Pertama kali aku melihatnya, tubuh anak itu teramat kurus. Tulang selangkanya nyaris terlihat. Matanya cekung dengan lingkar bola mata yang hita. Kulitnya pucat. Dia teramat ketakutan.
Aku hidup dari pikiran manusia yang menciptakan sosok pelindung. Dita memang bisa menjadi Ibu untuk melindungi anak itu secara psikologis. Namun aku tidak. Aku melakukan apa yang Nara ingin lakukan, tetapi tidak ia bisa lakukan.
Hari itu kala pertama kalinya Nara berduka di tengah petrikor, itulah kali pertama Nara menciptakanku. Gadis malang itu sedang membayangkan bahwa ia menusukkan sebilang pisau tepat di dada tua bangka itu. Setelahnya, dia ingin memotong alat kelamin Hadiwijaya untuk dia simpan sebagian tropy bahwa dia berhasil melawan moster paling mengerikan di dunia ini. Hal yang tentu saja tidak bisa ia lakukan.
Sejak saat itu, aku hidup di kepalanya. Aku Sam, si pelindung Yunara, gadis bodoh yang tak bisa mengambil keputusan. Sering kukatakan tentang ketololannya pada Yunara.
Bodoh. Tolol. Goblok. Kata-kata mutiara itu kesematkan di belakang namanya. Nara hanya terdiam tatkala aku merendahkannya.
Aku datang di saat ia butuh perlindungan. Namun, terkadang tanpa undangan Nara, petrikor menjadi alarm pemanggilku dan pelecehan seksual seperti aroma darah yang lezat untuk aku tandangi. Seperti misalnya hari itu, kala wanita bernasib sial dikuntit oleh predator, aroma kejahatan sampai di indra pencimanku.
Siang itu, kunahkodai tubuh Yunara. Kuikuti dan melakukan apa yang seharusnya aku lalukan. Hujan selesai, sisa aroma petrikor menipis, dan di sanalah untuk pertama kalinya aku memengizkannya melihatku, alternya.
Aku membenci pelecehan. Isi kepalaku adalah isi kepala Yunara. Maka ketika Andi memulai aksinya, kembali aku datang untuk melindungi.
Kala jemari Andi memegang pipi, bergeser ke bibirku dengan gerakan sensual. Bodohnya, ia tak mengetahui bahwa aku tak mungkin mengeluarkan ekspresi binal macam ini. Andi laksana kuda yang baru keluar dari kandang, panas dan liar. Ia angkat tubuh yang sedang kunahkodai ke atas meja. Mencumbu wanita bertubuh mungil ini pasti niatannya sedari awal.
Begitu tangan Andi hendak menyusup ke paha Nara, aku bersuara, “Kamu menyukai permainan yang biasa seperti ini?”
“Gaya apa yang kamu minta? Aku sanggup,” tantang Andi. Sombongnya pejantan binal itu.
An
Aku menyeringai. Dengan segenap tenaga, aku mengambil alih posisi. Ia pikir aku penyuka sesama jenis? Aku bahkan muak melihat air liurnya menetes saat melihat tubuh Nara yang kini tampak seksi. Aku menekan tengkuk Andi di atas meja, hingga kepalanya menempel di sana.
“Kamu pencinta BDSM?” tanya Andi.
“Aku bisa mengikuti gayamu.”
Selanjutnya, tak ada lagi desahan. Hanya ada bau anyir serta pekikan yang keluar dari mulut Andi. Ia terkulai, sekarat, lalu mati. Sebagai penutup, aku membuka celananya sambil menyeringai.
“Siapa pun yang mau merusak Nara, harus berhadapan denganku!”
Dan tropy keberhasilan sudah kugenggam. Darah bersimbah, bau anyir menyeruak. Aku tertawa puas. Oh lihatlah, Nara. Begini kan yang kamu mau? Seharusnya bukan tanganku yang melakukannya, tetapi tanganmulah yang memerdekakan dirimu sendiri. Seharusnya kamu melakukan hal ini pada hadiwijaya.
Kini aku berada tepat di depan wajah Sekar. Hendak kuberiperingatan wanita itu agar tak mengganggu Nara.
Nara adalah hidupku. Aku akan tetap hidup di dalam tubuhnya. Sampai akhirnya ....
"Sam aku maafkan semuanya."
Sial! Kalimat itu seperti mantra yang bisa merontokkan entitasku. Ku turunkan
KAMU SEDANG MEMBACA
Semicolon
Misterio / SuspensoSetelah kematian Ayah, petrikor menjadi aroma yang kubenci. Bagiku, aroma tersebut seperti kutukan yang selalu menggandeng kejutan yang tak pernah kuminta. Seperti saat ini, setelah malam kemarin ia bertandang, esok harinya aku disuguhkan oleh jasad...
