertiin kami, anak-anak Ibu.” Di bagian ini, aku bersimpuh.
Entah karena sadar atau muak mendengar ceramahku, Ibu pergi tanpa sepatah kata, mengabaikanku yang sedang membungkuk di bawah kakinya.
“Masih di Bekasi Timur, Pemirsa. Satu jasad ditemukan dengan kondisi alat kelamin terpotong. Jasad sudah dibawa ke RSUD Kota Bekasi untuk dilakukan visum.”
Refleks, aku bangkit dan mendekati televisi. Apa sedang tren, membunuh dengan memutus alat kelamin?
Begitu layar TV menampilkan tempat kejadian perkara, aku mengerutkan kening. Makin kusipitkan mata, aku makin yakin bahwa tempat ditemukannya jenazah merupakan tempat yang sama dengan taman yang aku singgahi kemarin. Tempatku bertemu dengan si codet.
.
.
.
.
Sepertinya, buku cetak masih lama nih. Jadi sekarang temen-temen mau tetep lanjut cerita ini, dan yang dapat GA bakal dapat hadiahnya telat. Atau cerita ini dilanjut nanti aja pas bukunya yang buat GA udah ada?
KAMU SEDANG MEMBACA
Semicolon
Misterio / SuspensoSetelah kematian Ayah, petrikor menjadi aroma yang kubenci. Bagiku, aroma tersebut seperti kutukan yang selalu menggandeng kejutan yang tak pernah kuminta. Seperti saat ini, setelah malam kemarin ia bertandang, esok harinya aku disuguhkan oleh jasad...
