Dengan telaten New mengobati luka di kaki Gun, ternyata anak itu tidak hanya terkilir tapi juga terluka. matakaki kaki kanannya membengkak dengan luka kecil diatasnya. kini kaki kanan Gun sudah di obati dan di perban dengan rapi, Gun terduduk dipinggir tepat tidur sembari memperhatikan New yang tengah membereskan barang-barang P3K.
setelh selesai berberes New memberi Gun kacamata baru, yang memang sengaja disiapkan untuk siswa yang kesulitan dalam penglihatan.
"-4D kan?" tanya New sembari memasangkan kacamata baru pada Gun.
"gimana?" tanya New penasaran.
"ba-bagus k-kak, G-gun su-ka" jawabnya semangat
"Te-teri-ma K-kasih, ka-kak New..." sambung Gun dengan senyum secerah matahari pagi membuat New ikut tersenyum memandangnya
New mengangguk pelan lalu duduk didepan Gun "sama-sama, Gunnie..." ucapnya seraya merapikan anak rambut Gun yang menutupi dahi anak itu.
"G-Gun-nie?" tanya Gun merasa heran
"kenapa? kamu nggak suka kakak panggil gitu?" tanya New sedikit kecewa. senyum dibibir Gun makin mengembang lebar, lalu anak itu menggeleng dengan semangat
"G-Gun Su-suka...." ucanya lalu tanpa sadar merentangkan tangan memeluk New. Gun memang suka berpelukan. dulu saat masih kecil Gun ingat, dia pernah bermain ala teletubies bersama Tay dan 2 teman Tay, mereka suka berpelukan. mungkin ini adalah satu-satunya kenangan lama yang masih bisa diingat Gun selain kepergian sang papa tersanyang.
New bangun lalu mengusap lembut punggung Gun dan saat itu, New menemukan selembar kertas yang tertempel dipunggung adik kelasnya. dengan cepat New mencopotnya
"gue anak pungut, please julidin gue!" New membaca isi kertas yang tadinya tertempel dipunggung Gun.
"Brengsek! siapa orang jahat yang udah nempelin ini kepunggung Gun? liat ajah kalau sampai gue nemu orangnya, bakalan gue patahin lehernya" ucap New gemas sekaligus emosi, jangan dianggap remeh, New ini salah satu anggota life skill Karate.
Gun mencoba berpikir, dan kini pikirannya jatuh disaat Off dkk menghampirinya saat dirinya tengah memperhatikan banner gambar Tay didekat ruang musik. dan Gun yakin pasti Off yang melakukannya sebab tadi kakak kelasnya itu yang menyempatkan diri menepuk punggungnya, pasti disaat itu Off melaksanakan niat buruknya.
kenapa ada saja yang ingin Gun tak betah disekolah ini, padahal Gun sangat ingin menikmati masa-masa sekolah bersama teman-teman sebayanya.
***
Gun kembali kekelasnya
"Baik anak-anak.... sebelum ibu memulai pelajarn kita hari ini, ibu ingin bertanya, siapa disini yang belum mendaftar kelas life skill?" tanya Guru wali kelas Gun yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia.
pelan Gun mengangkat tangannya, Gun menoleh keseluruh kelas, dan ternyata hanya dirinya yang mengangkat tangan. Gun kembali mengelus kaki kananya saat nyeri dibawa sana kembali mereyangnya.
"Gun? kenapa kamu belum mendaftar kelas life Skill? apa kamu lupa hari ini adalah hari terakhir pendaftaran?" tanya Bu wali kelas.
Gun menggeleng sebagai jawaban "Gu-gun su-sudah men-daf-tar, t-tapi n-nggak a-ada ya-yang te-te-rimah....." jawabnya pelan dan tergagap. setelah mengatakannya seisi kelas kompak tertawa kecuali wali kelas mereka
"yah mana ada sih yang mau terima anak cacat modelan kek loe...? hello... mimpi loe..?" tanya Jane sarkas. lagi-lagi Gun ditertawakan sampai puas
"Tenang anak-anak!!" pintah Bu Jennie sembari mengetuk papan tulis dengan spidol, kelas berangsur hening, hanya tertinggal bisik-bisik dan kekehan kecil yang ditahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
G U N
FanfictionBahagia itu milik siapa? kesedihan juga milik siapa? aku? dia? kami? ataukah mereka? Bukan Gun namanya kalau tidak menuruti permintaan Tay, Kakaknya, termasuk dia harus menyembunyikan identitasnya sebagai adik Tay dari semua orang. sampai Off Jump...
